Questions to Myself #1: Fears

Suatu ketika, seseorang memberi tahu bahwa jawaban atas pertanyaan-pertanyaan besar yang sering mengganggu pikiran kita sebenarnya ada di dalam diri kita sendiri. Kita hanya perlu menjadi tenang, agar apa yang kita pertanyakan menjadi jelas, dan kita perlu menjadi lebih tenang, untuk menemukan jawabannya.

Sejak saat itu, aku mengumpulkan pertanyaan-pertanyaan untuk memahami diri dan mengurai gelisah yang sedang kualami.

Sebagian kecil dari pertanyaan akan aku tulis dan bagikan.

1. “Apa yang membuat aku begitu takut kehilangan sesuatu?”

Sebab aku takut di waktu yang akan datang, tidak lagi menemukan hal serupa dengan rasa yang sama.

2. “Tapi, apakah sebelumnya pernah kehilangan juga? Lalu?”

Pernah.

Sepertinya, belum pernah kehilangan sesuatu, lalu merasakan penyesalan yang membekas dalam jangka waktu yang lama.

Saat sesuatu hilang, waktu biasanya tidak bisa membiarkanku berlarut dalam sedih. Waktu selalu membukakan pintu lain menuju petualangan dan tempat yang baru.

Salah satu kehilangan terberatku adalah saat selesai mengajar di Gontor dan harus pergi melanjutkan hidup. Dipaksa lepas dari hal yang telah menjadi bagian dari hidup itu sendiri.

Dipaksa untuk bahagia atas pedihnya berpisah.

Kala itu di tengah bulan Ramadhan, aku tidak memiliki alasan lagi untuk membendung air mata saat mengunci pintu kamar di Gedung Yaqdzoh untuk terakhir kalinya.

Apa yang membayang-bayangiku adalah, bahwa saat nanti aku kembali lagi, semuanya tidak akan pernah sama. Aku hanya akan berakhir sebagai orang asing yang mampir. Bukan siapa-siapa.

Hari, bulan, dan tahun berlalu, aku kemudian sadar bahwa yang hilang hanyalah wujud fisiknya dari mataku.

Sementara perasaan, nilai, pengalaman, dan batinnya tetap hidup dalam diriku. Kubawa ia pergi kemana-mana selagi bisa. Dan kuwujudkan itu menjadi suatu bentuk fisik yang lain ketika ingin.

3. “Bagaimana jika sebenarnya, sesuatu tidaklah hilang? Sebab ia memang tidak pernah menjadi milikmu. Ia hanya sesuatu yang dipinjamkan untuk kamu rasakan bahagia yang ikut terpancar dari cahayanya.”

Ternyata yang pantas ditakuti bukanlah kehilangan itu sendiri.

Namun ketidakmampuanku merawat apa yang sedang dipercayakan.

Ketakutanku akan kehilangan sesuatu justru sering membuatku bertingkah bodoh; menggenggamnya terlalu kuat, memeluknya terlalu erat. Bodoh. Mengingat bahwa rasa sayang haruslah membebaskan. bukan mengekang.

I’m Officially no longer afraid of losing.

Setidaknya waktu yang dipinjamkan kepadaku untuk menemuimu sudah membuatku begitu banyak belajar tentang banyak hal.

Jawaban muncul setelah selesai menonton Film 500 Days of Summer, di suatu siang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s