Makassar, Amar, dan Call of Duty Mobile

Apa yang kita bawa pulang saat kembali dari sebuah perjalanan?

Pandangan yang baru. Perspektif terhadap semesta yang lebih luas dari sebelumnya.

Yakni tentang pengetahuan atas bagian dari dunia yang tidak bisa kita lihat dari tempat kita biasanya berada. Maka aku sering mengatakan pada diri sendiri bahwa, perjalanan itu sebenarnya bukan hanya tentang seberapa jauh kita akhirnya bisa menapak, tapi juga mengenai seberapa mampu kita menyelami kedalaman makna dari setiap langkah yang berlalu.

From the helipad at the rooftop of AAS Building
Mungkin, ada manusia yang telah berkembara hingga ribuan kilometer, menyebrangi samudra, menembus garis lintang, dan melewati batas-batas zona waktu, tetapi tidak lebih bijaksana dari orang yang selama hidupnya tidak pernah bepergian kemanapun. Lalu bisa jadi, ada manusia lain yang akumulasi jarak kelananya tidak seberapa, namun dapat menjadi sedemikian bijaksana karena perjalanannya tidak jauh, namun dalam. Dari hal-hal sederhana di sekitarnya, ia dapat menggali kebijaksanaan.
Kurang lebih, begitulah cara Andrea Hirata memakai teori relativitas Einstein pada kualitas manfaat yang dapat seorang manusia buat selama hidupnya. Ada orang yang hidup berpuluh-puluh tahun, ketika mati tidak menyisakan apapun kecuali batu nisan di tengah kuburan. Namun ada orang lain yang hidupnya tidak seberapa panjang, tetapi nama dan karyanya membekas di benak manusia yang hidup setelahnya, jauh lebih panjang dari umurnya sendiri.
Dari situ, aku belajar untuk selalu menghargai setiap orang yang garis hidupnya berpotongan dengan milikku. Juga untuk mensyukuri setiap momen yang membentuk kronologi takdir hidup.

Continue reading Makassar, Amar, dan Call of Duty Mobile

How I Summarize 2019 as A Reflection Toward The New Decade

Gimana rasanya ketika kamu punya sebuah kesalahan,
yang sengaja ataupun tidak telah menjadi bagian dari hari-harimu,
kemudian ada 13 orang duduk melingkar menghakimimu,
memaparkan semua kesalahan itu, mempertanyakan mengapa kamu melakukan itu?
Sementara kamu terdiam terintimidasi oleh tatap sinis mereka, tidak mampu mengelak karena kesalahan tersebut memang benar, kamu tidak dapat membela diri karena itu adalah bagian dari dirimu.
Gimana?
Sakit hati, teriris.
Semakin nggak paham gimana kelak rasanya dihisab pada hari kiamat. Ketika tangan, kaki, mata, beserta jajaran anggota tubuh lainnya mengadu pada Tuhan, tentang untuk apa mereka kita salahgunakan selama hidup. Kita tidak dapat mengelak karena mereka adalah bagian dari kita.
Wait, jika anggota tubuh kita justru menjadi saksi atas perbuatan buruk yang telah kita lakukan selama hidup, untuk kemudian karena kesaksian tersebut kita mendapatkan azab sebagai balasan, maka siapa kita sebenarnya? Bukankah itu berarti bahwa kita bukanlah anggota tubuh yang menyusun diri kita?
Oke, tapi poin yang hendak kutumpahkan bukanlah itu.
Despite of those horrifying facts above, itu adalah mental shock therapy terbaik yang saya dapatkan selama 3 semester menjadi mahasiswa ini. Momen tersebut benar-benar merangkum dan mendefinisikan bagaimana 2019 berlalu bagi diri saya.
Kalau boleh mengasihani diri sebagai sebuah bentuk pembelaan, maka bagi saya 2 semester awal menjadi mahasiswa ini adalah masa transisi untuk berpindah dari dunia yang penuh dengan penderitaan, namun semuanya hanyalah rekasaya, ke dunia baru yang benar-benar menuntut profesionalitas saya luar dalam. Bahwa di dunia yang baru tersebut, what is happening and your reactions matter.
Berhari-hari sebelumnya saya galau, sebab belum dapat merangkum pelajaran penting apa dari 2019 yang dapat dibawa menjadi bekal menghadapi dekade baru. Kemudian malam ini, saya dibuat sadar bahwa ternyata pelajaran tersebut ada jauh di dalam diri saya, pada ruang-ruang yang selama ini saya abaikan, tidak mendapat perhatian karena ego saya menjadi kabut yang menutupi untuk mengakui bahwa saya memiliki ruang-ruang kelam tersebut.
Selama 2019, dalam hampir setiap pekerjaan saya, pada setiap tanggungjawab yang diamanahkan, ruang-ruang tersebut hadir, mewarnai dengan kelam mereka, saya mengabaikan. Jika kita menganggap bahwa satu tahun ini adalah sebuah proses membangun suatu gedung dengan balok-balok kayu, maka ruang-ruang kelam tersebut adalah balok yang rapuh yang saya taruh di pondasi. Begitu bangunan selesai, sebuah tiupan angin saja dapat meruntuhkan semuanya, tanpa menyisakan apapun kecuali penyesalan.
Oke saya tahu sulit sekali memahami what is actually happening to me, and figuring out what im going to tell you, tapi intinya gini:
Memiliki perilaku, lalu melibatkannya dalam keseharian kita itu ibarat menabung. Setiap perilaku dan bentuk attitude, meski kecil, tetap akan terakumulasi.
Maka tabunglah yang baik-baik saja, jangan pernah mengabaikan suatu detail kecil yang buruk. Karena ketika detail kecil itu selalu ada di setiap ‘karya’-mu sepanjang tahun, maka orang akan menyimpulkan bahwa karyamu cacat.
“If you do something good, or bad, and you save them just a little bit, every day for many days sooner or later you will create something much bigger than you, something that will change your whole life in somehow.”
That was a note to my self, from 2019.
Thanks for giving a read. Responses are welcome.
Reach me Through:
Email: surya.negara@gontor.ac.id
Instagram: @ulhiel

Yourself First, Then The Community Will

Bulan Ramadhan yang selalu dapat kita nikmati positive vibes-nya itu adalah sebuah momentum yang sama bagi setiap orang. Namun setiap kepala dari kita selalu memiliki cara untuk menginterpretasi, memaknai, serta menjalani yang berbeda-beda. Setiap ‘Ups’ dan ‘Down’ yang kita alami pada Ramadhan ini patut untuk kita syukuri dan hargai, selama kita yakin bahwa itu semua adalah proses menuju sosok diri kita sendiri yang labih baik.

Di Ramadhan ini, ada orang-orang yang sudah mampu berpuasa penuh hingga bulan berganti. Ibadahnya lengkap dengan selalu rajin menghadiri jamaah shalat tarawih di masjid, dan menyempurnakannya dengan beri’tikaf pada tiap malam ganjil di 10 hari terakhir Ramadhan. Sementara itu, pada dimensi hidup yang lain, yang barangkali justru tidak jauh dari kita secara jarak, ada orang-orang yang untuk menuntaskan puasa selama satu bulan saja masih belum mampu. Bukan fisiknya yang tidak mampu untuk minimal menahal lapar dan dahaga, tetapi imannya yang tidak siap untuk berjalan dalam ketaatan dengan segala konsekuensi beratnya.

Hidayah untuk seseorang memang merupakan hak prerogatif Allah saja. Tapi saya selalu yakin bahwa Tuhan tidak akan serta merta memberikan atau menimpakan suatu hal kepada hambanya tanpa sebab dan alasan.

Hubungan kita dengan Allah bukanlah komunikasi satu arah, melainkan dua. Ketika kita menginginkan Allah menghadiahi kita dengan hal-hal baik, hidayah untuk teguh beriman misalnya, tentu kita harus menunjukkan perilaku serta kesungguhan yang cukup untuk membuktikan bahwa kita pantas untuk mendapatkan hal tersebut. Dan bagi saya, di situlah letak romantisme hubungan kita dengan Sang Pencipta, yakni dengan adanya komunikasi serta interaksi dua arah. Secara langsung maupun tidak.

Hal tersebut saya interpretasikan dari konsep pengembangan diri, serta perubahan nasib yang Al-Qur’an ajarkan. Bahwa Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum, kecuali mereka memiliki willingness untuk merubah keadaan diri mereka sendiri.

Ada banyak sekali hal yang dapat kita pelajari dari kutipan Al-Qur’an dalam surat Ar-Ra’d ayat sebelas tersebut. Satu yang sampai saat ini masih menjadi fokus untuk saya dalami, beserta kaitannya dengan keilmuan yang saya pelajari adalah penggunaan kata qaum, nafs, beserta dhomiryang menyertainya.

Ayat tersebut memberikan isyarat bahwa untuk membuat perubahan, baik itu mengarah pada kemajuan ataupun kemunduran pada suatu komunitas yang disebut dengan qaum dalam ayat tersebut, perlu kontribusi nyata dari setiap anggota komunitas yang digambarkan dengan kata nafs. Ayat ini menunjukkan adanya korelasi serta implikasi antara akumulasi perubahan diri dari tiap anggota kelompok, terhadap perubahan keadaan komunitasnya.

Pada titik tersebutlah, kita akan mendapati hikmah dari suatu konsep lain yang juga Islam ajarkan, yaitu nilai kebersamaan dalam konsep shalat berjamaah. Bahwa untuk mengadakan suatu gerakan yang nyata dan berdampak besar, perlu ada kerja kolaboratif antar individu, yang masing-masing harus memiliki kualitas dan kapabilitas tertentu.

Qaum atau komunitas yang dimaksud tentu berlaku secara universal, yakni pada semua skala. Dari yang terkecil: keluarga, kelompok kerja, kantor, dsb. hingga yang terbesar dalam ukuran bermasyarakat luas.

Lalu, pada aspek mana dalam nafs atau diri seseorang yang perlu lebih dahulu diubah, untuk membentuk masyarakat yang siap untuk mewujudkan perubahan dalam komunitasnya?
Akan saya bahas lebih lanjut pada tulisan berikutnya.

Ada Sesal yang Begitu Mendalam

Sering kali, kita merasa berada pada posisi yang begitu sulit, begitu berat, hingga membuat kita lupa, bahwa di dekat-dekat kita saja, masih ada yang hidupnya lebih sulit. Sementara itu, beban tanggung jawab yang mereka pikul lebih berat dari apa yang ada di pundak kita.
               Petang selepas maghrib itu saya terpaksa menggeber motor ke sebuah mini market yang tidak jauh dari asrama. Mini market tersebut memang menjadi langganan untuk mengambil uang dari mesin ATM, selain ATM gallery di depan kampus, tentunya. saat  itu adalah kali kedua saya mengambil uang di ATM pada hari yang sama, dengan berat hati, melihat bahwa bulan Januari belum berlalu sepertiganya, tapi saldo saya sudah terkuras hampir setengahnya.
               Awal bulan memang begitu, kebutuhan primer yang sudah direm sejak akhir bulan sebelumnya tiba-tiba hadir seperti banjir bandang yang tak kuasa ditahan. Sementara itu, penghasilan pribadi belum sampai pada taraf dapat mencukupi segala kebutuhan lain yang tidak termasuk anggaran uang jajan dari orang tua.
Belum lagi, ada kepentingan-kepentingan bersama yang perlu ditanggung juga. Sebenarnya tidak wajib, tapi akan menjadi beban moral bagi diri saya sendiri ketika tidak mau melakukannya. Salah satu pelajaran penting tentang kepemimpinan yang sering menghantui saya adalah, bahwa ketika kita ingin orang lain melakukan suatu usaha dengan level yang kita minta, kita harus menjadi orang pertama yang melakukan usaha pada level tersebut.
Begitu juga dengan hal-hal yang berkaitan dengan materi (baca : uang), ketika kita ingin rekan tim kita sampai pada level suka rela menyisihkan uang yang seharusnya dapat mereka gunakan untuk membeli segelas kopi susu dingin untuk kepentingan komunitas, maka kita harus mencapai level tersebut terlebih dahulu. Kita harus berani menyisihkan uang dengan rasio sumbangan dan kepentingan pribadi yang masuk akal.
***
Petang itu, suatu ruang dalam hati saya diuji, melihat nota dengan nominal yang seharusnya bisa saya gunakan untuk hidup beberapa hari kedepan harus begitu saja dikeluarkan untuk suatu kepentingan.
Sebenarnya bukan perkara gaya hidup, tapi perkara gaya makan yang tidak bisa ditahan. Saya laperan. Dan ketika lapar, saya memilih makan daripada tidak dapat beraktivitas produktif dengan baik. Apalagi, saat ini sedang berada pada hari-hari Ujian Akhir Semester yang mengharuskan saya ‘hidup’ lebih lama dari biasanya.
Dengan dua beban itu, saya merasa menjadi orang yang paling susah hidupnya di dunia, merasa menjadi orang yang paling sedikit mendapat pemasukan tapi paling banyak mengeluarkan.
Di depan mini market itu, terlihat seorang lelaki paruh baya, kulitnya legam terbakar matahari dan sudah mulai berkeriput. Ia duduk menyelonjorkan kakinya, dengan tatapan lurus kosong yang mengisyaratkan sebuah keinginan untuk beristirahat setelah menjalani hari yang begitu panjang dan melelahkan. Di sampingnya, tampak tumpukan krupuk dalam plastik yang jumlahnya tidak sedikit. Taksirku, ada puluhan bungkus krupuk di sana. Yakinku, itu semua adalah barang dagangannya.
Aku berasumsi bahwa bapak itu telah berjualan krupuk sepanjang hari, berkeliling kota dengan kedua kakinya saja, dan sampai malam yang sudah semakin larut itu, dagangannya tidak kunjung habis. Sementara mungkin ada keluarga di rumah yang menantinya untuk kembali, dengan membawa harapan agar mereka tetap dapat bernapas esok hari.
Dari tatap mata yang sempat bertemu dengan pandanganku itu, ada rasa gelisah, ada resah, serta ada harap yang terpancar. Di sana aku membaca rasa haus yang begitu mendalam, serta lapar yang ia tahan-tahan sedari siang.
Tapi pada saat seharusnya kemanusiaanku muncul itu, justru ia mati dan tak berguna lagi. Aku berlalu tanpa acuh, berusaha untuk tidak peduli dan pura-pura bodoh, pura-pura tidak dapat membaca situasi. Dan hal-hal seperti itu jika terus diulangi, akan benar-benar membuatku bodoh.
Dengan setumpuk ego di dalam hati, aku segera masuk ke mini market, menyelesaikan urusan, dan segera keluar untuk pergi. Sekali lagi, dengan pandangan yang dibuang dan berusaha untuk tidak peduli.
Beberapa puluh meter berlalu, baru hati ini rasanya tertampar keras sekali. Kenapa saya pergi begitu saja, tanpa membantu bapak tadi. Kepada orang sepertinya, yang hidupnya berat sekali tapi memilih untuk enggan meminta-minta tanpa usaha, seharusnya aku membantu. Seharusnya aku hadir dan membagi kebagaiaan. Betapa bodoh, dan penyesalan itu seketika menjelma menjadi rasa takut yang terus menghantuiku. Aku telah kehilangan sebuah kesempatan untuk menjadi manusia yang memanusiakan manusia lain. Menjadi manusia yang sedikit saja berguna bagi hidup orang lain.
Seandainya saja tadi saya membeli sebotol minuman yang cukup untuk membasahi kerongkongan keringnya, mungkin rasa sesal itu tidak menakut-nakutiku seperti ini.
Tolong yang seperti ini, jangan pernah terulang lagi.

Keberanian Gontor Bermimpi

Bermimpi bukanlah suatu ritual maha sakral yang hanya perlu dilakukan oleh individu. Kelompok kerja, organisasi, bahkan sesederhana lingkaran pertemanan pun perlu berani bermimpi. Tanpa mimpi-mimpi itu, hidup berjalan tanpa tujuan. Dan sebagaimana manusia sering katakan, hidup tanpa harap dan tujuan yang tidak melahirkan resiko-resiko adalah suatu hidup yang tidak dihidupi, alias an unlived life.

Sebagai suatu institusi yang telah tumbuh dan berkembang, serta masih terus dapat mempertahankan eksistensinya dalam dunia pendidikan di Indonesia bahkan dunia, Gontor adalah suatu teladan yang mengajarkan keberanian memiliki dan merealisasikan mimpi.

 Keberanian untuk bermimpi itu diwariskan secara turun-temurun lintas generasi. Dari Kyai kepada para guru, dari guru-guru kepada para santri, begitu seterusnya. Dan pada akhirnya, keberanian bermimpi serta merealisasikannya itu menjadi suatu watak dan ciri khas yang dimiliki oleh para orang yang pernah hidup dalam ritme dinamika Gontor. Dibawa sebagai suatu semangat yang terus membara, dan membuat alumnus Gontor sering kali berbeda dari orang-orang lain dalam lingkaran pergaulannya.

Saya yang pada suatu Jum’at di awal 2019 lalu berkesempatan untuk sowan ke Gontor, benar-benar telah menjadi saksi hidup bahwa lagi-lagi, salah satu mimpi besar Gontor terealisasikan. Mimpi yang telah menjadi nyata itu nampak secara fisik sebagai sebuah bangunan menara yang gagah nan perkasa, menjulang ke langit setinggi lebih dari 85 meter dari permukaan tanah. Dengan 15 lantai ditambah kubah setinggi 12 meter, menara ini menjadi bangunan yang tingginya tidak terkalahkan se karesidenan Ponorogo – Madiun.

Menara tersebut dilengkapi dengan sebuah studio editing milik Gontor TV di lantai dua, studio siaran dan studio rekaman milik Suara Gontor FM di lantai tiga, serta dua gardu pandang, masing-masing berada di lantai 10 dan 15. Dari gardu pandang tersebut, tampak kota Ponorogo membentang di semua penjuru arah dengan barisan bukit yang mengelilinginya.

Interior masing-masing ruangan didesain dengan konsep minimalis yang modern, menggambarkan kesan mewah, namun tidak lepas dari nilai-nilai kesederhanaan. Tiap sudutnya tampak indah dipandang. Dari puncak menara itu, ada empat buah jam raksasa yang menghadap ke empat arah mata angin. Dari puncak itu pula, adzan dilantunkan oleh santri yang bertugas tiap datang waktu shalat yang lima. Kecuali itu, ada bebunyian tertentu yang menandakan pergantian jam.

Dalam berbagai kesempatan, di depan dewan guru dan para santri, Kyai Hasan kerap menyampaikan bahwa kegagahan menara itu bukanlah untuk menyombongkan diri. Bukan pula suatu usaha untuk membuat orang-orang silau menatap Gontor. Melainkan sesederhana untuk membesarkan hati para santri, agar mereka bangga dengan jati dirinya. Sekaligus membuktikan bahwa santri dan pesantren tidak identik dengan lingkungan kotor nan nir estetika.

Bagi saya sendiri  menara yang berdiri di sebelah timur laut Masjid Jami’ Gontor itu, di atas tempat menara yang lama berdiri, selain merupakan sebuah bangunan yang membesarkan hati santri, juga adalah sebuah monumen yang menandai keberhasilan Gontor menjaga semangat untuk berani bermimpi sekaligus berani bersabar menjalani proses panjang yang terjal dalam merealisasikannya.

Masih jelas dalam ingatan saya ketika stadion sepak bola dan menara belum benar-benar dibangun, masih berupa impian-impian Pondok yang disampaikan oleh Kyai di hadapan para santri. Melalui sebuah retorika yang jenaka, Kyai Hasan kerap melontarkan humor akan membangun stadion yang rumputnya tidak kalah dengan rumput camp nou, canda tersebut disambut dengan gelak tawa oleh guru-guru dan para santri.

Dalam beberapa kesempatan pula, dengan intonasi dan mimik yang serius, Kyai Hasan berujar di hadapan para santri, “Insya Allah! Dengan izin Allah, kalau saya masih diberi umur untuk hidup, kita bangun menara yang baru!”.  Barangkali, saat itu saya merupakan salah satu santri yang merinding mendengar frasa ‘masih diberi umur’, namun kemudian justru kalimat itulah yang turut menunjukkan jiwa totalitas Gontor, membuktikan bahwa semangat bermimpi dan menjadikan mimpi-mimpi itu terealisasi memang dipraktekkan oleh Gontor dan semua elemennya, termasuk para Kyai, guru, serta ditanamkan kepada para santri-santri.

Di kemudian hari, baik mimpi yang diceritakan secara jenaka maupun serius itu benar-benar terwujud menjadi nyata. Dengan kemandirian ekonomi proteksi dan bantuan Allah, keyakinan Gontor bermimpi satu-persatu terasa dikabulkan.

Ternyata, budaya memiliki mimpi itu memang telah dipraktekkan sejak awal pondok berdiri, bahkan mungkin bisa dikatakan bahwa Gontor menjadi besar pun juga bersama keyakinan akan mimpi-mimpinya. Ketika Trimurti masih memimpin, Pak Zar, panggilan untuk K.H. Imam Zarkasyi, memiliki ungkapan yang sangat diingat oleh santri-santri: “Gontor sekolahku, Saudi pelataranku, Eropa pelanconganku”. Kala itu, gedung yang dimiliki oleh Gontor adalah sebuah masjid kecil dan gedung kelas di sebelah baratnya. Sementara di sekeliling pondok adalah hamparan sawah yang luas. Di kemudian hari, di atas tempat Pak Zar mengucapkan mimpinya itu, berdirilah sebuah gedung asrama santri yang diberi nama gedung Saudi pula. Dan sampai saat ini para alumni Gontor, kecuali ke Eropa, juga telah menyebar ke 4 benua lainnya, membawa pesan dan nilai-nilai Gontori yang didakwahkan melalui teladan yang dipraktekkan oleh diri mereka sendiri terlebih dahulu.

Monumen-monumen lain yang menandai keberhasilah Gontor mewujudkan mimpinya adalah Masjid Jami’ dan Balai Pertemuan. Bangunan Balai Pertemuan yang berada di pusat keramaian Gontor dan belum diubah bentuk aslinya sampai saat ini itu, didesain untuk dapat menampung 2000 orang dalam satu ruangan. Padahal ketika dibangun, santri Gontor jumlahnya masih sekitar 500-an. Namun Gontor yakin bahwa kelak, bahkan Balai Pertemuan yang didesain untuk empat kali lipat jumlah santri saat itu pun tidak mampu menampung semua santri Gontor dalam satu pertemuan.

Begitu pula Masjid Jami’ yang dengan dua lantai didesain untuk dapat menampung 4000 santri. Padahal ketika dibangun pada tahun 70-an, santri Gontor masih sejumlah 1500-an orang. Namun sekali lagi, Gontor yakin bahwa desain tersebut terlalu kecil untuk menjadi tempat shalat berjamaah seluruh santri suatu hari nanti.

Dan kini, keyakinan yang terselip dalam bangunan-bangunan itu terwujud. Saat ini ada 20 cabang Gontor di seluruh Indonesia, dengan total jumlah santri aktif lebih dari 24.000 orang.

Mimpi-mimpi serta keyakinan yang menyertainya itu kian menjadi nyata. Dan tentu Gontor akan selalu memiliki mimpi, demi menjaga eksistensinya untuk terus memegang peran mendidik umat. Satu hal yang mungkin perlu kita ketahui adalah, bahwa mimpi-mimpi yang Gontor miliki bukanlah mimpi-mimpi yang egois, bukan pula mimpi yang hanya ingin membesarkan Gontor. Selalu ada kepentingan bersama, selalu ada maksud untuk kebaikan umat juga. Bahka ketika semakin kuat Gontor dan pengaruh pendidikannya, akan semakin banyak pula orang-orang yang memiliki jiwa keikhlasan diterjunkan ke masyarakat untuk menjadi seorang pendidik, pada peran apapun yang mereka mainkan. Dan itu juga bagian dari mimpi Gontor untuk mewujudkan ‘1000 Gontor’ di Indonesia.

Sebagai individu, kita juga perlu memiliki mimpi-mimpi yang diamini oleh banyak orang agar impian kita besar, dan agar kita dipertemukan dengan orang-orang yang mimpinya sama untuk berjuang bersama.

Dekatnya Iman dan Impian

Sebagai Sang Kausa Prima, yakni sebab dari segala sesuatu namun Ia sendiri tidak disebabkan oleh suatu hal yang lain, Allah ta’ala selalu menghargai proses yang dijalani oleh hambanya. Sebagai satu contoh, Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Ia kehendaki, sebagaimana Ia menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya pula, namun kehendak Allah tersebut tentu tidak pernah lepas dari perilaku para hamba itu sendiri.

Kalau boleh menganalogikan, bagi saya istilah ‘kehendak’ tersebut adalah semacam restu, dan jalan dari Allah yang diberikan kepada manusia atas apa yang mereka minta. Ketika kita menjalani suatu rangkaian proses yang membawa kita pada keimanan dan ketaqwaan, maka Allah akan memberikan kehendak-Nya dengan menunjukkan jalan mana lagi yang harus di tempuh, serta ke arah mana kita harus melangkah kemudian, hingga kita terus maju menuju ridho Allah Swt. Kehendak itu juga bisa jadi berupa anugerah rasa nikmat dalam hati kita ketika menjalani prosesnya, sehingga seberapa beratpun proses itu, kita tetap mampu konsisten dengan keimanan dan ketaqwaan.

Sebaliknya, ketika seseorang menjalani rangkaian proses yang menjauhkan diri dari Iman, menjauhi hal-hal yang telah ditentukan supaya diri manusia hidup sesuai dengan ajaran Islam, Allah pun akan menghendakinya dengan memberi jalan supaya mereka lebih jauh, semakin jauh, lagi, dan lagi, hingga yang bersangkutan akhirnya tersesat dalam kegelapan, tidak mampu melihat cahaya untuk kembali pulang pada kebenaran.

Begitulah kehendak Allah, yang pada dasarnya, sangat berkaitan juga dengan kehendak dan perilaku kita sendiri sebagai manusia. Berkenaan dengan uraian di Atas, Imam Syafi’I memiliki gambaran yang sangat indah sekali tentang Iman. Dalam perspektif Imam Syafi’I, Iman adalah perkataan dan perbuatan, dapat bertambah dan berkurang, ia bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan maksiat.

Jika setuju dengan gambaran Imam Syafi’I tentang iman di atas, maka bagi saya perkara Iman adalah tentang keberanian, tentang seberapa tangguh kita bisa menyelesaikan gejolak di dalam di dalam hati dengan mengambil jalan yang paling benar. Apabila Iman akan bertambah dengan ketaatan, maka kita selalu punya pilihan untuk taat, atau bermaksiat. Memaksa diri untuk selalu berada dalam jalur ketaatan agar iman kita senantiasa bertambah kuat lagi dan terus memang bukan urusan mudah. Kita selalu dihadapkan dengan godaan berupa rasa malas dan nafsu untuk tidak taat demi kesenangan duniawi yang sementara. Namun justru di situlah esensi iman itu berada, pada seberapa yakin kita bahwa keimanan akan membawa kita pada kebahagiaan hidup yang hakiki, dan akan menghadiahi kita dengan balasan-balasan dari Allah, baik bersifat material ataupun tidak.

Sebagai contoh sederhana, kita sering terbangun pada penghujung malam ketika shalat tahajjud seharusnya didirikan. Baik oleh alarm yang sudah kita pasang, atau terbangun secara alami. Pada saat itulah gejolak dalam hati kita terjadi. Apakah kita berani untuk melawan sisa rasa kantuk, lalu bangun untuk berwudhu dan mendirikan shalat, atau justru kalah pada pertempuran dan terus tertidur hingga waktu subuh datang. Pilihan kita pada saat gejolak dalam hati itu terjadi, tentu sangat dipengaruhi oleh seberapa yakin kita bahwa bangun untuk shalat jauh lebih baik dan bernilai daripada tetap tidur di atas ranjang.

Dari penjelasan di atas, kita sama-sama mengetahui bahwa Iman selalu dapat kita tingkatkan dengan konsistensi kita menjalani rangkaian proses yang telah Allah tunjukkan jalannya dalam Al-Qur’an.

Begitu pula dengan impian yang kita miliki.

Ia membutuhkan konsistensi, ia membutuhkan keberanian kita, ia membutuhkan perhatian dan keyakinan.

Kita selalu bisa mengatur posisi diri kita terhadap impian-impian yang ingin kita realisasikan. Apakah semakin dekat, atau justru kita berjalan mundur dan menjadi semakin jauh. Sebagaimana Iman yang memiliki jalan-jalan tertentu untuk meningkatkan kualitasnya, setiap impian yang kita pasang juga memiliki jalan-jalan tertentu yang akan membawa kita semakin dekat dengannya.

Ketika memiliki suatu goal dalam hidup, maka kita harus berani menerima konsekuensi untuk siap menempuh jalannya. Untuk dapat selalu berada di atas jalan yang mendekatkan kita pada impian-impian itu, tentu selalu ada halangan yang sama : rasa malas untuk berproses.

Kita memiliki target untuk mendapat nilai A dalam suatu mata pelajaran, dan menjadi mahasiswa yang berprestasi. Maka setiap hari kita selalu memiliki pilihan, apakah akan bangun lebih pagi, belajar lebih keras, membaca lebih banyak, atau justru memilih untuk tetap bermalas-malasan dan menjalani rutinitas tidak produktif yang sama. Lalu seberapa tangguh kita akan terus konsisten menjalani prosesnya yang berat dan melelahkan, itu tergantung pada seberapa kita yakin pada impian kita. Seberapa kita percaya bahwa di balik hal-hal yang melelahkan itu, ada kenikmatan dan kebahagiaan yang hakiki.

Tentang seberapa kita ‘beriman’ kepada impian kita. Sebab sebagaimana iman, impian juga harus dibuktikan dengan perkataan dan perbuatan.

Dibalik Objektivitas Nilai Ujian di Gontor

Ketika lembaga pendidikan lain di Indonesia yang mengikuti perkembangan teknologi informasi mulai menerapkan Computer Based Test(CBT) dalam pelaksanaan Ujian Nasional, dalam Imtihan Nihaiy, Gontor tetap teguh pendirian dengan sistem ujian yang tidak menyediakan pilihan ganda sama sekali. Sebenarnya sistem ujian seperti itu bukan hanya dilaksanakan pada Imtihan Nihaiy alias ujian akhir untuk para santri kelas 6, sejak kelas satu, semua jenis ujian tulis yang ada di Gontor tidak pernah menyediakan pilihan ganda.

Ujian tulis di Gontor sepenuhnya dilaksanakan dengan pertanyaan esai yang menuntut seorang santri untuk mengungkapkan hasil belajar yang tersimpan di dalam kepalanya ke dalam bentuk tulisan di atas kertas lembar jawaban. Pelaksanaan ujian semacam itu menuntut seorang santri untuk menguasai materi pelajaran seutuhnya. Sebab kelengkapan jawaban, kesesuaian huruf bahkan harokat aksara arab sekalipun bisa jadi mempengaruhi nilai. Begitu juga pada ujian materi pelajaran matematika. Dalam ujian pilihan ganda, seseorang bisa memilih jawaban secara asal dan mengharapkan kebetulan memilih huruf dengan jawaban yang betul. Hal tersebut tentu tidak akan berlaku dalam sistem ujian esai karena setiap cara yang ditulis pada lembar jawaban untuk menyelesaikan soal akan diberi nilai.

 Selain itu, sistem ujian dengan pertanyaan esai semacam itu juga merupakan cara yang sangat ampuh untuk melawan satu hal yang paling diperangi oleh Gontor dalam ujian : Menyontek. Tentu seorang murid akan sangat kesulitan jika harus menyontek jawaban orang lain berupa kalimat-kalimat bahasa arab yang ditulis dengan khot masing-masing yang pun kadang tidak bisa dimengerti maksud tulisannya kecuali oleh pemiliknya sendiri dan Tuhan Yang Maha Esa. Tidak seperti ujian pilihan ganda yang menyonteknya cukup diketahui nomer dan abjadnya saja.

Karena tidak menerapkan sistem pilihan ganda, tentu Gontor tidak punya Lembar Jawab Komputer, juga alat scan pengoreksinya. Yang ada hanyalah lembar jawaban berupa kertas buram yang ditempeli selembar kertas lain untuk menulis identitas diri, dan para pengajar mata pelajaran yang mengoreksi lembar jawaban murid-muridnya secara objektif, murni berdasarkan jawaban yang tertulis tanpa terpengaruhi siapa muridnya dan apa yang telah dilakukan untuk gurunya. Kali ini saya akan sedikit bercerita tentang perjalanan kertas buram tempat santri menulis jawaban ujian itu dan sistem yang menjaga objektivitas penilaian seorang guru terhadap jawaban muridnya.

Di kantor harian panitia ujian semester, ada sebuah ruangan dimana seluruh kertas jawaban para santri dikumpulkan oleh masing-masing pengawas. Kemudian lembar-lembar jawaban tersebut disortir perkelas dan diserahkan kepada pengajar masing-masing mata pelajaran untuk dikoreksi.

Khusus untuk tugas yang memerlukan ketelitian tingkat tinggi ini, panitia memiliki pasukan sejumlah 35 orang dari santri kelas 6 yang disebut dengan nomerator. Mereka tidak sembarang dipilih, kriterianya adalah berasal dari rentang kelas B sampai F, dan memiliki rekam jejak akademis yang baik. Hal tersebut semata-mata dilakukan untuk meminimalisir keteledoran yang mungkin terjadi di ruangan tersebut. Sebab kesalahan kecil dalam pekerjaan nomerator, taruhannya adalah nilai ujian para santri.

Sebelum melanjutkan tulisan, berikut adalah gambaran sirkulasi lembar jawaban yang masuk dan keluar ruang numerator.

Santri Gontor di kampus pusat dari kelas satu sampai lima jumlahnya mencapai 3000 orang lebih. Mereka dibagi ke dalam kelas-kelas yang kurang lebih jumlah murid perkelasnya adalah 35 orang. Setiap hari, satu kelas menghadapi 2-3 jam pelajaran ujian. Rata-rata jumlah abjad dari semua kelas pada tahun ini adalah 13. Jika saja dipukul rata bahwa semua kelas menghadapi 2 mata pelajaran setiap hari, maka dalam satu hari minimal ada 6.370 lembar jawaban yang masuk ke ruang numerator. Jumlah itu belum termasuk mereka yang meminta kertas tambahan karena satu saja tidak cukup untuk menulis hasil belajar mereka. Dan belum termasuk kelas tiga, empat, dan lima yang hampir setiap hari menghadapi 3 mata pelajaran.

Jadi dalam satu ujian semester selama 11 hari, jumlah kertas lembar jawaban yang bersirkulasi di ruang numerator bisa mencapai 80.000 kertas lebih.

Setelah para pengawas ruang ujian mengumpulkan lembar jawaban di tempat yang telah dipisahkan perkelas, tugas pertama seorang nomerator adalah mengabsen lembar jawaban yang masuk, hal itu untuk memastikan lembar jawab dari satu kelas yang sebelumnya terpisah di beberapa ruang sudah lengkap. Juga agar tidak ada lembar jawaban dari kelas lain yang tercampur. Jika belum lengkap, mereka tidak boleh melanjutkan pekerjaan ke langkah selanjutnya, mereka harus tahu kemana perginya lembar jawab tersebut terlebih dahulu dan dan menemukannya.

Setelah lembar jawaban dari satu kelas pada satu mata pelajaran sudah lengkap, mereka akan menulis nomor yang sama pada lembar jawaban dan lembar identitas diri. Penulisan nomor tersebut tidak boleh sembarangan, ada beberapa mekanisme yang harus dipatuhi. Pertama dan yang paling penting, nomerator tidak boleh menulis nomor yang sama dengan nomor absen santri tersebut di kelasnya. Kedua, tidak boleh pula menulis secara urut dari belakang. Yang jelas, pemberian nomor pada lembar jawaban tidak boleh membentuk suatu pola tertentu, harus secara acak.

Setelah selesai memberi nomor, setiap numerator melaporkan hasil pekerjaannya kepada panitia ujian, langsung berhadap-hadapan. Untuk kedua kalinya, panitia ujian memeriksa agar tidak ada satupun lembar jawaban yang belum diberi nomor, dan memastikan bahwa pemberian nomor tidak membentuk suatu pola tertentu.

Kemudian bersama panitia ujian, numerator melepas semua kertas identitas diri dari lembar jawabnya, jadilah lembar jawaban itu tidak diketahui milik siapa karena tidak ada tanda lain selain nomor acak yang ditulis oleh nomerator. Nantinya, hanya panitia ujian sajalah yang tahu suatu lembar jawab milik siapa karena mereka saja yang menyimpan lembar identitas diri itu. Hal tersebut juga mengingat bahwa panitia ujianlah yang bertugas memasukkan nilai ujian para santri.

Pada tahap akhir, nomerator memasukkan lembar jawab yang sudah ‘ditelanjangi’ itu ke dalam satu amplop lalu menyegelnya. Selanjutnya adalah tugas tim lain bernama distributor untuk menyerahkan amplop tersebut kepada para pengajar setiap materi.

Ketika mengoreksi, seorang pengajar hanya mendapatkan lembar jawab tanpa identitas diri, hanya ada nomor-nomor acak yang nantinya digunakan untuk mengidentifikasi suatu lembar jawab dalam proses memasukkan nilai. Hal ini tentu membuat seorang pengajar tidak mengetahui lembar jawab milik siapakah yang sedang ia koreksi, ia tidak berkesempatan untuk meninggikan nilai seseorang dari yang lain karena suatu alasan. Seorang guru tidak bisa memberi bonus nilai karena seorang santri berasal dari daerah yang sama dengannya, atau seorang santri adalah anggota klub olahraganya, dan lain sebagainya. Pilihannya hanya ada satu : mengoreksi semua lembar jawaban secara objektif.

Meskipun Gontor sangat memperhatikan akhlak setiap santrinya, pada ujian tulis, santri yang akhlaknya kurang, bahkan terhadap pengajar di kelasnya sekalipun tetap mendapatkan kesempatan untuk mendapatkan nilai tinggi sebagai hasil dari belajarnya. Meskipun santri yang kurang baik akhlaknya tentu akan mendapat konsekuensi lain.

Dalam ujian tulis di Gontor, semua santri mendapatkan hak dan kesempatan yang sama untuk berkompetisi tanpa memandang siapa diri mereka dan apa yang mereka miliki. Apakah tidak taat kepada guru, atau mereka yang terkesan sangat berbakti kepada guru karena sering mengirimkan titipan camilan dari orang tuanya, dan siapapun saja, semuanya mendapat kesempatan yang sama untuk dinilai secara objektif, sesuai dengan hasil belajar mereka yang dituangkan dalam lembar jawab ujian.


Kecopetan di Jakarta!

Definisi bahagia bagi saya sangatlah sederhana; bepergian jauh dengan bis berpendingin udara selama berjam-jam, sambil mendengarkan lagu kesukaan dengan earphone dan melihat berita terkini di media sosial melalui perangkat telpon genggam pintar. Saya sangat suka dengan suasana seperti itu. Melihat keramaian di jalan raya malam berpenerangan lampu-lampu kuning dari balik kaca bus.

Momen seperti itu, saya rasakan ketika saya menghabiskan awal liburan panjang di bulan Ramadhan 1436H lalu. Ketika itu, saya bersama teman-teman kru klub jurnalistik di sekolah merencanakan sebuah perjalanan ke Jakarta untuk berkunjung ke kantor-kantor media massa nasional, baik cetak, elektronik, ataupun online.

Saat itu kami duduk di kelas X SMA, ketika naik kelas usai liburan panjang di bulan Ramadhan itu, kami akan menjadi pengurus klub jurnalistik tersebut. Maka tujuan kami mengadakan perjalanan tersebut adalah untuk menimba ilmu agar nanti kami memiliki ‘sesuatu’ untuk dibagikan kepada anggota klub kami.

Yang sedang berselfie : Iqbal Aziz. Salah satu
foto yang terselamatkannya sangat saya
syukuri!

Bahagia sekali ketika itu saya berangkat dari Boyolali menuju Jakarta ditemani OPPO Neo yang baru saja keluar di pasaran saat itu. Dengan ponsel pintar itu, saya benar-benar merasakan bahwa kemajuan teknologi dapat memudahkan kita menjalani hidup, dan bisa menjadi perantara untuk mendatangkan kebahagiaan batin.

Kecuali memudahkan kami menemukan rute perjalanan dari tempat singgah menuju kantor-kantor berita yang kami hendak kunjungi, ponsel tersebut juga sangat menunjang kegiatan kami dengan kemampuannya merekam suara yang hasilnya jernih, dan mengambil gambar dengan resolusi tinggi. Saya benar-benar merasakan bahwa OPPO Neo itu adalah salah satu hasil karya tangan manusia paling luar biasa.

Suatu hari, jadwal kunjungan kami adalah ke kantor Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia di Kwitang, Senen, Jakarta Pusat. Kami berkunjung ke kantor AJI pada siang hari. Selama di kantor AJI, saya merekam sesi belajar kami bersama perwakilan wartawan dari AJI yang hampir 2 jam itu dengan Neo. Bahkan sebelum pamit, kami juga berpose mengambil gambar.

Saya benar-benar tidak memiliki firasat bahwa suatu hal buruk akan terjadi hari itu.

Selepas shalat ashar, kami pulang menuju tempat singgah di Jakarta Selatan dengan Trans Jakarta dari halte Kwitang. Perjalanan pulang kami itu bersamaan dengan jam selesainya kantor-kantor di Jakarta, alhasil, bus yang kami tumpangi penuh sesak dengan pekerja kantoran.

Dalam kondisi ramai seperti itu, kami sekelompok lupa berprinsip untuk saling tidak menjauh dan saling mengawasi satu sama lain. Pertama agar tidak ada yang hilang atau ketinggalan, kedua agar barang yang kami bawa aman.

Selama perjalanan di Jakarta itu, saya selalu membawa tas kecil berbahan jeans yang menggantung di pundak saya. Di dalam tas kecil itu, saya menyimpan buku tulis, handycam, dompet, dan ponsel. Melihat muka-muka lelah manusia di sekitar saya ketika itu, saya tidak memiliki rasa curiga sama sekali. Dan itu juga berarti bahwa saya telah kehilangan rasa untuk selalu berwaspada.

Saya berdiri di tengah-tengah bus dalam keadaan saling berhimpitan dengan penumpang lain. Ketika bus melewati bundaran Hotel Indonesia, saya sempat mengeluarkan ponsel dari dalam tas untuk sekedar memeriksa pemberitahuan terbaru dari media sosial. Berusaha untuk menghemat pemakaian baterai, saya meminimalisir pengguaan ponsel dan memasukannya kembali ke dalam tas. Mungkin saya tidak sadar bahwa ketika itu bisa jadi ada sepasang mata yang telah mengamati saya.

Begitu bundaran HI sudah lewat, entah dengan motivasi apa, saya ingin kembali mengecek pemberitahuan media sosial di ponsel. Karena sudah hafal di bagian mana saya biasa meletakkan ponsel di dalam tas, saya hanya perlu membuka resleting dan memasukkan tangan saya tanpa perlu melihat. Tapi saya tidak menemukan ponsel yang hendak saya ambil. Kali pertama tidak menemukan benda itu, saya masih berbaik sangka. Mungkin ponsel itu terselip di antara benda-benda lain di tas kecil saya. Saya mencoba membukanya dan memilah setiap benda. Satu-persatu. Dalam keadaan bus tengah berjalan dan saya berada di tengah keramaian yang saling berdesakan itu. Namun tetap tidak ada.

Ketika itu saya menyadari bahwa suatu hal buruk mungkin saja telah terjadi pada saya; kecopetan. Meskipun saya masih mencoba menyisakan sedikit ruang baik sangka, yakni dengan berharap bahwa ponsel saya terselip di bagian paling bawah tas kecil itu. Walaupun pendingin udara di dalam bus menyala, saya merasa tubuh saya mulai kepanasan, justru dengan keringat dingin yang mulai mengalir dari pori-pori setiap jengkal kulit tubuh saya. Jika benar saya ini kecopetan, maka copet itu masih ada di dalam bus ini, di antara penumpang yang berdesakan karena bus memang belum berhenti di halte selanjutnya sejak saya naik. Namun saya tidak tahu harus melakukan apa. Apakah saya harus berterika kecopetan? Atau saya harus menyampaikan perihal ini kepada petugas keamanan di dalam bus, jika ya apakah ada?

Hal pertama yang saya lakukan adalah menyampaikan keresahan saya itu pada teman saya dengan bahasa arab, agar orang lain tidak tahu. Mereka berusaha meyakinkan saya bahwa saya hanya telah salah menaruhnya di dalam tas. Sekali lagi saya berbaik sangka karena handycam masih ada di dalam tas.

Ketika turun dari TransJakarta, saya mengeluarkan semua isi tas kecil saya itu, dan ternyata; saya kecopetan! Sulit sekali mendeskripsikan apa yang saya rasakan saat itu. Marah dan kesal, tapi bagaimana saya melampiaskannya? Rasanya seperti ingin menangis dan berteriak kencang-kencang. Tapi saya tahu itu tidak akan membuat ponsel saya kembali. Membayangkan bagaimana saya akan menghabiskan sisa beberapa hari perjalanan di Jakarta tanpa ponsel itu sangatlah mengerikan. Di ponsel itu ada peta, nomor kontak kantor-kantor yang akan kami kunjungi, foto-foto dokumentasi beberapa hari terakhir yang cukup banyak, dan rekaman presentasi setiap kunjungan.

Yang membuat perasaan saya semakin tidak karuan adalah kenyataan bahwa usia ponsel itu belum genap satu minggu, dan aslinya bukan dibeli untuk saya. Saya hanya dipinjami saja.

***

Konsulat adalah organisasi pelajar yang berasal dari daerah yang sama. Karena saya berasal dari Boyolali, maka secara otomatis saya tergabung di Konsulat Surakarta-Jogjakarta. Sebuah tradisi yang sudah berjalan selama bertahun-tahun konsulat kami adalah mengadakan pentas seni pada awal liburan panjang akhir tahun. Tempatnya berpindah-pindah setiap tahun. Biasanya, para orang tua kami menjemput di tempat acara.

Pada acara tahun itu, saya berasa sedikit aneh. Saya tidak menemukan orang tua saya datang hingga acara hamper selesai. Biasanya sebelum acara dimulai pun, minimal saya sudah melihat ibu saya datang. Di sela-sela acara, berulang kali saya mengelilingi tempat mobil-mobil para tamu diparkirkan. Sengaja mengecek apakah mobil keluarga kami sudah datang atau belum. Dan memang belum.

Baru ketika acara selesai, setelah saya mengemasi barang, saya bertemu dengan bapak saya yang sudah menunggu di area parkiran.

“Sendirian, bah?” Tanya saya.

“Ya.”

“Umi mana?”

Tak ada jawaban, dan saya berfirasat buruk. Insting paranoid saya suka menari-nari di kepala pada suasana membingungkan seperti ini. Saya terbiasa menahan diri untuk tidak mengulangi pertanyaan. Mungkin orang lain lebih tahu mengapa ia tidak menjawab sebuah pertanyaan. Bapak hanya memberikan ponsel yang katanya baru saja dibelikan untuk kakak saya yang beberapa belas hari lagi akan lulus dari pondok. Untuk sementara waktu, ponsel itu saya pakai dulu saja untuk ke Jakarta.

Setelah beberapa kilometer mobil berjalan, beliau baru memberi tahu bahwa ibu saya sedang berada di rumah sakit. Sudah beberapa hari ini dirawat inap di Rumah Sakit Dr. Oen Sawit. Beliau baru saja menjalani operasi karena telah menjadi korban tabrak lari oleh seseorang yang tidak dikenal bermotor vixion. Peristiwa tersebut terjadi ketika ibu saya hendak menyebrangkan beberapa ibu-ibu lain dalam rombongan yang hendak menunaikan shalat maghrib berjamaah.

Peristiwanya terjadi sangat cepat. Ibu saya terjatuh di atas aspal. Beberapa orang yang melintas berusaha mengejar pelaku. Tapi manusia tak bertanggung jawab itu terlalu cepat. Hilang dimakan lalu lintas Solo Baru yang ramai.

Saya kalut.

Berusaha menahan air mata agar tidak menetes. Kenapa saya baru diberi tahu.

Berarti peristiwa tersebut terjadi ketika saya sedang menjalani Ujian Akhir Semester di Pondok. Berita ini pasti sengaja dirahasiakan dari saya.

Kami berdua pulang ke rumah sekedar mengambil beberapa helai baju untuk ganti, kemudian melanjutkan perjalanan kembali ke rumah sakit DR. Oen. Di sana, melihat ibu saya terbaring di atas ranjang rumah sakit, saya tidak bisa lagi menahan air mata untuk tidak menetes. Saya menangis sejadi-jadinya, sambil memeluk ibu saya yang terbaring di atas ranjang.

Berulang kali beliau mengatakan bahwa beliau baik-baik saja. Pernyataan yang semakin dikatanan semakin membuat air mata saya bertambah deras mengalir.

Yang membuat saya lebih kalut adalah fakta bahwa peristiwa tabrak lari tersebut terjadi tepat setelah ibu saya membeli ponsel yang saya pegang saat itu.

Dan saya, telah memberikannya secara sukarela kepada pencopet Jakarta sebelum usianya genap sepekan

Anak macam apa saya ini.

….

Sejak saat itu, saya seperti memiliki trauma berkepanjangan. Dimana setiap kali saya naik kendaraan umum, saya selalu merasa tidak aman, seperti selalu ada yang tengah mengintai saya, dan menunggu saat dimana saya lelah, untuk kemudian mereka menjarah barang-barang saya. Trauma seperti ini mengerikan karena saya memiliki banyak tuntutan untuk bepergian dengan bus dan kereta.

Saran saya, ketika berada dalam keramaian semacam di dalam Trans Jakarta yang sedang padat, pastikan barang berharga termasuk dompet dan ponsel, berada dalam pengawasan anda. Mungkin lebih baik anda memakainya untuk bermedia sosial atau sekedar mendengarkan musik, walaupun seolah mencolok dan mengundang perhatian copet, tapi bukankah itu lebih baik daripada anda menaruhnya di dalam tas lalu hilang tanpa anda tahu siapa yang telah mengambilnya?

Pak Nur dan Worldview Aqidah Islamnya

Di suatu sudut  dalam ruang dosen pria di kampus Rabitah Universitas Darussalam Gontor itu, ada satu benda yang kurasa karena terlalu lama tak tersentuh oleh tangan manusia, mulai berdebu tipis permukaannya. Benda itu adalah stopmap hard cover berwarna biru dongker. Isinya hanyalah beberapa lembar absen kehadiran mahasiswa dan satu lembar kertas HVS jurnal materi kuliah untuk dosen. Dari beberapa lembar yang masing-masing berisi 5 kolom kehadiran, hanya ada satu kolom yang sudah terisi.
Benar! Selama hampir 4 bulan masa aktif perkuliahan, kami baru masuk satu kali saja. Tidak lebih dan tidak kurang. Ketika masuk untuk kedua kalinya, Pak Muhammad Nur, sang dosen, menyatakan bahwa dirinya bahkan sampai lupa mengajar materi apa di kelas kami. Sementara beliau tidak tahu bahwa kami para mahasiswanya ini sangatlah berharap-harap untuk masuk lagi dan masuk terus pada mata kuliah Worldview Aqidah Islam.
Pada pertemuan pertama, Pak Nur telah membuat peraturan bahwa mata kuliah yang diampunya akan selalu dimulai pukul 7 tepat. Walaupun hanya satu orang saja yang sudah datang, maka kuliah akan tetap dimulai. Mahasiswa diberi waktu tenggng selama sepuluh menit terhitung dari pukul 7 tepat. Selama masa tenggang itu, silakan masuk saja ke ruang kuliah tanpa salam tanpa permisi. Itu hak kalian. Tapi jika terlambat, jangan berani masuk, mendingan pulang saja karena tidak akan dihitung hadir. Konsekuensi atas peraturan yang telah disepakati bersama itu juga berlaku untuk dirinya sendiri sebangai sang dosen. Apabila sampai pukul tujuh lewat sepuluh menit dirinya belum hadir, maka kami para mahasiswanya dipersilakan untuk meninggalkan kampus. Kuliah secara otomatis telah ditiadakan.
Begitulah kami setiap hari Sabtu malam, datang pukul tujuh tepat, menunggu selama 10 menit, lalu pulang karena Pak Nur tidak datang. Padahal dalam sakit hati saya yang karena tidak mendapat jurusan sesuai pilihan itu, mata kuliah Worldview Aqidah Islam yang diampu Pak Nur seolah-olah telah menjadi obat penawarnya.
Dalam kuliah di Universitas Darussalam yang memang sudah saya rencanakan hanya akan berlangsung selama dua semester ini, saya telah memasang niat untuk memperkuat aqidah islam saya sebagai dasar menghadapi kehidupan dunia luar pondok nanti. Cita-cita saya, memiliki keahlian komputer sekaligus tetap mampu mendalami ilmu agama dengan baik. Kualifikasi seperti itu yang telah lama saya anggap sebagai ideal. Realisasinya, saya memilih program studi Aqidah Filsafat Islam yang memang telah menjadi prodi unggulan Universitas Darussalam Gontor. Konon, banyak universitas lain yang pengajaran Aqidah Filsafat Islamnya telah melenceng.
Ketika menjalani tes wawancara dengan dosen prodi tersebut, saya menyampaikan secara jujur mengapa saya memilih Aqidah Filsafat Islam. Sayang sekali ternyata saya tidak ditempatkan di prodi tersebut. Saya justru tersesat di Perbandingan Madzhab Fakultas Syariah. Padahal prodi tersebut sama sekali tidak saya pilih. Untuk tiga prodi yang diajukan, saya memilih Aqidah Filsafat Islam, Ilmu Qur’an dan Tafsir, baru Ilmu Komunikasi yang tidak jauh-jauh dari passion saya.
Mendapat Perbandingan Madzhab adalah ketersesatan bagi saya.
Ketika Pak Nur masuk pertama kali pada saat bulan pertama masa aktif kuliah hampir lewat, saya seperti kehujanan setelah melalui perjalanan panjang di gurun yang gersang lagi panas. Nikmat! Segar! Saya merasa mendapat injeksi semangat untuk kuliah, pada mata kuliah Worldview Aqidah Islam saja tapi. Pertemuan pertama itu membahas konsep Islam, Iman, dan Ihsan. Lalu di akhir pertemuan pertama tersebut, beliau menjabarkan apa saja yang akan kami pelajari dalam mata kuliahnya. Antara lain; konsep Tuhan, konsep wahyu, konsep rasul, dan lain sebagainya. Inilah yang saya cari-cari sejak lama di kampus ini! Teriak saya dalam hati.
Pembahasan mata kuliah bersama Pak Nur itu terasa nyaman sekali. Penyampaiannya membuka cakrawala rasa ingin tahu kami atas ilmu pengetahuan. Rasanya seperti ingin belajar, belajar, dan terus belajar. Mencari, mendengar, dan mendalami. Kuliah bersama Pak Nur dua jam sama sekali tidak melelahkan. Bahkan saya tidak akan keberatan sama sekali apabila setiap pertemuannya akan menjadi seperti itu.
Mempelajari hal yang kita sukai dari orang yang tepat memang selalu menyenangkan. Orang yang tepat, bukan hanya membuat kita yang suka betah berlama-lama, tapi juga membuat mereka yang malas menjadi tertarik untuk membuka mata. Sebaliknya, kadang kita justru menjadi kurang nyaman dengan suatu hal yang pada awalnya kita sukai hanya karena orang yang menyampaikannya tidak tepat. Tidak bisa membawakan.

Dari situ saya belajar, untuk memotivasi diri agar menjadi orang yang tepat pada setiap mata pelajaran yang saya bawakan di kelas. Dan saya merefleksikannya agar saya tidak memandang suatu secara sempit, seperti hanya pada siapa yang mengajarkannya. Apabila suatu pelajaran kurang menarik karena sang pengajar kurang bisa membawakannya, saya harus mencari jalan lain agar asya tetap suka untuk mempelajarinya.