Dibalik Objektivitas Nilai Ujian di Gontor

Ketika lembaga pendidikan lain di Indonesia yang mengikuti perkembangan teknologi informasi mulai menerapkan Computer Based Test(CBT) dalam pelaksanaan Ujian Nasional, dalam Imtihan Nihaiy, Gontor tetap teguh pendirian dengan sistem ujian yang tidak menyediakan pilihan ganda sama sekali. Sebenarnya sistem ujian seperti itu bukan hanya dilaksanakan pada Imtihan Nihaiy alias ujian akhir untuk para santri kelas 6, sejak kelas satu, semua jenis ujian tulis yang ada di Gontor tidak pernah menyediakan pilihan ganda.

Ujian tulis di Gontor sepenuhnya dilaksanakan dengan pertanyaan esai yang menuntut seorang santri untuk mengungkapkan hasil belajar yang tersimpan di dalam kepalanya ke dalam bentuk tulisan di atas kertas lembar jawaban. Pelaksanaan ujian semacam itu menuntut seorang santri untuk menguasai materi pelajaran seutuhnya. Sebab kelengkapan jawaban, kesesuaian huruf bahkan harokat aksara arab sekalipun bisa jadi mempengaruhi nilai. Begitu juga pada ujian materi pelajaran matematika. Dalam ujian pilihan ganda, seseorang bisa memilih jawaban secara asal dan mengharapkan kebetulan memilih huruf dengan jawaban yang betul. Hal tersebut tentu tidak akan berlaku dalam sistem ujian esai karena setiap cara yang ditulis pada lembar jawaban untuk menyelesaikan soal akan diberi nilai.

 Selain itu, sistem ujian dengan pertanyaan esai semacam itu juga merupakan cara yang sangat ampuh untuk melawan satu hal yang paling diperangi oleh Gontor dalam ujian : Menyontek. Tentu seorang murid akan sangat kesulitan jika harus menyontek jawaban orang lain berupa kalimat-kalimat bahasa arab yang ditulis dengan khot masing-masing yang pun kadang tidak bisa dimengerti maksud tulisannya kecuali oleh pemiliknya sendiri dan Tuhan Yang Maha Esa. Tidak seperti ujian pilihan ganda yang menyonteknya cukup diketahui nomer dan abjadnya saja.

Karena tidak menerapkan sistem pilihan ganda, tentu Gontor tidak punya Lembar Jawab Komputer, juga alat scan pengoreksinya. Yang ada hanyalah lembar jawaban berupa kertas buram yang ditempeli selembar kertas lain untuk menulis identitas diri, dan para pengajar mata pelajaran yang mengoreksi lembar jawaban murid-muridnya secara objektif, murni berdasarkan jawaban yang tertulis tanpa terpengaruhi siapa muridnya dan apa yang telah dilakukan untuk gurunya. Kali ini saya akan sedikit bercerita tentang perjalanan kertas buram tempat santri menulis jawaban ujian itu dan sistem yang menjaga objektivitas penilaian seorang guru terhadap jawaban muridnya.

Di kantor harian panitia ujian semester, ada sebuah ruangan dimana seluruh kertas jawaban para santri dikumpulkan oleh masing-masing pengawas. Kemudian lembar-lembar jawaban tersebut disortir perkelas dan diserahkan kepada pengajar masing-masing mata pelajaran untuk dikoreksi.

Khusus untuk tugas yang memerlukan ketelitian tingkat tinggi ini, panitia memiliki pasukan sejumlah 35 orang dari santri kelas 6 yang disebut dengan nomerator. Mereka tidak sembarang dipilih, kriterianya adalah berasal dari rentang kelas B sampai F, dan memiliki rekam jejak akademis yang baik. Hal tersebut semata-mata dilakukan untuk meminimalisir keteledoran yang mungkin terjadi di ruangan tersebut. Sebab kesalahan kecil dalam pekerjaan nomerator, taruhannya adalah nilai ujian para santri.

Sebelum melanjutkan tulisan, berikut adalah gambaran sirkulasi lembar jawaban yang masuk dan keluar ruang numerator.

Santri Gontor di kampus pusat dari kelas satu sampai lima jumlahnya mencapai 3000 orang lebih. Mereka dibagi ke dalam kelas-kelas yang kurang lebih jumlah murid perkelasnya adalah 35 orang. Setiap hari, satu kelas menghadapi 2-3 jam pelajaran ujian. Rata-rata jumlah abjad dari semua kelas pada tahun ini adalah 13. Jika saja dipukul rata bahwa semua kelas menghadapi 2 mata pelajaran setiap hari, maka dalam satu hari minimal ada 6.370 lembar jawaban yang masuk ke ruang numerator. Jumlah itu belum termasuk mereka yang meminta kertas tambahan karena satu saja tidak cukup untuk menulis hasil belajar mereka. Dan belum termasuk kelas tiga, empat, dan lima yang hampir setiap hari menghadapi 3 mata pelajaran.

Jadi dalam satu ujian semester selama 11 hari, jumlah kertas lembar jawaban yang bersirkulasi di ruang numerator bisa mencapai 80.000 kertas lebih.

Setelah para pengawas ruang ujian mengumpulkan lembar jawaban di tempat yang telah dipisahkan perkelas, tugas pertama seorang nomerator adalah mengabsen lembar jawaban yang masuk, hal itu untuk memastikan lembar jawab dari satu kelas yang sebelumnya terpisah di beberapa ruang sudah lengkap. Juga agar tidak ada lembar jawaban dari kelas lain yang tercampur. Jika belum lengkap, mereka tidak boleh melanjutkan pekerjaan ke langkah selanjutnya, mereka harus tahu kemana perginya lembar jawab tersebut terlebih dahulu dan dan menemukannya.

Setelah lembar jawaban dari satu kelas pada satu mata pelajaran sudah lengkap, mereka akan menulis nomor yang sama pada lembar jawaban dan lembar identitas diri. Penulisan nomor tersebut tidak boleh sembarangan, ada beberapa mekanisme yang harus dipatuhi. Pertama dan yang paling penting, nomerator tidak boleh menulis nomor yang sama dengan nomor absen santri tersebut di kelasnya. Kedua, tidak boleh pula menulis secara urut dari belakang. Yang jelas, pemberian nomor pada lembar jawaban tidak boleh membentuk suatu pola tertentu, harus secara acak.

Setelah selesai memberi nomor, setiap numerator melaporkan hasil pekerjaannya kepada panitia ujian, langsung berhadap-hadapan. Untuk kedua kalinya, panitia ujian memeriksa agar tidak ada satupun lembar jawaban yang belum diberi nomor, dan memastikan bahwa pemberian nomor tidak membentuk suatu pola tertentu.

Kemudian bersama panitia ujian, numerator melepas semua kertas identitas diri dari lembar jawabnya, jadilah lembar jawaban itu tidak diketahui milik siapa karena tidak ada tanda lain selain nomor acak yang ditulis oleh nomerator. Nantinya, hanya panitia ujian sajalah yang tahu suatu lembar jawab milik siapa karena mereka saja yang menyimpan lembar identitas diri itu. Hal tersebut juga mengingat bahwa panitia ujianlah yang bertugas memasukkan nilai ujian para santri.

Pada tahap akhir, nomerator memasukkan lembar jawab yang sudah ‘ditelanjangi’ itu ke dalam satu amplop lalu menyegelnya. Selanjutnya adalah tugas tim lain bernama distributor untuk menyerahkan amplop tersebut kepada para pengajar setiap materi.

Ketika mengoreksi, seorang pengajar hanya mendapatkan lembar jawab tanpa identitas diri, hanya ada nomor-nomor acak yang nantinya digunakan untuk mengidentifikasi suatu lembar jawab dalam proses memasukkan nilai. Hal ini tentu membuat seorang pengajar tidak mengetahui lembar jawab milik siapakah yang sedang ia koreksi, ia tidak berkesempatan untuk meninggikan nilai seseorang dari yang lain karena suatu alasan. Seorang guru tidak bisa memberi bonus nilai karena seorang santri berasal dari daerah yang sama dengannya, atau seorang santri adalah anggota klub olahraganya, dan lain sebagainya. Pilihannya hanya ada satu : mengoreksi semua lembar jawaban secara objektif.

Meskipun Gontor sangat memperhatikan akhlak setiap santrinya, pada ujian tulis, santri yang akhlaknya kurang, bahkan terhadap pengajar di kelasnya sekalipun tetap mendapatkan kesempatan untuk mendapatkan nilai tinggi sebagai hasil dari belajarnya. Meskipun santri yang kurang baik akhlaknya tentu akan mendapat konsekuensi lain.

Dalam ujian tulis di Gontor, semua santri mendapatkan hak dan kesempatan yang sama untuk berkompetisi tanpa memandang siapa diri mereka dan apa yang mereka miliki. Apakah tidak taat kepada guru, atau mereka yang terkesan sangat berbakti kepada guru karena sering mengirimkan titipan camilan dari orang tuanya, dan siapapun saja, semuanya mendapat kesempatan yang sama untuk dinilai secara objektif, sesuai dengan hasil belajar mereka yang dituangkan dalam lembar jawab ujian.


Kecopetan di Jakarta!

Definisi bahagia bagi saya sangatlah sederhana; bepergian jauh dengan bis berpendingin udara selama berjam-jam, sambil mendengarkan lagu kesukaan dengan earphone dan melihat berita terkini di media sosial melalui perangkat telpon genggam pintar. Saya sangat suka dengan suasana seperti itu. Melihat keramaian di jalan raya malam berpenerangan lampu-lampu kuning dari balik kaca bus.

Momen seperti itu, saya rasakan ketika saya menghabiskan awal liburan panjang di bulan Ramadhan 1436H lalu. Ketika itu, saya bersama teman-teman kru klub jurnalistik di sekolah merencanakan sebuah perjalanan ke Jakarta untuk berkunjung ke kantor-kantor media massa nasional, baik cetak, elektronik, ataupun online.

Saat itu kami duduk di kelas X SMA, ketika naik kelas usai liburan panjang di bulan Ramadhan itu, kami akan menjadi pengurus klub jurnalistik tersebut. Maka tujuan kami mengadakan perjalanan tersebut adalah untuk menimba ilmu agar nanti kami memiliki ‘sesuatu’ untuk dibagikan kepada anggota klub kami.

Yang sedang berselfie : Iqbal Aziz. Salah satu
foto yang terselamatkannya sangat saya
syukuri!

Bahagia sekali ketika itu saya berangkat dari Boyolali menuju Jakarta ditemani OPPO Neo yang baru saja keluar di pasaran saat itu. Dengan ponsel pintar itu, saya benar-benar merasakan bahwa kemajuan teknologi dapat memudahkan kita menjalani hidup, dan bisa menjadi perantara untuk mendatangkan kebahagiaan batin.

Kecuali memudahkan kami menemukan rute perjalanan dari tempat singgah menuju kantor-kantor berita yang kami hendak kunjungi, ponsel tersebut juga sangat menunjang kegiatan kami dengan kemampuannya merekam suara yang hasilnya jernih, dan mengambil gambar dengan resolusi tinggi. Saya benar-benar merasakan bahwa OPPO Neo itu adalah salah satu hasil karya tangan manusia paling luar biasa.

Suatu hari, jadwal kunjungan kami adalah ke kantor Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia di Kwitang, Senen, Jakarta Pusat. Kami berkunjung ke kantor AJI pada siang hari. Selama di kantor AJI, saya merekam sesi belajar kami bersama perwakilan wartawan dari AJI yang hampir 2 jam itu dengan Neo. Bahkan sebelum pamit, kami juga berpose mengambil gambar.

Saya benar-benar tidak memiliki firasat bahwa suatu hal buruk akan terjadi hari itu.

Selepas shalat ashar, kami pulang menuju tempat singgah di Jakarta Selatan dengan Trans Jakarta dari halte Kwitang. Perjalanan pulang kami itu bersamaan dengan jam selesainya kantor-kantor di Jakarta, alhasil, bus yang kami tumpangi penuh sesak dengan pekerja kantoran.

Dalam kondisi ramai seperti itu, kami sekelompok lupa berprinsip untuk saling tidak menjauh dan saling mengawasi satu sama lain. Pertama agar tidak ada yang hilang atau ketinggalan, kedua agar barang yang kami bawa aman.

Selama perjalanan di Jakarta itu, saya selalu membawa tas kecil berbahan jeans yang menggantung di pundak saya. Di dalam tas kecil itu, saya menyimpan buku tulis, handycam, dompet, dan ponsel. Melihat muka-muka lelah manusia di sekitar saya ketika itu, saya tidak memiliki rasa curiga sama sekali. Dan itu juga berarti bahwa saya telah kehilangan rasa untuk selalu berwaspada.

Saya berdiri di tengah-tengah bus dalam keadaan saling berhimpitan dengan penumpang lain. Ketika bus melewati bundaran Hotel Indonesia, saya sempat mengeluarkan ponsel dari dalam tas untuk sekedar memeriksa pemberitahuan terbaru dari media sosial. Berusaha untuk menghemat pemakaian baterai, saya meminimalisir pengguaan ponsel dan memasukannya kembali ke dalam tas. Mungkin saya tidak sadar bahwa ketika itu bisa jadi ada sepasang mata yang telah mengamati saya.

Begitu bundaran HI sudah lewat, entah dengan motivasi apa, saya ingin kembali mengecek pemberitahuan media sosial di ponsel. Karena sudah hafal di bagian mana saya biasa meletakkan ponsel di dalam tas, saya hanya perlu membuka resleting dan memasukkan tangan saya tanpa perlu melihat. Tapi saya tidak menemukan ponsel yang hendak saya ambil. Kali pertama tidak menemukan benda itu, saya masih berbaik sangka. Mungkin ponsel itu terselip di antara benda-benda lain di tas kecil saya. Saya mencoba membukanya dan memilah setiap benda. Satu-persatu. Dalam keadaan bus tengah berjalan dan saya berada di tengah keramaian yang saling berdesakan itu. Namun tetap tidak ada.

Ketika itu saya menyadari bahwa suatu hal buruk mungkin saja telah terjadi pada saya; kecopetan. Meskipun saya masih mencoba menyisakan sedikit ruang baik sangka, yakni dengan berharap bahwa ponsel saya terselip di bagian paling bawah tas kecil itu. Walaupun pendingin udara di dalam bus menyala, saya merasa tubuh saya mulai kepanasan, justru dengan keringat dingin yang mulai mengalir dari pori-pori setiap jengkal kulit tubuh saya. Jika benar saya ini kecopetan, maka copet itu masih ada di dalam bus ini, di antara penumpang yang berdesakan karena bus memang belum berhenti di halte selanjutnya sejak saya naik. Namun saya tidak tahu harus melakukan apa. Apakah saya harus berterika kecopetan? Atau saya harus menyampaikan perihal ini kepada petugas keamanan di dalam bus, jika ya apakah ada?

Hal pertama yang saya lakukan adalah menyampaikan keresahan saya itu pada teman saya dengan bahasa arab, agar orang lain tidak tahu. Mereka berusaha meyakinkan saya bahwa saya hanya telah salah menaruhnya di dalam tas. Sekali lagi saya berbaik sangka karena handycam masih ada di dalam tas.

Ketika turun dari TransJakarta, saya mengeluarkan semua isi tas kecil saya itu, dan ternyata; saya kecopetan! Sulit sekali mendeskripsikan apa yang saya rasakan saat itu. Marah dan kesal, tapi bagaimana saya melampiaskannya? Rasanya seperti ingin menangis dan berteriak kencang-kencang. Tapi saya tahu itu tidak akan membuat ponsel saya kembali. Membayangkan bagaimana saya akan menghabiskan sisa beberapa hari perjalanan di Jakarta tanpa ponsel itu sangatlah mengerikan. Di ponsel itu ada peta, nomor kontak kantor-kantor yang akan kami kunjungi, foto-foto dokumentasi beberapa hari terakhir yang cukup banyak, dan rekaman presentasi setiap kunjungan.

Yang membuat perasaan saya semakin tidak karuan adalah kenyataan bahwa usia ponsel itu belum genap satu minggu, dan aslinya bukan dibeli untuk saya. Saya hanya dipinjami saja.

***

Konsulat adalah organisasi pelajar yang berasal dari daerah yang sama. Karena saya berasal dari Boyolali, maka secara otomatis saya tergabung di Konsulat Surakarta-Jogjakarta. Sebuah tradisi yang sudah berjalan selama bertahun-tahun konsulat kami adalah mengadakan pentas seni pada awal liburan panjang akhir tahun. Tempatnya berpindah-pindah setiap tahun. Biasanya, para orang tua kami menjemput di tempat acara.

Pada acara tahun itu, saya berasa sedikit aneh. Saya tidak menemukan orang tua saya datang hingga acara hamper selesai. Biasanya sebelum acara dimulai pun, minimal saya sudah melihat ibu saya datang. Di sela-sela acara, berulang kali saya mengelilingi tempat mobil-mobil para tamu diparkirkan. Sengaja mengecek apakah mobil keluarga kami sudah datang atau belum. Dan memang belum.

Baru ketika acara selesai, setelah saya mengemasi barang, saya bertemu dengan bapak saya yang sudah menunggu di area parkiran.

“Sendirian, bah?” Tanya saya.

“Ya.”

“Umi mana?”

Tak ada jawaban, dan saya berfirasat buruk. Insting paranoid saya suka menari-nari di kepala pada suasana membingungkan seperti ini. Saya terbiasa menahan diri untuk tidak mengulangi pertanyaan. Mungkin orang lain lebih tahu mengapa ia tidak menjawab sebuah pertanyaan. Bapak hanya memberikan ponsel yang katanya baru saja dibelikan untuk kakak saya yang beberapa belas hari lagi akan lulus dari pondok. Untuk sementara waktu, ponsel itu saya pakai dulu saja untuk ke Jakarta.

Setelah beberapa kilometer mobil berjalan, beliau baru memberi tahu bahwa ibu saya sedang berada di rumah sakit. Sudah beberapa hari ini dirawat inap di Rumah Sakit Dr. Oen Sawit. Beliau baru saja menjalani operasi karena telah menjadi korban tabrak lari oleh seseorang yang tidak dikenal bermotor vixion. Peristiwa tersebut terjadi ketika ibu saya hendak menyebrangkan beberapa ibu-ibu lain dalam rombongan yang hendak menunaikan shalat maghrib berjamaah.

Peristiwanya terjadi sangat cepat. Ibu saya terjatuh di atas aspal. Beberapa orang yang melintas berusaha mengejar pelaku. Tapi manusia tak bertanggung jawab itu terlalu cepat. Hilang dimakan lalu lintas Solo Baru yang ramai.

Saya kalut.

Berusaha menahan air mata agar tidak menetes. Kenapa saya baru diberi tahu.

Berarti peristiwa tersebut terjadi ketika saya sedang menjalani Ujian Akhir Semester di Pondok. Berita ini pasti sengaja dirahasiakan dari saya.

Kami berdua pulang ke rumah sekedar mengambil beberapa helai baju untuk ganti, kemudian melanjutkan perjalanan kembali ke rumah sakit DR. Oen. Di sana, melihat ibu saya terbaring di atas ranjang rumah sakit, saya tidak bisa lagi menahan air mata untuk tidak menetes. Saya menangis sejadi-jadinya, sambil memeluk ibu saya yang terbaring di atas ranjang.

Berulang kali beliau mengatakan bahwa beliau baik-baik saja. Pernyataan yang semakin dikatanan semakin membuat air mata saya bertambah deras mengalir.

Yang membuat saya lebih kalut adalah fakta bahwa peristiwa tabrak lari tersebut terjadi tepat setelah ibu saya membeli ponsel yang saya pegang saat itu.

Dan saya, telah memberikannya secara sukarela kepada pencopet Jakarta sebelum usianya genap sepekan

Anak macam apa saya ini.

….

Sejak saat itu, saya seperti memiliki trauma berkepanjangan. Dimana setiap kali saya naik kendaraan umum, saya selalu merasa tidak aman, seperti selalu ada yang tengah mengintai saya, dan menunggu saat dimana saya lelah, untuk kemudian mereka menjarah barang-barang saya. Trauma seperti ini mengerikan karena saya memiliki banyak tuntutan untuk bepergian dengan bus dan kereta.

Saran saya, ketika berada dalam keramaian semacam di dalam Trans Jakarta yang sedang padat, pastikan barang berharga termasuk dompet dan ponsel, berada dalam pengawasan anda. Mungkin lebih baik anda memakainya untuk bermedia sosial atau sekedar mendengarkan musik, walaupun seolah mencolok dan mengundang perhatian copet, tapi bukankah itu lebih baik daripada anda menaruhnya di dalam tas lalu hilang tanpa anda tahu siapa yang telah mengambilnya?

Pak Nur dan Worldview Aqidah Islamnya

Di suatu sudut  dalam ruang dosen pria di kampus Rabitah Universitas Darussalam Gontor itu, ada satu benda yang kurasa karena terlalu lama tak tersentuh oleh tangan manusia, mulai berdebu tipis permukaannya. Benda itu adalah stopmap hard cover berwarna biru dongker. Isinya hanyalah beberapa lembar absen kehadiran mahasiswa dan satu lembar kertas HVS jurnal materi kuliah untuk dosen. Dari beberapa lembar yang masing-masing berisi 5 kolom kehadiran, hanya ada satu kolom yang sudah terisi.
Benar! Selama hampir 4 bulan masa aktif perkuliahan, kami baru masuk satu kali saja. Tidak lebih dan tidak kurang. Ketika masuk untuk kedua kalinya, Pak Muhammad Nur, sang dosen, menyatakan bahwa dirinya bahkan sampai lupa mengajar materi apa di kelas kami. Sementara beliau tidak tahu bahwa kami para mahasiswanya ini sangatlah berharap-harap untuk masuk lagi dan masuk terus pada mata kuliah Worldview Aqidah Islam.
Pada pertemuan pertama, Pak Nur telah membuat peraturan bahwa mata kuliah yang diampunya akan selalu dimulai pukul 7 tepat. Walaupun hanya satu orang saja yang sudah datang, maka kuliah akan tetap dimulai. Mahasiswa diberi waktu tenggng selama sepuluh menit terhitung dari pukul 7 tepat. Selama masa tenggang itu, silakan masuk saja ke ruang kuliah tanpa salam tanpa permisi. Itu hak kalian. Tapi jika terlambat, jangan berani masuk, mendingan pulang saja karena tidak akan dihitung hadir. Konsekuensi atas peraturan yang telah disepakati bersama itu juga berlaku untuk dirinya sendiri sebangai sang dosen. Apabila sampai pukul tujuh lewat sepuluh menit dirinya belum hadir, maka kami para mahasiswanya dipersilakan untuk meninggalkan kampus. Kuliah secara otomatis telah ditiadakan.
Begitulah kami setiap hari Sabtu malam, datang pukul tujuh tepat, menunggu selama 10 menit, lalu pulang karena Pak Nur tidak datang. Padahal dalam sakit hati saya yang karena tidak mendapat jurusan sesuai pilihan itu, mata kuliah Worldview Aqidah Islam yang diampu Pak Nur seolah-olah telah menjadi obat penawarnya.
Dalam kuliah di Universitas Darussalam yang memang sudah saya rencanakan hanya akan berlangsung selama dua semester ini, saya telah memasang niat untuk memperkuat aqidah islam saya sebagai dasar menghadapi kehidupan dunia luar pondok nanti. Cita-cita saya, memiliki keahlian komputer sekaligus tetap mampu mendalami ilmu agama dengan baik. Kualifikasi seperti itu yang telah lama saya anggap sebagai ideal. Realisasinya, saya memilih program studi Aqidah Filsafat Islam yang memang telah menjadi prodi unggulan Universitas Darussalam Gontor. Konon, banyak universitas lain yang pengajaran Aqidah Filsafat Islamnya telah melenceng.
Ketika menjalani tes wawancara dengan dosen prodi tersebut, saya menyampaikan secara jujur mengapa saya memilih Aqidah Filsafat Islam. Sayang sekali ternyata saya tidak ditempatkan di prodi tersebut. Saya justru tersesat di Perbandingan Madzhab Fakultas Syariah. Padahal prodi tersebut sama sekali tidak saya pilih. Untuk tiga prodi yang diajukan, saya memilih Aqidah Filsafat Islam, Ilmu Qur’an dan Tafsir, baru Ilmu Komunikasi yang tidak jauh-jauh dari passion saya.
Mendapat Perbandingan Madzhab adalah ketersesatan bagi saya.
Ketika Pak Nur masuk pertama kali pada saat bulan pertama masa aktif kuliah hampir lewat, saya seperti kehujanan setelah melalui perjalanan panjang di gurun yang gersang lagi panas. Nikmat! Segar! Saya merasa mendapat injeksi semangat untuk kuliah, pada mata kuliah Worldview Aqidah Islam saja tapi. Pertemuan pertama itu membahas konsep Islam, Iman, dan Ihsan. Lalu di akhir pertemuan pertama tersebut, beliau menjabarkan apa saja yang akan kami pelajari dalam mata kuliahnya. Antara lain; konsep Tuhan, konsep wahyu, konsep rasul, dan lain sebagainya. Inilah yang saya cari-cari sejak lama di kampus ini! Teriak saya dalam hati.
Pembahasan mata kuliah bersama Pak Nur itu terasa nyaman sekali. Penyampaiannya membuka cakrawala rasa ingin tahu kami atas ilmu pengetahuan. Rasanya seperti ingin belajar, belajar, dan terus belajar. Mencari, mendengar, dan mendalami. Kuliah bersama Pak Nur dua jam sama sekali tidak melelahkan. Bahkan saya tidak akan keberatan sama sekali apabila setiap pertemuannya akan menjadi seperti itu.
Mempelajari hal yang kita sukai dari orang yang tepat memang selalu menyenangkan. Orang yang tepat, bukan hanya membuat kita yang suka betah berlama-lama, tapi juga membuat mereka yang malas menjadi tertarik untuk membuka mata. Sebaliknya, kadang kita justru menjadi kurang nyaman dengan suatu hal yang pada awalnya kita sukai hanya karena orang yang menyampaikannya tidak tepat. Tidak bisa membawakan.

Dari situ saya belajar, untuk memotivasi diri agar menjadi orang yang tepat pada setiap mata pelajaran yang saya bawakan di kelas. Dan saya merefleksikannya agar saya tidak memandang suatu secara sempit, seperti hanya pada siapa yang mengajarkannya. Apabila suatu pelajaran kurang menarik karena sang pengajar kurang bisa membawakannya, saya harus mencari jalan lain agar asya tetap suka untuk mempelajarinya.

Sebelum berkenalan dengan kecopetan di Megapolitan

Ada kalanya gw punya acara di Jakarta yang berupa rentetan kunjungan ke beberapa kantor media masa untuk belajar dari ahli. Acara tersebut berlangsung selama beberapa hari, diantara hari-hari yang menyibukkan gw untuk pindah dari satu daerah di Jakarta ke daerah yang lain untuk mencapai kantor yang akan kami kunjungi, ada satu hari yang kosong. Maka tidak ada pilihan lain bagi tim gw untuk menghabiskan satu hari tersebut kecuali dengan : liburan! Mumpung di Jakarta.
Tapi karena diantara 10 orang tim gw itu nggak ada orang yang asli Jakarta, alhasil kami tidak tahu harus jalan kemana dan naik apa. Saat itu pun kami masih terlalu primitif untuk mengetahui tempat jalan asik dengan aplikasi gawai pintar. Akhirnya kami hanya mengandalkan pengetahuan di masa lampau, yakni mengandalkan ingatan seorang teman yang pernah jalan ke Kota Tua.
Sebelumnya gw hanya kenal kota tua dari acara di tivi-tivi, dan kesan saat pertama kali bener-bener dating di Kota Tua adalah : daerah ini memang bener-bener tua! Terbukti dengan bangunan berarsitektur eropa yang masih berdiri kokoh dan sengaja dijaga untuk dijadikan objek wisata dan sarana untuk mengabadikan sejarah.
Sayangnya hari ketika kami datang ke Kota Tua itu adalah musim liburan sekolah. Museum Fatahillah yang sebenarnya jadi tujuan kami datang ke Kota Tua itu penuh sesak oleh turis. Untuk masuk saja harus mengantri panjang. Alhasil kami hanya menikmati kota tua di Taman Fatahillah yang luas dan ramai itu.
Apa yang kami lakukan di Taman Fatahillah?
Berdiri dan terkagum-kagum pada manusia-manusia yang mengecat dirinya dan berpose layaknya patung.
Gw lagi mengamati seorang patung ketika seseorang yang tidak gw kenal mendekat tanpa gw sadari, dan tanpa permisi, berbisik ke telinga kanan gw,
“Mas mau beli iPhone 5?” bisiknya pelan, tapi nadanya serius. Jaman itu memang iPhone 5 masih baru-barunya dan banyak anak muda yang pengen beli, tapi kesandung harga yang mahal.
Penampakan orang itu sama sekali tidak mencurigakan, berkaos hitam dengan topi, celana jeans, dan bertangan kosong. Hampir tidak ada bedanya dengan pengunjung-pengunjung lain.
Mata kami saling tatap dalam diam untuk beberapa detik. Dalam menghadapi kasus seperti ini, gw punya prinsip untuk selalu menghindari hal-hal yang nggak pasti, meragukan, dan mencurigakan.
“Murah, mas,” lanjutnya dengan menaikkan tingkat meyakinkan pada raut wajahnya.
“ngg.. nggak mas, makasih,” tolak gw secara halus. Dan belum sempat gw merekam detail wajah orang tersebut, dia sudah hilang di tengah keramaian.
Saat kembali bergabung dengan teman-teman yang lain, gw menceritakan apa yang barusan gw alami, dan ternyata bukan Cuma gw yang menerima bisikan dari orang tidak dikenal tersebut. Dua tiga orang lain juga dapat bisikan penawaran iPhone tersebut. Bukan hanya iPhone, tapi juga Blackberry yang juga masih booming saat itu.
Dari opini temen gw yang kelihatan sok tahu, langkah kami untuk menolak tawaran tersebut memang sangat tepat sekali. Karena biasanya barang yang mereka jual itu adalah HASIL COPETAN! Maka bahaya untuk memilikinya walaupun murah. Apalagi iPhone yang jika hilang bisa di track lokasinya dengan iCloud!
Mendengar pernyataan bahwa barang-barang tersebut adalah hasil copetan justru membuat gw sedikit merasa menyesal sudah terlalu buru-buru untuk menolak tawaran tersebut. Seharusnya gw bilang iya dulu, lihat barangnya dulu, Tanya harganya dulu, telusuri dulu, baru tolak. Insting wartawan yang memang lagi kami latih di Jakarta itu main. Tapi terlambat. Gw berharap untuk didatengin lagi sama abang-abang yang menawarkan barang elektronik tersebut dengan berpisah dari grup, dan diam seolah sedang memperhatikan sesuatu. tapi kesempatan tidak datang dua kali.
Setelah Kota tua itu, di daerah lain yang gw lewati, baik itu ketika sedang dalam perjalanan dalam kendaraan umum, atau sedang menunggu metro mini, gw mulai suka memperhatikan barang-barang yang dijual tidak di tempat selayaknya berjualan. Contoh : orang berjualan handphone seperti jualan minuman ringan, yaitu di trotoar, dengan papan kayu dan handphone yang dijual ditempat pada papan tersebut dengan karet. Handphonenya dijual batangan. Entahlah darimana asal handphone-handphone tersebut.
Postingan ini akan menjadi pembuka cerita kecopetan gw di Jakarta.

Satu Jurusan Bisa Jadi Beda Jalurnya : Kisah Sedih Salah Naik Bus

Ibarat pepatah sekali mendayung dua pulau terlampaui, dalam satu perjalanan pulang itu, saya mendapat dua pelajaran penting tentang dunia bus.
Kejadiannya pada akhir tahun 2015, waktu itu saya masih kelas 5 KMI, yang sedang menghabiskan liburan pertengahan tahun dengan durasi 10 hari. Karena itu adalah liburan terakhir sebelum saya harus bermukim di pondok sampai lulus, saya memutuskan untuk membuat liburan itu lain. Dari 10 hari itu, saya menghabiskan lima hari pertama di Pulau Lombok, dan lima hari sisanya di Boyolali.
Berdasarkan pertimbangan harga tiket yang lebih murah, saya pulang dengan pesawat yang mendarat di Bandara Juanda Surabaya, yang harga tiketnya Rp 400 ribu lebih murah dibandingkan dengan pesawat yang mendarat di Jogjakarta.
Konsekuensinya, saya harus melakukan perjalanan darat dari Surabaya menuju Boyolali untuk sampai ke rumah. Seharusnya perjalanan Surabaya ke Boyolali itu menjadi perjalanan yang mudah dibawah arahan dan petunjuk ayah saya. Pasalnya, beliau selalu melakukan perjalanan dengan rute yang sama dua kali dalam sepekan. Tapi semua itu berubah menjadi runyam karena kesoktahuan saya yang mendatangkan bencana.
Pesawat saya mengalami penundaan penerbangan hingga dua jam karena cuaca buruk. Seharusnya saya mendarat di Surabaya pukul tiga sore, namun karena penundaan tersebut, saya baru sampai di Juanda pukul lima sore. Berhubung belum sempat makan siang, saya menyempatkan diri untuk mampir di restoran cepat saji di dalam komplek bandara tersebut.

Sesuai arahan, saya harus melanjutkan perjalanan menuju terminal bungur asih dengan bus Damri dengan tiket seharga Rp 25 ribu. Suasana terminal ibukota Jawa Timur tersebut benar-benar seperti apa yang digambarkan oleh ayah saya. Begitu turun dari bus Damri, ada banyak orang—yang entah mereka itu kondektur atau siapa—menyambut kami yang datang dari bandara menanyakan kemana tujuan perjalanan kami.
 Sempat dibujuk dan dipaksa-paksa, saya akhirnya bisa bertahan sampai peron bus tujuan luar kota. Jika saya mengikuti arahan, seharusnya saya menumpang bus Eka dengan tujuan semarang. Karena tergesa-gesa dan ingin segera naik bus agar cepat sampai rumah, yang terngiang-ngiang di kepala saya waktu itu hanyalah semarang, semarang, dan semarang.
Ada seorang kondektur menghampiri saya, “Semarang Mas!” katanya dengan tatap mata penuh keyakinan. Saya sempat diam beberapa detik, berusaha mencerna baik-baik gelombang suara yang dikirimkan oleh mulut kondektur tersebut ke telinga saya. Ya, semarang, kata saya dalam hati. Saya pun mengangguk-angguk setuju, dan orang itu mengarahkan saya untuk menuju sebuah bus berwarna merah yang siap untuk berangkat. Nama bus itu adalah “Indonesia”, saya tidak pernah tahu ada bus dengan nama tersebut.
Saya bersyukur sekali mendapatkan bus dengan seat yang nyaman dan ber-AC dingin, saya segera duduk dan melaksanakan shalat maghrib di atas bus.
Saya baru menyadari bahwa saya berada dalam sebuah kesalahan besar ketika kondektur mulai menariki ongkos perjalanan. Saya mendengar para penumpang menyebut kota-kota yang terasa asing dalam perjalanan yang seharusnya saya lakukan.
Gresik..
Lamongan..
Rembang..
Kudus..

Hingga sang kondektur sampai di seat saya dan bertanya,
“Turun di mas?”
“Boyolali,” jawab saya ragu.
Raut sang kondektur seketika berubah, seakan dia mendengar suatu hal yang tidak wajar. Dan ternyata Boyolali memang sebuah hal yang tidak wajar dalam bus arah semarang via pantura ini.
“Mas, nggak lewat Boyolali, ini lewat jalur utara.”
Saya terdiam untuk beberapa saat, berusaha memikirkan apa yang harus saya lakukan. Turun di sini tidak mungkin, karena posisi bus sedang berada di jalan tol. Dan jika bisa turun pun, saya harus memikirkan lagi bagaimana caranya untuk bisa kembali ke terminal.
Akhirnya saya memutuskan untuk mengikuti bus sampai semarang, baru kemudian mencari bus arah Surakarta. Toh perjalanan dari Semarang menuju Surakarta tidak begitu lama, ‘hanya’ 2 jam. Dengan kata lain, jika mengikuti rute yang benar, seharusnya saya bisa menghemat durasi perjalanan 4-5 jam.
Akibat kesalahan tersebut, walaupun sudah membesarkan hati dan menenangkan diri, saya tetap merasa mood saya berantakan. Akibatnya, perut saya tidak enak. Dalam kupon makan yang merupakan bagian dari ongkos perjalanan, saya hanya bisa memasukkan beberapa sendok kuah soto yang tawar itu ke mulut, dan menyeruput segelas teh kurang manis yang justru semakin memperburuk keadaan perut saya. Karena sudah tidak bisa ditahan dan bus dalam keadaan mengebut di jalan tol, akhirnya saya harus bisa beradu ketangkasan untuk buang hajat di toilet bus.
Tragedi dalam perjalanan pulang itu belum selesai.
Bus saya akhirnya sampai di Semarang pukul satu dinihari. Karena kondisi minim cahaya dan dalam keadaan mengantuk sehabis tidur, saya tidak tahu dimana bus tersebut berhenti. Apakah di terminal, atau di tempat yang lain. Satu-satunya hal yang saya sadari saat itu adalah, bahwa di seberang jalan, ada sebuah bus yang sudah siap berangkat. Seseorang mengatakan bahwa bus tersebut adalah bus kea rah Surabaya via Surakarta.
Saya senang karena tidak harus menunggu lama untuk bisa mendapatkan bus pulang.
Ketika hendak naik dari pintu depan bus, seseorang memanggil saya agar naik dari pintu belakang saja. Saya tidak bisa melihat dengan jelas wajah orang itu karena kondisi minim cahaya. Yang jelas, orang itu meminta saya untuk membayar ongkos perjalanan sebelum saya naik ke atas bus.
“Empat puluh delapan ribu mas,” katanya tanpa saya bertanya. Seharusnya saya cukup pintar mengetahui bahwa harga tiket bus Solo-Semarang saja hanya Rp 30 ribu, mana mungkin tiket sampai Boyolali yang hanya setengah perjalanannya bisa lebih mahal.
Namun insting curiga saya ketika itu telah tertutupi oleh rasa bahagia karena akhirnya bisa mendapatkan bus yang akan membawa saya pulang.
Saya mengaduk-aduk tas kecil dan dompet untuk tidak menemukan uang pecahan kecil sama sekali. Terpaksa saya membayar ‘tagihan’ tersebut dengan pecahan seratus ribuan. Ketika selembar uang dengan wajah proklamator itu saya serahkan, entah bagaimana bisa namun seperti dibalik, wajah bung karno dan bung hatta berubah menjadi pangeran antasari.
“Mas ini Cuma 2000 perak,” katanya membodohi saya, dan saya memang bodoh sekali saat itu.
Kenapa harus 2000 yang ia jadikan kambing hitam? Mungkin karena seharusnya skenario penipuan tersebut adalah saya membayar dengan pecahan 50 ribu, kemudian ia memberikan kembalian 2000 rupiah sebelum kabur. Tapi karena saya membayar dengan pecahan 100 ribu, insting menipunya pun bermain, sekalian saja dibohongi.
Saya pun mengulangi hal yang sama: membayar dengan pecahan Rp 100 ribu,
Dan kondektur jadi-jadian itu juga mengulangi hal yang sama: merubah wajah bung karno dan hatta menjadi Pangen Antasari, seraya mengatakan bahwa saya telah membayar dengan uang yang salah.
Saya memberikan kepadanya 3 lembar uang seratus ribu sebelum mempersilakan saya naik ke atas bus. Saya telah mengeluarkan Rp 300 ribu untuk perjalanan seharga Rp 20 ribu.
Ketika duduk di atas bus, saya baru saja menyadari bahwa saya telah menjadi korban penipuan, sementara penipu tersebut telah jauh pergi ditelan kegelapan malam semarang. Saya menyumpah-seraphai kebodohan saya tersebut ketika itu.
Akhirnya saya sampai di Boyolali pukul 3 dini hari, orang yang membukakan pintu rumah saat itu adalah ibu saya, melihat saya yang datang, ibu reflek memeluk saya, seakan kejadian salah jurusan bus tersebut adalah suatu hal yang sangat berbahaya, tanpa ibu tahu bahwa ada hal yang lebih harus dikasihani daripada salah jurusan: kena tipu!

Pesan Moral :  Pertama, ketika hendak naik bus, perhatikan baik-baik jalur mana yang akan dilewati bus tersebut, karena bisa jadi beberapa bus memiliki tujuan akhir yang sama, namun melewati jalur yang berbeda-beda. Kedua, jika tidak membeli tiket di agen resmi, maka bayarlah tiket bus kepada kondektur ketika anda sudah berada di atas bus.

Hidup yang Mie Instant

Saya adalah salah satu penggemar mie instant. Memang tidak mengonsumsinya secara berlebihan. Tapi saya pernah menjadikan mie instan sebagai solusi alternatif mengisi perut ketika tidak ada makanan lain saat sarapan, sahur, dan makan malam.
Ada juga kalanya ketika saya menganggapnya sebagai camilan untuk mengganjal perut kosong tetapi jam makan belum datang.
Suasana yang paling bisa membuat saya menikmati mie instant adalah ketika hujan turun deras. Yakni dengan menambahkan beberapa potong cabe rawit pada mie kuah. Semakin kecil dan semakin muda warna hijau cabainya, maka semakin nikmat pula sensasi pedas dan puas yang saya rasakan.
Ketika saya bersekolah di Gontor, ternyata saya menemukan fenomena fanatisme terhadap mie instant yang lebih gila. Setelah nasi ayam yang dijual di kantin-kantin, mie instant dan olahannya menjadi menu paling favorit yang disukai oleh mayoritas murid. Apalagi ketika ujian. Mie instant seolah menjadi teman yang selalu ada untuk menenangkan perut kosong yang terkadang menjadi sebuah masalah tersendiri dan bisa mengganggu konsentrasi belajar di malam hari.
Di Gontor, kemudian saya belajar bahwa ternyata mie instant juga menjadi sebuah alat yang sangat ampuh untuk mempererat ukhuwah dan silaturahim suatu kelompok. Ada suatu masa, ketika klub-klub olahraga berlomba menunjukkan kekompakannya dengan sahur bersama setiap Ahad dan Rabu malam. Di acara sabur bersama itu, menunya tidak lain adalah mie instant yang dimasak dalam porsi jumbo dengan ember. Karena kecuali murah, membuatnya pun juga mudah.
Selain rasa dan harga, kemudahan dalam proses pengolahannya itu tentu menjadi alasan paling kuat mengapa banyak orang menjadikannya alternatif ketika tidak ada makanan lain.
Saya sempat terkejut ketika membaca sebuah artikel yang membahas 20 bahanya memakan mie instant. Dalam artikel tersebut, hampir semua macam penyakit berbahaya dan mematikan disebutkan. Mulai dari kerusakan hati, gagal ginjal, darah tinggi, kencing manis, bahkan kanker pun disebut-sebut sebagai salah satu penyakit yang ditimbulkan oleh mie instant yang dikonsumsi secara berlebihan.
Jika artikel itu benar, maka betapa jahatnya mie instant bagi hidup kita. Ia bagai sosok musuh dalam selimut. Dincintai dan disayangi tapi memiliki maksud untuk menghabisi di belakang. Di balik kemudahannya, ternyata mie instant sangatlah berbahaya.
Sebenarnya logis saya untuk mempercayai fakta-fakta mengerikan tentang mie instant. Karena suatu makanan yang diproses dalam waktu 5 menit tentu tidak akan memberikan kualitas dan gizi yang sebanding dengan makanan yang diproses dengan waktu yang cukup lama. Di balik makanan yang lezat dan bergizi, tentu ada proses memasak yang panjang.
Ambillah nasi goreng sea food sebagai contoh yang paling sederhana dan disukai oleh banyak orang. Kita perlu mengiris bawang, menghaluskan ebi, menyiapkan wajan dan memanaskan minyak, mengorak-arik telur, mencampurkan berbagai bumbu, menumis nasi dengan seafood dan telur. Yang jelas, ada urutan proses yang harus dilalui demi hasil yang paling nikmat.
Bandingkan dengan mie instant yang bisa jadi tidak memerlukan kompor sama sekali. Rendam saja dengan air panas, tunggu lima menit, campurkan bumbu yang sudah siap sedia, dan mie instant pun siap santap.
Hampir segala hal yang bersifat instant berbahaya.
Dalam hidup, kemudian saya belajar bahwa ternyata kasus mudah tapi berbahaya itu bukan hanya terjadi pada mie instant saja. Bahkan dalam semua sudut pandang kehidupan, kita hampir selalu bisa menemukannya.
Di zaman yang dikatakan maju ini, manusia semakin suka pada hal-hal yang enteng melakukannya, tapi gede hasilnya atau gede duitnya. Kenyataan itulah yang lantas membuat banyak orang tidak berpikir panjang dan lebih memilih mengambil jalan pintas yang terkadang tidak mengantarkannya pada tujuan, tapi justru menyesatkannya jauh sekali.
Marilah kita melihat pada fenomena yang paling sering kita jumpai pada kehidupan sehari-hari.
Ketika saya masih duduk di kelas sebelas, dengan usia rata-rata 16 tahun ternyata sudah banyak teman saya yang memiliki surat izin mengemudi yang diterbitkan oleh kepolisian lalu lintas. Ada yang telah memilikinya sejak kelas sepuluh. Ada juga yang tidak hanya memiliki SIM C, tapi juga A dan B.
Bagaimana bisa remaja yang belum memenuhi syarat kecukupan umur mendapatkan izin mengemudi yang seharusnya baru bisa diperoleh setelah mereka berusia 17 tahun?
Ternyata mereka mendapatkannya dengan bantuan pihak-pihak tertentu. Ada yang harus tetap mengikuti prosedur, tapi tidak mempedulikan hasil ujian teori dan prakteknya, ada pula yang tinggal terima jadi. Asalkan nominalnya disepakati, hasil akhirnya bisa dipilih sendiri.
Hal itu tampak sederhana, tapi hal kecil itulah yang membuat ada banyak orang yang seharusnya belum layak berkendara berkeliaran di jalan-jalan. Dan akibat keterampilan yang keabsahannya direkayasa itu, terjadi kecelakaan yang sebenarnya bisa tidak perlu terjadi jika pengendaranya terampil dan tahu aturan berkendara.
Fenomena yang sama terjadi pada kasus jual beli ijazah dan fenomena joki pengerjaan tugas akhir.
Dalam suatu keadaan, ijazah diperlukan sebagai syarat untuk mendapatkan suatu posisi. Itu memang perlu untuk membuktikan bahwa seseorang memang telah memenuhi syarat kualifikasi. Tapi tidak berguna lagi ketika ijazah yang diajukan adalah ijazah palsu. Suatu posisi yang seharusnya diisi oleh seseorang dengan kemampuan akademis tertentu dan memiliki pengalaman cukup serta berakhlak mulia, justru diisi oleh orang yang mentalnya saja sudah rusak dengan melakukan tindak kebohongan. Gambarannya adalah ketika pesawat dikendarai oleh orang yang tidak memiliki pengetahuan dalam dunia penerbangan. Pesawatnya tentu tidak akan terbang. Jika terbangpun pasti membahayakan penumpangnya.
Kini juga marak kasus penggandaan harta. Dimana dengan menyerahkan sejumlah uang, seseorang dijanjikan akan mendapatkan uangnya kembali dalam jumlah berkali-kali lipat. Hasrat untuk mendapatkan hasil melimpah dengan usaha yang minimal telah membutakan akal sehat banyak orang. Padahal jika dipikir secara logis, hal itu tentu sangat tidak masuk akal.

Manusia terkadang memang lupa, bahwa tidak ada pencapaian yang didapatkan tanpa usaha. Proses adalah suatu ketentuan Tuhan yang harus dilalui untuk sampai ke suatu tujuan. Seringnya, nilai yang kita keluarkan dalam proses akan selalu berbanding lurus dengan hasil yang kita dapatkan. Semakin lelah kita mengusahakan suatu hal, maka semakin besar juga nilai yang kita dapatkan dari hasilnya. Hasil memang tidak selalu harus diukur dengan angka dan nominal uang, kita justru harus mengorientasikan hasil yang kita kejar dalam bentuk ridho dari Sang Maha Agung.
Dan ketika kita memberikan nilai nol pada suatu proses, sekalipun nol itu dihargai dengan milyaran rupiah, maka ketika menerima hasil, kita juga hanya akan mendapatkan sesuatu yang nilainya tidak lebih dari nol, bahkan bisa jadi minus.
Selamat berjuang dan tinggalkan yang instant-instant!

DESCLAIMER : Tulisan di atas bukanlah suatu artikel kesehatan yang membahas manfaat ataupun bahaya mengonsumsi mie instant. Sebagai penulis, saya menggunakan kacamata konsumen yang memiliki lidah, tangan, dan telinga. Saya mengonsumsi mie instant, saya merasakan kemudahan dalam pengolahannya, dan saya mendengar dari berbagai mulut bahwa mengonsumsi mie instant secara berlebihan dapat membahayakan kesehatan. Over all, saya percaya bahwa sebenarnya tidak ada makanan yang benar-benar instant. Di balik mie instant pun saya percaya bahwa ada proses memasak yang panjang di pabrik.

Antara Fasl Fauq dan Fasl Taht,

Secara formal, ada sebuah sistem yang mengatur pembagian kelas untuk siswa Gontor yang baru naik kelas. Yaitu dengan mengurutkan nama-nama mereka berdasarkan nilai ujian. Dengan kata lain, orang dengan nilai paling tinggi, seharusnya ditempatkan di kelas B yang merupakan abjad kelas tertinggi dengan nomor urut saru. Selanjutnya, akan diikuti oleh siswa-siswa lain berdasarkan nilai mereka dari yang paling tinggi ke yang paling rendah.
Sistem pembagian kelas itu, di kemudian hari, menciptakan dua golongan akademis yang dipercaya memiliki kemampuan intelektual yang berbeda. Dua golongan itu adalah: fasl fauq, yang secara Bahasa berarti kelas tinggi, dengan rentangan B sampai F. mereka dianggap sebagai golongan dengan kepandaian tinggi. Yang kedua adalah fasl taht, secara etimologi berarti kelas rendah, dengan rentangan G sampai kelas terakhir. Berbanding terbalik dengan fasl fauq, fasl taht dianggap sedikit kurang dalam hal akademis.
Anggapan yang berbeda terhadap fasl fauq dan fasl taht itu, menimbulkan perlakuan yang berbeda pula terhadap masing-masing golongan. Umumnya, orang-orang yang duduk di kelas tinggi akan sedikit mendapat kebebasan dalam belajar. Mereka dipercaya memiliki kemampuan yang cukup untuk memahami pelajaran melalui buku dengan membacanya secara otodidak. Sementara golongan yang lain, disebabkan oleh anggapan yang lebih cenderung meragukan kemampuan mereka, umumnya akan mendapat tambahan disiplin belajar dari wali kelas ataupun pengajar di kelasnya masing-masing.
Yang bagus sekaligus membahayakan adalah, anggapan yang kemudian dijadikan dasar dalam memperlakukan mereka itu, akan membentuk kepribadian mereka. Seorang murid yang sebenarnya memang memiliki kekurangan dalam hal akademis, ketika berada dalam lingkungan belajar yang tercipta dari perlakuan orang terhadap kelas tinggi, biasanya akan tertuntut untuk menjadi sebanding dengan teman-temannya. Di sisi lain, seorang murid yang sebelumnya memiliki potensi untuk menjadi berprestasi, namun tertekan dengan anggapan bahwa dirinya adalah bagian dari murid yang sedikit kurang di bidang akademis, bisa jadi justru akan kehilangan rasa percaya diri, dan kemudian benar-benar menjadi kehilangan potensi pandainya jika dibiarkan saja.
Setelah saya hidup sekian tahun di Gontor, menjadi bagian dari salah satu golongan tersebut, dan kemudian mendapatkan kesempatan untuk menyelami kehidupan kelas fasl fauq dan fasl taht sebagai pengajar, saya justru beranggapan bahwa dibalik sistem penempatan kelas berdasarkan nilai akademis, fasl fauq dan fasl tahtbukanlah dua golongan antara B sampai F dan G hingga kelas terakhir. Saya lebih percaya bahwa sebenarnya fasl fauq dan fasl taht adalah dua simbol mental berbeda yang dimiliki oleh seorang murid. Hal itu karena faktanya, seorang murid duduk di kelas tinggi bukan hanya karena ia memiliki kemampuan akademis yang baik. Melainkan ada banyak sebab. Sebaliknya, seorang murid duduk di kelas  bawah bukan hanya karena kemampuan akademisnya buruk. Melainkan juga ada banyak sebab.
                Ada orang yang kemampuan akademisnya luar biasa, tapi karena memiliki catatan pelanggaran, atau dipandang kurang berakhlak, diturunkan kelasnya ke abjad pertengahan, atau bahkan abjad paling rendah sekalipun. Karena itu, mereka membuat beberapa bangku di kelas atas kosong, dan kemudian harus diisi oleh siswa lain yang diambil dari kelas yang lebih rendah abjadnya. Hal itu membuat orang yang pada dasarnya hanya memiliki kemampuan akademis sebatas rata-rata, mendapatkan kesempatan untuk duduk di kelas atas.
                Bagi saya, fasl fauq adalah simbol untuk menamai murid dengan perangai yang baik dan mental yang positif, sekalipun ia duduk di rentangan kelas yang dianggap kelas bawah.

                Meskipun duduk di kelas bawah, bisa jadi seorang murid mentalnya fasl fauq karena rajin belajar, pantang menyerah, suka mendiskusikan hal-hal penting termasuk pelajaran, mau bertanya ketika menghadapi kesulitan, mau membantu teman, dan yang paling penting, bisa menghormati pengajarnya.

                Sementara fasl taht adalah simbol untuk menamai murid dengan perangi buruk dan mental negatif. Walaupun ia dianggap pintar dan duduk di kelas atas, bisa jadi ia bermental fasl taht jika ia sombong, malas, tidak mau belajar karena merasa pintar, sering terlelap di kelas, dan tidak bisa menghormati guru.
                Dalam hal ini, orang yang paling baik tentu adalah mereka yang duduk di kelas atas, dan juga memiliki sifat-sifat dan kebiasaan positif yang terimplenentasi dalam kegiatan dan akhlaknya dalam kehidupan sehari-hari. sebaliknya, orang yang paling buruk adalah orang yang belum cukup duduk di kelas bawah, malas dan tidak mau belajar pula.

                Menghadapi itu, saya selalu berpesan kepada murid-murid saya di akhir sesi mengajar bahwa perbedaan kelas bukanlah sekat untuk berprestasi, bukan tidak mungkin seseorang yang duduk di kelas bawah bisa mengalahkan teman-teman lain yang duduk di kelas atas. Semuanya bergantung pada bagaimana cara mereka mengelola potensi diri masing-masing.

                Tapi yang lebih penting, apabila mereka tidak bisa menjadi fasl fauq dalam hal akademis, setidaknya mereka harus fasl fauq dalam akhlak dan adab.