Bereaksi pada Patah Hati agar (Tidak) Cepat Pulih

Pada setiap fase pertumbuhan mental atau fisik, ada satu pertanyaan besar yang mendefinisikan keresahan terpenting kita pada fase tersebut. Seiring dengan kita yang makin tumbuh, physically and mentally, pertanyaan itu satu-persatu mulai terjawab, untuk kemudian dengan tahu yang baru, muncul pertanyaan lain pada saat kita naik ke fase pertumbuhan lainnya.

Siklus tersebut akan terus berulang. Banyaknya pertanyaan yang terselesaikan akan selalu berbanding lurus dengan tanya-tanya baru yang bermunculan. Semakin banyak pertanyaan yang kita arsipkan dengan label ‘terpecahkan’, maka kita semakin matang.

Salah satu pertanyaan yang pernah menjadi penasaran besar saya adalah: “Bagaimana bisa seorang manusia membenci, atau sebaliknya: menyukai (untuk tidak menyebut mencintai) orang lain yang bahkan, belum pernah ditemuinya secara fisik?”

Bagi si Pecinta, manusia yang ia kasihi tidak memiliki kebenaran objektif. Ia sebagai tokoh dalam kisah asmara si Pecinta hanya terwujud dalam bentuk bayang-bayang berbahan prasangka dan asumsi yang dibangun dalam kepalanya sendiri.

Lalu, si Pecinta ini dalam satu waktu akan menjadi musuh sekaligus sekutu bagi pikirannya sendiri. Ia akan bahagia dengan kisah-kisah dan banyak harap rekaannya yang tidak pernah terjadi di dunia nyata. Sementara di ruang lain, pikirannya membayangkan berbagai peristiwa sedih, harap yang kandas, kasih yang tak sampai, rasa yang tak terucap, cinta yang tak berbalas, yang semuanya juga sebenarnya belum terjadi.

Energi orang-orang yang demikian akan habis, untukmengurusi hal-hal yang tidak pernah menjadi realita sungguhan di depan matanya, pikir saya kala itu. Lalu hingga suatu ketika, saya membaca pemikiran serta analisa Prof. Yuval Noah Harari dalam Sapiens dan Homo Deus-nya.

Mencintai orang yang tidak pernah hadir di samping kita secara fisik itu masih akan terus menjadi suatu hal yang mungkin dilakukan dan masuk akal selama manusia juga masih mempercayai uang sebagai alat tukar, demokrasi sebagai sistem yang mendistribusikan kebebasan secara merata kepada seluruh manusia, dan negara sebagai entitas pemersatu orang di suatu wilayah untuk menjamin kesejahteraan rakyatnya.

Hal-hal di atas juga tidak memiliki kebenaran objektif. Mereka menjadi ada karena di atas bumi, milyaran manusia mempercayai dan setuju atas keberadaannya secara bersamaan. Kemampuan manusia untuk memikirkan dan membicarakan hal-hal yang tidak terwujud secara fisik itulah yang kemudian membuat kita dapat bekerja sama secara efektif. Lalu dengan rentang waktu yang amat singkat, kita bisa mengungguli semua makhluk hidup lain di bumi yang tidak memiliki kemampuan serupa.

Kemampuan tersebut juga memungkinkan kita mencitai entitas lain, yang meski wujudnya sebagai manusia memang ada, tetapi tidak pernah menjadi kebenaran objektif di depan mata kita. Seorang ibu yang meninggal saat melahirkan tetap bisa menerima rasa sayang dan doa penuh cinta dari anak tersebut yang bahkan tidak pernah melihatnya. Anak itu, membangun bayangan sosok ibu di dalam kepalanya melalui cerita-cerita yang sarat dengan sensasi emosional dari kerabat dan anggota keluarga yang lain.

Nah, sensasi-sensasi emosional serupa lah yang membuat kita akhirnya juga bisa mencinta tanpa keberadaan fisik.

Dengan teknologi komunikasi yang kian hari makin canggih, pertukaran sensasi emosional juga semakin mudah. Pada zaman dulu, orang yang menjalani long distance relationship harus berkirim surat, menghadapi kemungkinan suratnya tidak pernah sampai ke alamat yang dituju, dan menunggu dengan sabar selama belasan bulan untuk menerima balasan. Meski intensitasnya rendah, namun rasa yang dipupuk dengan harap, ragu, dan penantian itu sepadan dengan sensasi emosional yang besar pula saat surat balasan akhirnya kembali ke tangan si Pecinta.

Hari ini, sensasi emosional datang dalam paket-paket yang lebih kecil: chat whatsapp yang cepat dan bahkan bisa menghubungkan dua zona waktu pada satu waktu yang sama, instastories, suara di ujung telepon, foto serta video yang saling dikirim melalui bilangan-bilangan binary, dan lainnya.

Seberapa kecil paketnya, melalui apa pun mediumnya, sensasi emosional tetaplah sensasi emosional. Di hati dan kepala kita, sensasi-sensasi tersebut mampu membangun cerita, membentuk karakter seorang tokoh, dan memberi rasa sedih patah hati sekaligus letupan bahagia tanpa harus ada suatu wujud fisik.

..

Harus diakui bahwa saat ini, saya sedang patah hati.

Mengakui keberadaan masalah dan tidak lari darinya selalu menjadi langkah pertama saya untuk pulih. Dan bodohnya, saya patah hati karena hal yang tidak pernah menjadi kebenaran objektif di depan mata saya. Pernah sih, secara tidak sengaja, selama kurang dari 2 menit, dan sampai hari ini saya masih yakin bahwa ketidaksengajaan itu adalah sebuah sinyal dari Tuhan untuk bertahan.

Ternyata tafsir yang ngawur atas ayat-ayat Tuhan memang bahaya ya. Hahaha.

Sebelum mengurai patah hati untuk mengobatinya pada halaman ini, saya mengunjungi blog yang diam-diam sering saya buka untuk mengecek apakah ada postingan baru. Saya baca lagi tulisan-tulisannya. Saya merasa bahagia. Saya menyadari bahwa meski fiksi yang saya kagumi itu tidak memiliki kebenaran objektif di mata saya, saya merasa seperti mengenalnya dengan baik melalui tulisan-tulisan itu. Topik-topik keresahan yang ia angkat, caranya merangkai kata, pilihan diksinya, preferensi penggunaan bold, italic, atau kombinasi keduanya, serta analogi dan perumpamaan yang ia tuliskan benar-benar mengagumkan. Bagi saya, hal-hal tersebut tidak bisa menjadi ada hanya karena hal-hal tersebut memang ada. Mereka pastilah merupakan refleksi dari karakter penulisnya. Karakter yang sama, saya bangun dalam kepala.

Akhirnya, saya bisa menerima bahwa saya tetap bisa mengagumi fiksi itu dengan cara yang lain. Saya tidak mau lagi mencintai kepemilikan, saya ingin mencintai keberadaan sosoknya di dunia yang membuat langit menuju malam dan di ujung pagi memiliki warna-warna indah. Saya ingin mencintai Tuhan penciptanya.

Itu saja sudah cukup. Melegakan, dan membahagiakan.

 

..

 

Akhirnya, dengan konsep legal fiction yang saya sedikit paparkan di atas, harus disampaikan bahwa, “When you don’t want to be with someone anymore, tell it. Don’t show it.”

Kata-kata kita yang tegas, yang dengan jelas mampu memberi batas suatu hal dengan hal yang lainnya, akan sangat membantu orang lain untuk tidak salah membangun karakter dan cerita di kepalanya. Jika kita alergi dengan kata-kata, lalu berusaha menunjukkan keengganan kita bersama seseorang lagi dengan perubahan sikap, itu hanya akan mengiris-iris perasaan dan pikiran mereka.

Sakit hati itu tidak mengenal usia. Sebagaimana bahagia, sedih, marah, dan duka, sakit hati juga hanyalah bagian dari perasaan yang memang disertakan dalam paket penciptaan diri kita. Anak-anak muda yang tengah menuju dewasa juga boleh sakit hati. Mereka, tidak lantas menjadi anak kecil jika menangis dan bersedih karena patahnya bagian penting dari dirinya itu.

Yang membedakan hanyalah responnya. Respon amatir dan yang sudah mengalami banyak patah hati tentu berbeda, haha. Tapi bagaimanapun, tidak bisa disalahkan.

Respon paling waras yang saya lakukan pada saat ini adalah, membeli buku Guru Aini dari Andrea Hirata yang memang sudah direncanakan untuk dibeli, tapi masih menunggu momen yang tepat. Saat ini, ketika saya sedang butuh pelarian menuju dunia yang lain, adalah momen itu. Fiksi Andrea Hirata akan mengobati perasaan saya, dan membuat saya jatuh cinta lagi.

As Ever, Ulil Albab Surya Negara,

yang terkarantina namun terbebaskan.

25 April 2020.

Questions to Myself #1: Fears

Suatu ketika, seseorang memberi tahu bahwa jawaban atas pertanyaan-pertanyaan besar yang sering mengganggu pikiran kita sebenarnya ada di dalam diri kita sendiri. Kita hanya perlu menjadi tenang, agar apa yang kita pertanyakan menjadi jelas, dan kita perlu menjadi lebih tenang, untuk menemukan jawabannya.

Sejak saat itu, aku mengumpulkan pertanyaan-pertanyaan untuk memahami diri dan mengurai gelisah yang sedang kualami.

Sebagian kecil dari pertanyaan akan aku tulis dan bagikan.

1. “Apa yang membuat aku begitu takut kehilangan sesuatu?”

Sebab aku takut di waktu yang akan datang, tidak lagi menemukan hal serupa dengan rasa yang sama.

2. “Tapi, apakah sebelumnya pernah kehilangan juga? Lalu?”

Pernah.

Sepertinya, belum pernah kehilangan sesuatu, lalu merasakan penyesalan yang membekas dalam jangka waktu yang lama.

Saat sesuatu hilang, waktu biasanya tidak bisa membiarkanku berlarut dalam sedih. Waktu selalu membukakan pintu lain menuju petualangan dan tempat yang baru.

Salah satu kehilangan terberatku adalah saat selesai mengajar di Gontor dan harus pergi melanjutkan hidup. Dipaksa lepas dari hal yang telah menjadi bagian dari hidup itu sendiri.

Dipaksa untuk bahagia atas pedihnya berpisah.

Kala itu di tengah bulan Ramadhan, aku tidak memiliki alasan lagi untuk membendung air mata saat mengunci pintu kamar di Gedung Yaqdzoh untuk terakhir kalinya.

Apa yang membayang-bayangiku adalah, bahwa saat nanti aku kembali lagi, semuanya tidak akan pernah sama. Aku hanya akan berakhir sebagai orang asing yang mampir. Bukan siapa-siapa.

Hari, bulan, dan tahun berlalu, aku kemudian sadar bahwa yang hilang hanyalah wujud fisiknya dari mataku.

Sementara perasaan, nilai, pengalaman, dan batinnya tetap hidup dalam diriku. Kubawa ia pergi kemana-mana selagi bisa. Dan kuwujudkan itu menjadi suatu bentuk fisik yang lain ketika ingin.

3. “Bagaimana jika sebenarnya, sesuatu tidaklah hilang? Sebab ia memang tidak pernah menjadi milikmu. Ia hanya sesuatu yang dipinjamkan untuk kamu rasakan bahagia yang ikut terpancar dari cahayanya.”

Ternyata yang pantas ditakuti bukanlah kehilangan itu sendiri.

Namun ketidakmampuanku merawat apa yang sedang dipercayakan.

Ketakutanku akan kehilangan sesuatu justru sering membuatku bertingkah bodoh; menggenggamnya terlalu kuat, memeluknya terlalu erat. Bodoh. Mengingat bahwa rasa sayang haruslah membebaskan. bukan mengekang.

I’m Officially no longer afraid of losing.

Setidaknya waktu yang dipinjamkan kepadaku untuk menemuimu sudah membuatku begitu banyak belajar tentang banyak hal.

Jawaban muncul setelah selesai menonton Film 500 Days of Summer, di suatu siang.

Makassar, Amar, dan Call of Duty Mobile

Apa yang kita bawa pulang saat kembali dari sebuah perjalanan?

Pandangan yang baru. Perspektif terhadap semesta yang lebih luas dari sebelumnya.

Yakni tentang pengetahuan atas bagian dari dunia yang tidak bisa kita lihat dari tempat kita biasanya berada. Maka aku sering mengatakan pada diri sendiri bahwa, perjalanan itu sebenarnya bukan hanya tentang seberapa jauh kita akhirnya bisa menapak, tapi juga mengenai seberapa mampu kita menyelami kedalaman makna dari setiap langkah yang berlalu.

From the helipad at the rooftop of AAS Building
Mungkin, ada manusia yang telah berkembara hingga ribuan kilometer, menyebrangi samudra, menembus garis lintang, dan melewati batas-batas zona waktu, tetapi tidak lebih bijaksana dari orang yang selama hidupnya tidak pernah bepergian kemanapun. Lalu bisa jadi, ada manusia lain yang akumulasi jarak kelananya tidak seberapa, namun dapat menjadi sedemikian bijaksana karena perjalanannya tidak jauh, namun dalam. Dari hal-hal sederhana di sekitarnya, ia dapat menggali kebijaksanaan.
Kurang lebih, begitulah cara Andrea Hirata memakai teori relativitas Einstein pada kualitas manfaat yang dapat seorang manusia buat selama hidupnya. Ada orang yang hidup berpuluh-puluh tahun, ketika mati tidak menyisakan apapun kecuali batu nisan di tengah kuburan. Namun ada orang lain yang hidupnya tidak seberapa panjang, tetapi nama dan karyanya membekas di benak manusia yang hidup setelahnya, jauh lebih panjang dari umurnya sendiri.
Dari situ, aku belajar untuk selalu menghargai setiap orang yang garis hidupnya berpotongan dengan milikku. Juga untuk mensyukuri setiap momen yang membentuk kronologi takdir hidup.

Continue reading Makassar, Amar, dan Call of Duty Mobile

How I Summarize 2019 as A Reflection Toward The New Decade

Gimana rasanya ketika kamu punya sebuah kesalahan,
yang sengaja ataupun tidak telah menjadi bagian dari hari-harimu,
kemudian ada 13 orang duduk melingkar menghakimimu,
memaparkan semua kesalahan itu, mempertanyakan mengapa kamu melakukan itu?
Sementara kamu terdiam terintimidasi oleh tatap sinis mereka, tidak mampu mengelak karena kesalahan tersebut memang benar, kamu tidak dapat membela diri karena itu adalah bagian dari dirimu.
Gimana?
Sakit hati, teriris.
Semakin nggak paham gimana kelak rasanya dihisab pada hari kiamat. Ketika tangan, kaki, mata, beserta jajaran anggota tubuh lainnya mengadu pada Tuhan, tentang untuk apa mereka kita salahgunakan selama hidup. Kita tidak dapat mengelak karena mereka adalah bagian dari kita.
Wait, jika anggota tubuh kita justru menjadi saksi atas perbuatan buruk yang telah kita lakukan selama hidup, untuk kemudian karena kesaksian tersebut kita mendapatkan azab sebagai balasan, maka siapa kita sebenarnya? Bukankah itu berarti bahwa kita bukanlah anggota tubuh yang menyusun diri kita?
Oke, tapi poin yang hendak kutumpahkan bukanlah itu.
Despite of those horrifying facts above, itu adalah mental shock therapy terbaik yang saya dapatkan selama 3 semester menjadi mahasiswa ini. Momen tersebut benar-benar merangkum dan mendefinisikan bagaimana 2019 berlalu bagi diri saya.
Kalau boleh mengasihani diri sebagai sebuah bentuk pembelaan, maka bagi saya 2 semester awal menjadi mahasiswa ini adalah masa transisi untuk berpindah dari dunia yang penuh dengan penderitaan, namun semuanya hanyalah rekasaya, ke dunia baru yang benar-benar menuntut profesionalitas saya luar dalam. Bahwa di dunia yang baru tersebut, what is happening and your reactions matter.
Berhari-hari sebelumnya saya galau, sebab belum dapat merangkum pelajaran penting apa dari 2019 yang dapat dibawa menjadi bekal menghadapi dekade baru. Kemudian malam ini, saya dibuat sadar bahwa ternyata pelajaran tersebut ada jauh di dalam diri saya, pada ruang-ruang yang selama ini saya abaikan, tidak mendapat perhatian karena ego saya menjadi kabut yang menutupi untuk mengakui bahwa saya memiliki ruang-ruang kelam tersebut.
Selama 2019, dalam hampir setiap pekerjaan saya, pada setiap tanggungjawab yang diamanahkan, ruang-ruang tersebut hadir, mewarnai dengan kelam mereka, saya mengabaikan. Jika kita menganggap bahwa satu tahun ini adalah sebuah proses membangun suatu gedung dengan balok-balok kayu, maka ruang-ruang kelam tersebut adalah balok yang rapuh yang saya taruh di pondasi. Begitu bangunan selesai, sebuah tiupan angin saja dapat meruntuhkan semuanya, tanpa menyisakan apapun kecuali penyesalan.
Oke saya tahu sulit sekali memahami what is actually happening to me, and figuring out what im going to tell you, tapi intinya gini:
Memiliki perilaku, lalu melibatkannya dalam keseharian kita itu ibarat menabung. Setiap perilaku dan bentuk attitude, meski kecil, tetap akan terakumulasi.
Maka tabunglah yang baik-baik saja, jangan pernah mengabaikan suatu detail kecil yang buruk. Karena ketika detail kecil itu selalu ada di setiap ‘karya’-mu sepanjang tahun, maka orang akan menyimpulkan bahwa karyamu cacat.
“If you do something good, or bad, and you save them just a little bit, every day for many days sooner or later you will create something much bigger than you, something that will change your whole life in somehow.”
That was a note to my self, from 2019.
Thanks for giving a read. Responses are welcome.
Reach me Through:
Email: surya.negara@gontor.ac.id
Instagram: @ulhiel

Yourself First, Then The Community Will

Bulan Ramadhan yang selalu dapat kita nikmati positive vibes-nya itu adalah sebuah momentum yang sama bagi setiap orang. Namun setiap kepala dari kita selalu memiliki cara untuk menginterpretasi, memaknai, serta menjalani yang berbeda-beda. Setiap ‘Ups’ dan ‘Down’ yang kita alami pada Ramadhan ini patut untuk kita syukuri dan hargai, selama kita yakin bahwa itu semua adalah proses menuju sosok diri kita sendiri yang labih baik.

Di Ramadhan ini, ada orang-orang yang sudah mampu berpuasa penuh hingga bulan berganti. Ibadahnya lengkap dengan selalu rajin menghadiri jamaah shalat tarawih di masjid, dan menyempurnakannya dengan beri’tikaf pada tiap malam ganjil di 10 hari terakhir Ramadhan. Sementara itu, pada dimensi hidup yang lain, yang barangkali justru tidak jauh dari kita secara jarak, ada orang-orang yang untuk menuntaskan puasa selama satu bulan saja masih belum mampu. Bukan fisiknya yang tidak mampu untuk minimal menahal lapar dan dahaga, tetapi imannya yang tidak siap untuk berjalan dalam ketaatan dengan segala konsekuensi beratnya.

Hidayah untuk seseorang memang merupakan hak prerogatif Allah saja. Tapi saya selalu yakin bahwa Tuhan tidak akan serta merta memberikan atau menimpakan suatu hal kepada hambanya tanpa sebab dan alasan.

Hubungan kita dengan Allah bukanlah komunikasi satu arah, melainkan dua. Ketika kita menginginkan Allah menghadiahi kita dengan hal-hal baik, hidayah untuk teguh beriman misalnya, tentu kita harus menunjukkan perilaku serta kesungguhan yang cukup untuk membuktikan bahwa kita pantas untuk mendapatkan hal tersebut. Dan bagi saya, di situlah letak romantisme hubungan kita dengan Sang Pencipta, yakni dengan adanya komunikasi serta interaksi dua arah. Secara langsung maupun tidak.

Hal tersebut saya interpretasikan dari konsep pengembangan diri, serta perubahan nasib yang Al-Qur’an ajarkan. Bahwa Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum, kecuali mereka memiliki willingness untuk merubah keadaan diri mereka sendiri.

Ada banyak sekali hal yang dapat kita pelajari dari kutipan Al-Qur’an dalam surat Ar-Ra’d ayat sebelas tersebut. Satu yang sampai saat ini masih menjadi fokus untuk saya dalami, beserta kaitannya dengan keilmuan yang saya pelajari adalah penggunaan kata qaum, nafs, beserta dhomiryang menyertainya.

Ayat tersebut memberikan isyarat bahwa untuk membuat perubahan, baik itu mengarah pada kemajuan ataupun kemunduran pada suatu komunitas yang disebut dengan qaum dalam ayat tersebut, perlu kontribusi nyata dari setiap anggota komunitas yang digambarkan dengan kata nafs. Ayat ini menunjukkan adanya korelasi serta implikasi antara akumulasi perubahan diri dari tiap anggota kelompok, terhadap perubahan keadaan komunitasnya.

Pada titik tersebutlah, kita akan mendapati hikmah dari suatu konsep lain yang juga Islam ajarkan, yaitu nilai kebersamaan dalam konsep shalat berjamaah. Bahwa untuk mengadakan suatu gerakan yang nyata dan berdampak besar, perlu ada kerja kolaboratif antar individu, yang masing-masing harus memiliki kualitas dan kapabilitas tertentu.

Qaum atau komunitas yang dimaksud tentu berlaku secara universal, yakni pada semua skala. Dari yang terkecil: keluarga, kelompok kerja, kantor, dsb. hingga yang terbesar dalam ukuran bermasyarakat luas.

Lalu, pada aspek mana dalam nafs atau diri seseorang yang perlu lebih dahulu diubah, untuk membentuk masyarakat yang siap untuk mewujudkan perubahan dalam komunitasnya?
Akan saya bahas lebih lanjut pada tulisan berikutnya.

Ada Sesal yang Begitu Mendalam

Sering kali, kita merasa berada pada posisi yang begitu sulit, begitu berat, hingga membuat kita lupa, bahwa di dekat-dekat kita saja, masih ada yang hidupnya lebih sulit. Sementara itu, beban tanggung jawab yang mereka pikul lebih berat dari apa yang ada di pundak kita.
               Petang selepas maghrib itu saya terpaksa menggeber motor ke sebuah mini market yang tidak jauh dari asrama. Mini market tersebut memang menjadi langganan untuk mengambil uang dari mesin ATM, selain ATM gallery di depan kampus, tentunya. saat  itu adalah kali kedua saya mengambil uang di ATM pada hari yang sama, dengan berat hati, melihat bahwa bulan Januari belum berlalu sepertiganya, tapi saldo saya sudah terkuras hampir setengahnya.
               Awal bulan memang begitu, kebutuhan primer yang sudah direm sejak akhir bulan sebelumnya tiba-tiba hadir seperti banjir bandang yang tak kuasa ditahan. Sementara itu, penghasilan pribadi belum sampai pada taraf dapat mencukupi segala kebutuhan lain yang tidak termasuk anggaran uang jajan dari orang tua.
Belum lagi, ada kepentingan-kepentingan bersama yang perlu ditanggung juga. Sebenarnya tidak wajib, tapi akan menjadi beban moral bagi diri saya sendiri ketika tidak mau melakukannya. Salah satu pelajaran penting tentang kepemimpinan yang sering menghantui saya adalah, bahwa ketika kita ingin orang lain melakukan suatu usaha dengan level yang kita minta, kita harus menjadi orang pertama yang melakukan usaha pada level tersebut.
Begitu juga dengan hal-hal yang berkaitan dengan materi (baca : uang), ketika kita ingin rekan tim kita sampai pada level suka rela menyisihkan uang yang seharusnya dapat mereka gunakan untuk membeli segelas kopi susu dingin untuk kepentingan komunitas, maka kita harus mencapai level tersebut terlebih dahulu. Kita harus berani menyisihkan uang dengan rasio sumbangan dan kepentingan pribadi yang masuk akal.
***
Petang itu, suatu ruang dalam hati saya diuji, melihat nota dengan nominal yang seharusnya bisa saya gunakan untuk hidup beberapa hari kedepan harus begitu saja dikeluarkan untuk suatu kepentingan.
Sebenarnya bukan perkara gaya hidup, tapi perkara gaya makan yang tidak bisa ditahan. Saya laperan. Dan ketika lapar, saya memilih makan daripada tidak dapat beraktivitas produktif dengan baik. Apalagi, saat ini sedang berada pada hari-hari Ujian Akhir Semester yang mengharuskan saya ‘hidup’ lebih lama dari biasanya.
Dengan dua beban itu, saya merasa menjadi orang yang paling susah hidupnya di dunia, merasa menjadi orang yang paling sedikit mendapat pemasukan tapi paling banyak mengeluarkan.
Di depan mini market itu, terlihat seorang lelaki paruh baya, kulitnya legam terbakar matahari dan sudah mulai berkeriput. Ia duduk menyelonjorkan kakinya, dengan tatapan lurus kosong yang mengisyaratkan sebuah keinginan untuk beristirahat setelah menjalani hari yang begitu panjang dan melelahkan. Di sampingnya, tampak tumpukan krupuk dalam plastik yang jumlahnya tidak sedikit. Taksirku, ada puluhan bungkus krupuk di sana. Yakinku, itu semua adalah barang dagangannya.
Aku berasumsi bahwa bapak itu telah berjualan krupuk sepanjang hari, berkeliling kota dengan kedua kakinya saja, dan sampai malam yang sudah semakin larut itu, dagangannya tidak kunjung habis. Sementara mungkin ada keluarga di rumah yang menantinya untuk kembali, dengan membawa harapan agar mereka tetap dapat bernapas esok hari.
Dari tatap mata yang sempat bertemu dengan pandanganku itu, ada rasa gelisah, ada resah, serta ada harap yang terpancar. Di sana aku membaca rasa haus yang begitu mendalam, serta lapar yang ia tahan-tahan sedari siang.
Tapi pada saat seharusnya kemanusiaanku muncul itu, justru ia mati dan tak berguna lagi. Aku berlalu tanpa acuh, berusaha untuk tidak peduli dan pura-pura bodoh, pura-pura tidak dapat membaca situasi. Dan hal-hal seperti itu jika terus diulangi, akan benar-benar membuatku bodoh.
Dengan setumpuk ego di dalam hati, aku segera masuk ke mini market, menyelesaikan urusan, dan segera keluar untuk pergi. Sekali lagi, dengan pandangan yang dibuang dan berusaha untuk tidak peduli.
Beberapa puluh meter berlalu, baru hati ini rasanya tertampar keras sekali. Kenapa saya pergi begitu saja, tanpa membantu bapak tadi. Kepada orang sepertinya, yang hidupnya berat sekali tapi memilih untuk enggan meminta-minta tanpa usaha, seharusnya aku membantu. Seharusnya aku hadir dan membagi kebagaiaan. Betapa bodoh, dan penyesalan itu seketika menjelma menjadi rasa takut yang terus menghantuiku. Aku telah kehilangan sebuah kesempatan untuk menjadi manusia yang memanusiakan manusia lain. Menjadi manusia yang sedikit saja berguna bagi hidup orang lain.
Seandainya saja tadi saya membeli sebotol minuman yang cukup untuk membasahi kerongkongan keringnya, mungkin rasa sesal itu tidak menakut-nakutiku seperti ini.
Tolong yang seperti ini, jangan pernah terulang lagi.

Keberanian Gontor Bermimpi

Bermimpi bukanlah suatu ritual maha sakral yang hanya perlu dilakukan oleh individu. Kelompok kerja, organisasi, bahkan sesederhana lingkaran pertemanan pun perlu berani bermimpi. Tanpa mimpi-mimpi itu, hidup berjalan tanpa tujuan. Dan sebagaimana manusia sering katakan, hidup tanpa harap dan tujuan yang tidak melahirkan resiko-resiko adalah suatu hidup yang tidak dihidupi, alias an unlived life.

Sebagai suatu institusi yang telah tumbuh dan berkembang, serta masih terus dapat mempertahankan eksistensinya dalam dunia pendidikan di Indonesia bahkan dunia, Gontor adalah suatu teladan yang mengajarkan keberanian memiliki dan merealisasikan mimpi.

 Keberanian untuk bermimpi itu diwariskan secara turun-temurun lintas generasi. Dari Kyai kepada para guru, dari guru-guru kepada para santri, begitu seterusnya. Dan pada akhirnya, keberanian bermimpi serta merealisasikannya itu menjadi suatu watak dan ciri khas yang dimiliki oleh para orang yang pernah hidup dalam ritme dinamika Gontor. Dibawa sebagai suatu semangat yang terus membara, dan membuat alumnus Gontor sering kali berbeda dari orang-orang lain dalam lingkaran pergaulannya.

Saya yang pada suatu Jum’at di awal 2019 lalu berkesempatan untuk sowan ke Gontor, benar-benar telah menjadi saksi hidup bahwa lagi-lagi, salah satu mimpi besar Gontor terealisasikan. Mimpi yang telah menjadi nyata itu nampak secara fisik sebagai sebuah bangunan menara yang gagah nan perkasa, menjulang ke langit setinggi lebih dari 85 meter dari permukaan tanah. Dengan 15 lantai ditambah kubah setinggi 12 meter, menara ini menjadi bangunan yang tingginya tidak terkalahkan se karesidenan Ponorogo – Madiun.

Menara tersebut dilengkapi dengan sebuah studio editing milik Gontor TV di lantai dua, studio siaran dan studio rekaman milik Suara Gontor FM di lantai tiga, serta dua gardu pandang, masing-masing berada di lantai 10 dan 15. Dari gardu pandang tersebut, tampak kota Ponorogo membentang di semua penjuru arah dengan barisan bukit yang mengelilinginya.

Interior masing-masing ruangan didesain dengan konsep minimalis yang modern, menggambarkan kesan mewah, namun tidak lepas dari nilai-nilai kesederhanaan. Tiap sudutnya tampak indah dipandang. Dari puncak menara itu, ada empat buah jam raksasa yang menghadap ke empat arah mata angin. Dari puncak itu pula, adzan dilantunkan oleh santri yang bertugas tiap datang waktu shalat yang lima. Kecuali itu, ada bebunyian tertentu yang menandakan pergantian jam.

Dalam berbagai kesempatan, di depan dewan guru dan para santri, Kyai Hasan kerap menyampaikan bahwa kegagahan menara itu bukanlah untuk menyombongkan diri. Bukan pula suatu usaha untuk membuat orang-orang silau menatap Gontor. Melainkan sesederhana untuk membesarkan hati para santri, agar mereka bangga dengan jati dirinya. Sekaligus membuktikan bahwa santri dan pesantren tidak identik dengan lingkungan kotor nan nir estetika.

Bagi saya sendiri  menara yang berdiri di sebelah timur laut Masjid Jami’ Gontor itu, di atas tempat menara yang lama berdiri, selain merupakan sebuah bangunan yang membesarkan hati santri, juga adalah sebuah monumen yang menandai keberhasilan Gontor menjaga semangat untuk berani bermimpi sekaligus berani bersabar menjalani proses panjang yang terjal dalam merealisasikannya.

Masih jelas dalam ingatan saya ketika stadion sepak bola dan menara belum benar-benar dibangun, masih berupa impian-impian Pondok yang disampaikan oleh Kyai di hadapan para santri. Melalui sebuah retorika yang jenaka, Kyai Hasan kerap melontarkan humor akan membangun stadion yang rumputnya tidak kalah dengan rumput camp nou, canda tersebut disambut dengan gelak tawa oleh guru-guru dan para santri.

Dalam beberapa kesempatan pula, dengan intonasi dan mimik yang serius, Kyai Hasan berujar di hadapan para santri, “Insya Allah! Dengan izin Allah, kalau saya masih diberi umur untuk hidup, kita bangun menara yang baru!”.  Barangkali, saat itu saya merupakan salah satu santri yang merinding mendengar frasa ‘masih diberi umur’, namun kemudian justru kalimat itulah yang turut menunjukkan jiwa totalitas Gontor, membuktikan bahwa semangat bermimpi dan menjadikan mimpi-mimpi itu terealisasi memang dipraktekkan oleh Gontor dan semua elemennya, termasuk para Kyai, guru, serta ditanamkan kepada para santri-santri.

Di kemudian hari, baik mimpi yang diceritakan secara jenaka maupun serius itu benar-benar terwujud menjadi nyata. Dengan kemandirian ekonomi proteksi dan bantuan Allah, keyakinan Gontor bermimpi satu-persatu terasa dikabulkan.

Ternyata, budaya memiliki mimpi itu memang telah dipraktekkan sejak awal pondok berdiri, bahkan mungkin bisa dikatakan bahwa Gontor menjadi besar pun juga bersama keyakinan akan mimpi-mimpinya. Ketika Trimurti masih memimpin, Pak Zar, panggilan untuk K.H. Imam Zarkasyi, memiliki ungkapan yang sangat diingat oleh santri-santri: “Gontor sekolahku, Saudi pelataranku, Eropa pelanconganku”. Kala itu, gedung yang dimiliki oleh Gontor adalah sebuah masjid kecil dan gedung kelas di sebelah baratnya. Sementara di sekeliling pondok adalah hamparan sawah yang luas. Di kemudian hari, di atas tempat Pak Zar mengucapkan mimpinya itu, berdirilah sebuah gedung asrama santri yang diberi nama gedung Saudi pula. Dan sampai saat ini para alumni Gontor, kecuali ke Eropa, juga telah menyebar ke 4 benua lainnya, membawa pesan dan nilai-nilai Gontori yang didakwahkan melalui teladan yang dipraktekkan oleh diri mereka sendiri terlebih dahulu.

Monumen-monumen lain yang menandai keberhasilah Gontor mewujudkan mimpinya adalah Masjid Jami’ dan Balai Pertemuan. Bangunan Balai Pertemuan yang berada di pusat keramaian Gontor dan belum diubah bentuk aslinya sampai saat ini itu, didesain untuk dapat menampung 2000 orang dalam satu ruangan. Padahal ketika dibangun, santri Gontor jumlahnya masih sekitar 500-an. Namun Gontor yakin bahwa kelak, bahkan Balai Pertemuan yang didesain untuk empat kali lipat jumlah santri saat itu pun tidak mampu menampung semua santri Gontor dalam satu pertemuan.

Begitu pula Masjid Jami’ yang dengan dua lantai didesain untuk dapat menampung 4000 santri. Padahal ketika dibangun pada tahun 70-an, santri Gontor masih sejumlah 1500-an orang. Namun sekali lagi, Gontor yakin bahwa desain tersebut terlalu kecil untuk menjadi tempat shalat berjamaah seluruh santri suatu hari nanti.

Dan kini, keyakinan yang terselip dalam bangunan-bangunan itu terwujud. Saat ini ada 20 cabang Gontor di seluruh Indonesia, dengan total jumlah santri aktif lebih dari 24.000 orang.

Mimpi-mimpi serta keyakinan yang menyertainya itu kian menjadi nyata. Dan tentu Gontor akan selalu memiliki mimpi, demi menjaga eksistensinya untuk terus memegang peran mendidik umat. Satu hal yang mungkin perlu kita ketahui adalah, bahwa mimpi-mimpi yang Gontor miliki bukanlah mimpi-mimpi yang egois, bukan pula mimpi yang hanya ingin membesarkan Gontor. Selalu ada kepentingan bersama, selalu ada maksud untuk kebaikan umat juga. Bahka ketika semakin kuat Gontor dan pengaruh pendidikannya, akan semakin banyak pula orang-orang yang memiliki jiwa keikhlasan diterjunkan ke masyarakat untuk menjadi seorang pendidik, pada peran apapun yang mereka mainkan. Dan itu juga bagian dari mimpi Gontor untuk mewujudkan ‘1000 Gontor’ di Indonesia.

Sebagai individu, kita juga perlu memiliki mimpi-mimpi yang diamini oleh banyak orang agar impian kita besar, dan agar kita dipertemukan dengan orang-orang yang mimpinya sama untuk berjuang bersama.