Kecopetan di Jakarta!

Definisi bahagia bagi saya sangatlah sederhana; bepergian jauh dengan bis berpendingin udara selama berjam-jam, sambil mendengarkan lagu kesukaan dengan earphone dan melihat berita terkini di media sosial melalui perangkat telpon genggam pintar. Saya sangat suka dengan suasana seperti itu. Melihat keramaian di jalan raya malam berpenerangan lampu-lampu kuning dari balik kaca bus.

Momen seperti itu, saya rasakan ketika saya menghabiskan awal liburan panjang di bulan Ramadhan 1436H lalu. Ketika itu, saya bersama teman-teman kru klub jurnalistik di sekolah merencanakan sebuah perjalanan ke Jakarta untuk berkunjung ke kantor-kantor media massa nasional, baik cetak, elektronik, ataupun online.

Saat itu kami duduk di kelas X SMA, ketika naik kelas usai liburan panjang di bulan Ramadhan itu, kami akan menjadi pengurus klub jurnalistik tersebut. Maka tujuan kami mengadakan perjalanan tersebut adalah untuk menimba ilmu agar nanti kami memiliki ‘sesuatu’ untuk dibagikan kepada anggota klub kami.

Yang sedang berselfie : Iqbal Aziz. Salah satu
foto yang terselamatkannya sangat saya
syukuri!

Bahagia sekali ketika itu saya berangkat dari Boyolali menuju Jakarta ditemani OPPO Neo yang baru saja keluar di pasaran saat itu. Dengan ponsel pintar itu, saya benar-benar merasakan bahwa kemajuan teknologi dapat memudahkan kita menjalani hidup, dan bisa menjadi perantara untuk mendatangkan kebahagiaan batin.

Kecuali memudahkan kami menemukan rute perjalanan dari tempat singgah menuju kantor-kantor berita yang kami hendak kunjungi, ponsel tersebut juga sangat menunjang kegiatan kami dengan kemampuannya merekam suara yang hasilnya jernih, dan mengambil gambar dengan resolusi tinggi. Saya benar-benar merasakan bahwa OPPO Neo itu adalah salah satu hasil karya tangan manusia paling luar biasa.

Suatu hari, jadwal kunjungan kami adalah ke kantor Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia di Kwitang, Senen, Jakarta Pusat. Kami berkunjung ke kantor AJI pada siang hari. Selama di kantor AJI, saya merekam sesi belajar kami bersama perwakilan wartawan dari AJI yang hampir 2 jam itu dengan Neo. Bahkan sebelum pamit, kami juga berpose mengambil gambar.

Saya benar-benar tidak memiliki firasat bahwa suatu hal buruk akan terjadi hari itu.

Selepas shalat ashar, kami pulang menuju tempat singgah di Jakarta Selatan dengan Trans Jakarta dari halte Kwitang. Perjalanan pulang kami itu bersamaan dengan jam selesainya kantor-kantor di Jakarta, alhasil, bus yang kami tumpangi penuh sesak dengan pekerja kantoran.

Dalam kondisi ramai seperti itu, kami sekelompok lupa berprinsip untuk saling tidak menjauh dan saling mengawasi satu sama lain. Pertama agar tidak ada yang hilang atau ketinggalan, kedua agar barang yang kami bawa aman.

Selama perjalanan di Jakarta itu, saya selalu membawa tas kecil berbahan jeans yang menggantung di pundak saya. Di dalam tas kecil itu, saya menyimpan buku tulis, handycam, dompet, dan ponsel. Melihat muka-muka lelah manusia di sekitar saya ketika itu, saya tidak memiliki rasa curiga sama sekali. Dan itu juga berarti bahwa saya telah kehilangan rasa untuk selalu berwaspada.

Saya berdiri di tengah-tengah bus dalam keadaan saling berhimpitan dengan penumpang lain. Ketika bus melewati bundaran Hotel Indonesia, saya sempat mengeluarkan ponsel dari dalam tas untuk sekedar memeriksa pemberitahuan terbaru dari media sosial. Berusaha untuk menghemat pemakaian baterai, saya meminimalisir pengguaan ponsel dan memasukannya kembali ke dalam tas. Mungkin saya tidak sadar bahwa ketika itu bisa jadi ada sepasang mata yang telah mengamati saya.

Begitu bundaran HI sudah lewat, entah dengan motivasi apa, saya ingin kembali mengecek pemberitahuan media sosial di ponsel. Karena sudah hafal di bagian mana saya biasa meletakkan ponsel di dalam tas, saya hanya perlu membuka resleting dan memasukkan tangan saya tanpa perlu melihat. Tapi saya tidak menemukan ponsel yang hendak saya ambil. Kali pertama tidak menemukan benda itu, saya masih berbaik sangka. Mungkin ponsel itu terselip di antara benda-benda lain di tas kecil saya. Saya mencoba membukanya dan memilah setiap benda. Satu-persatu. Dalam keadaan bus tengah berjalan dan saya berada di tengah keramaian yang saling berdesakan itu. Namun tetap tidak ada.

Ketika itu saya menyadari bahwa suatu hal buruk mungkin saja telah terjadi pada saya; kecopetan. Meskipun saya masih mencoba menyisakan sedikit ruang baik sangka, yakni dengan berharap bahwa ponsel saya terselip di bagian paling bawah tas kecil itu. Walaupun pendingin udara di dalam bus menyala, saya merasa tubuh saya mulai kepanasan, justru dengan keringat dingin yang mulai mengalir dari pori-pori setiap jengkal kulit tubuh saya. Jika benar saya ini kecopetan, maka copet itu masih ada di dalam bus ini, di antara penumpang yang berdesakan karena bus memang belum berhenti di halte selanjutnya sejak saya naik. Namun saya tidak tahu harus melakukan apa. Apakah saya harus berterika kecopetan? Atau saya harus menyampaikan perihal ini kepada petugas keamanan di dalam bus, jika ya apakah ada?

Hal pertama yang saya lakukan adalah menyampaikan keresahan saya itu pada teman saya dengan bahasa arab, agar orang lain tidak tahu. Mereka berusaha meyakinkan saya bahwa saya hanya telah salah menaruhnya di dalam tas. Sekali lagi saya berbaik sangka karena handycam masih ada di dalam tas.

Ketika turun dari TransJakarta, saya mengeluarkan semua isi tas kecil saya itu, dan ternyata; saya kecopetan! Sulit sekali mendeskripsikan apa yang saya rasakan saat itu. Marah dan kesal, tapi bagaimana saya melampiaskannya? Rasanya seperti ingin menangis dan berteriak kencang-kencang. Tapi saya tahu itu tidak akan membuat ponsel saya kembali. Membayangkan bagaimana saya akan menghabiskan sisa beberapa hari perjalanan di Jakarta tanpa ponsel itu sangatlah mengerikan. Di ponsel itu ada peta, nomor kontak kantor-kantor yang akan kami kunjungi, foto-foto dokumentasi beberapa hari terakhir yang cukup banyak, dan rekaman presentasi setiap kunjungan.

Yang membuat perasaan saya semakin tidak karuan adalah kenyataan bahwa usia ponsel itu belum genap satu minggu, dan aslinya bukan dibeli untuk saya. Saya hanya dipinjami saja.

***

Konsulat adalah organisasi pelajar yang berasal dari daerah yang sama. Karena saya berasal dari Boyolali, maka secara otomatis saya tergabung di Konsulat Surakarta-Jogjakarta. Sebuah tradisi yang sudah berjalan selama bertahun-tahun konsulat kami adalah mengadakan pentas seni pada awal liburan panjang akhir tahun. Tempatnya berpindah-pindah setiap tahun. Biasanya, para orang tua kami menjemput di tempat acara.

Pada acara tahun itu, saya berasa sedikit aneh. Saya tidak menemukan orang tua saya datang hingga acara hamper selesai. Biasanya sebelum acara dimulai pun, minimal saya sudah melihat ibu saya datang. Di sela-sela acara, berulang kali saya mengelilingi tempat mobil-mobil para tamu diparkirkan. Sengaja mengecek apakah mobil keluarga kami sudah datang atau belum. Dan memang belum.

Baru ketika acara selesai, setelah saya mengemasi barang, saya bertemu dengan bapak saya yang sudah menunggu di area parkiran.

“Sendirian, bah?” Tanya saya.

“Ya.”

“Umi mana?”

Tak ada jawaban, dan saya berfirasat buruk. Insting paranoid saya suka menari-nari di kepala pada suasana membingungkan seperti ini. Saya terbiasa menahan diri untuk tidak mengulangi pertanyaan. Mungkin orang lain lebih tahu mengapa ia tidak menjawab sebuah pertanyaan. Bapak hanya memberikan ponsel yang katanya baru saja dibelikan untuk kakak saya yang beberapa belas hari lagi akan lulus dari pondok. Untuk sementara waktu, ponsel itu saya pakai dulu saja untuk ke Jakarta.

Setelah beberapa kilometer mobil berjalan, beliau baru memberi tahu bahwa ibu saya sedang berada di rumah sakit. Sudah beberapa hari ini dirawat inap di Rumah Sakit Dr. Oen Sawit. Beliau baru saja menjalani operasi karena telah menjadi korban tabrak lari oleh seseorang yang tidak dikenal bermotor vixion. Peristiwa tersebut terjadi ketika ibu saya hendak menyebrangkan beberapa ibu-ibu lain dalam rombongan yang hendak menunaikan shalat maghrib berjamaah.

Peristiwanya terjadi sangat cepat. Ibu saya terjatuh di atas aspal. Beberapa orang yang melintas berusaha mengejar pelaku. Tapi manusia tak bertanggung jawab itu terlalu cepat. Hilang dimakan lalu lintas Solo Baru yang ramai.

Saya kalut.

Berusaha menahan air mata agar tidak menetes. Kenapa saya baru diberi tahu.

Berarti peristiwa tersebut terjadi ketika saya sedang menjalani Ujian Akhir Semester di Pondok. Berita ini pasti sengaja dirahasiakan dari saya.

Kami berdua pulang ke rumah sekedar mengambil beberapa helai baju untuk ganti, kemudian melanjutkan perjalanan kembali ke rumah sakit DR. Oen. Di sana, melihat ibu saya terbaring di atas ranjang rumah sakit, saya tidak bisa lagi menahan air mata untuk tidak menetes. Saya menangis sejadi-jadinya, sambil memeluk ibu saya yang terbaring di atas ranjang.

Berulang kali beliau mengatakan bahwa beliau baik-baik saja. Pernyataan yang semakin dikatanan semakin membuat air mata saya bertambah deras mengalir.

Yang membuat saya lebih kalut adalah fakta bahwa peristiwa tabrak lari tersebut terjadi tepat setelah ibu saya membeli ponsel yang saya pegang saat itu.

Dan saya, telah memberikannya secara sukarela kepada pencopet Jakarta sebelum usianya genap sepekan

Anak macam apa saya ini.

….

Sejak saat itu, saya seperti memiliki trauma berkepanjangan. Dimana setiap kali saya naik kendaraan umum, saya selalu merasa tidak aman, seperti selalu ada yang tengah mengintai saya, dan menunggu saat dimana saya lelah, untuk kemudian mereka menjarah barang-barang saya. Trauma seperti ini mengerikan karena saya memiliki banyak tuntutan untuk bepergian dengan bus dan kereta.

Saran saya, ketika berada dalam keramaian semacam di dalam Trans Jakarta yang sedang padat, pastikan barang berharga termasuk dompet dan ponsel, berada dalam pengawasan anda. Mungkin lebih baik anda memakainya untuk bermedia sosial atau sekedar mendengarkan musik, walaupun seolah mencolok dan mengundang perhatian copet, tapi bukankah itu lebih baik daripada anda menaruhnya di dalam tas lalu hilang tanpa anda tahu siapa yang telah mengambilnya?

Pak Nur dan Worldview Aqidah Islamnya

Di suatu sudut  dalam ruang dosen pria di kampus Rabitah Universitas Darussalam Gontor itu, ada satu benda yang kurasa karena terlalu lama tak tersentuh oleh tangan manusia, mulai berdebu tipis permukaannya. Benda itu adalah stopmap hard cover berwarna biru dongker. Isinya hanyalah beberapa lembar absen kehadiran mahasiswa dan satu lembar kertas HVS jurnal materi kuliah untuk dosen. Dari beberapa lembar yang masing-masing berisi 5 kolom kehadiran, hanya ada satu kolom yang sudah terisi.
Benar! Selama hampir 4 bulan masa aktif perkuliahan, kami baru masuk satu kali saja. Tidak lebih dan tidak kurang. Ketika masuk untuk kedua kalinya, Pak Muhammad Nur, sang dosen, menyatakan bahwa dirinya bahkan sampai lupa mengajar materi apa di kelas kami. Sementara beliau tidak tahu bahwa kami para mahasiswanya ini sangatlah berharap-harap untuk masuk lagi dan masuk terus pada mata kuliah Worldview Aqidah Islam.
Pada pertemuan pertama, Pak Nur telah membuat peraturan bahwa mata kuliah yang diampunya akan selalu dimulai pukul 7 tepat. Walaupun hanya satu orang saja yang sudah datang, maka kuliah akan tetap dimulai. Mahasiswa diberi waktu tenggng selama sepuluh menit terhitung dari pukul 7 tepat. Selama masa tenggang itu, silakan masuk saja ke ruang kuliah tanpa salam tanpa permisi. Itu hak kalian. Tapi jika terlambat, jangan berani masuk, mendingan pulang saja karena tidak akan dihitung hadir. Konsekuensi atas peraturan yang telah disepakati bersama itu juga berlaku untuk dirinya sendiri sebangai sang dosen. Apabila sampai pukul tujuh lewat sepuluh menit dirinya belum hadir, maka kami para mahasiswanya dipersilakan untuk meninggalkan kampus. Kuliah secara otomatis telah ditiadakan.
Begitulah kami setiap hari Sabtu malam, datang pukul tujuh tepat, menunggu selama 10 menit, lalu pulang karena Pak Nur tidak datang. Padahal dalam sakit hati saya yang karena tidak mendapat jurusan sesuai pilihan itu, mata kuliah Worldview Aqidah Islam yang diampu Pak Nur seolah-olah telah menjadi obat penawarnya.
Dalam kuliah di Universitas Darussalam yang memang sudah saya rencanakan hanya akan berlangsung selama dua semester ini, saya telah memasang niat untuk memperkuat aqidah islam saya sebagai dasar menghadapi kehidupan dunia luar pondok nanti. Cita-cita saya, memiliki keahlian komputer sekaligus tetap mampu mendalami ilmu agama dengan baik. Kualifikasi seperti itu yang telah lama saya anggap sebagai ideal. Realisasinya, saya memilih program studi Aqidah Filsafat Islam yang memang telah menjadi prodi unggulan Universitas Darussalam Gontor. Konon, banyak universitas lain yang pengajaran Aqidah Filsafat Islamnya telah melenceng.
Ketika menjalani tes wawancara dengan dosen prodi tersebut, saya menyampaikan secara jujur mengapa saya memilih Aqidah Filsafat Islam. Sayang sekali ternyata saya tidak ditempatkan di prodi tersebut. Saya justru tersesat di Perbandingan Madzhab Fakultas Syariah. Padahal prodi tersebut sama sekali tidak saya pilih. Untuk tiga prodi yang diajukan, saya memilih Aqidah Filsafat Islam, Ilmu Qur’an dan Tafsir, baru Ilmu Komunikasi yang tidak jauh-jauh dari passion saya.
Mendapat Perbandingan Madzhab adalah ketersesatan bagi saya.
Ketika Pak Nur masuk pertama kali pada saat bulan pertama masa aktif kuliah hampir lewat, saya seperti kehujanan setelah melalui perjalanan panjang di gurun yang gersang lagi panas. Nikmat! Segar! Saya merasa mendapat injeksi semangat untuk kuliah, pada mata kuliah Worldview Aqidah Islam saja tapi. Pertemuan pertama itu membahas konsep Islam, Iman, dan Ihsan. Lalu di akhir pertemuan pertama tersebut, beliau menjabarkan apa saja yang akan kami pelajari dalam mata kuliahnya. Antara lain; konsep Tuhan, konsep wahyu, konsep rasul, dan lain sebagainya. Inilah yang saya cari-cari sejak lama di kampus ini! Teriak saya dalam hati.
Pembahasan mata kuliah bersama Pak Nur itu terasa nyaman sekali. Penyampaiannya membuka cakrawala rasa ingin tahu kami atas ilmu pengetahuan. Rasanya seperti ingin belajar, belajar, dan terus belajar. Mencari, mendengar, dan mendalami. Kuliah bersama Pak Nur dua jam sama sekali tidak melelahkan. Bahkan saya tidak akan keberatan sama sekali apabila setiap pertemuannya akan menjadi seperti itu.
Mempelajari hal yang kita sukai dari orang yang tepat memang selalu menyenangkan. Orang yang tepat, bukan hanya membuat kita yang suka betah berlama-lama, tapi juga membuat mereka yang malas menjadi tertarik untuk membuka mata. Sebaliknya, kadang kita justru menjadi kurang nyaman dengan suatu hal yang pada awalnya kita sukai hanya karena orang yang menyampaikannya tidak tepat. Tidak bisa membawakan.

Dari situ saya belajar, untuk memotivasi diri agar menjadi orang yang tepat pada setiap mata pelajaran yang saya bawakan di kelas. Dan saya merefleksikannya agar saya tidak memandang suatu secara sempit, seperti hanya pada siapa yang mengajarkannya. Apabila suatu pelajaran kurang menarik karena sang pengajar kurang bisa membawakannya, saya harus mencari jalan lain agar asya tetap suka untuk mempelajarinya.

Sebelum berkenalan dengan kecopetan di Megapolitan

Ada kalanya gw punya acara di Jakarta yang berupa rentetan kunjungan ke beberapa kantor media masa untuk belajar dari ahli. Acara tersebut berlangsung selama beberapa hari, diantara hari-hari yang menyibukkan gw untuk pindah dari satu daerah di Jakarta ke daerah yang lain untuk mencapai kantor yang akan kami kunjungi, ada satu hari yang kosong. Maka tidak ada pilihan lain bagi tim gw untuk menghabiskan satu hari tersebut kecuali dengan : liburan! Mumpung di Jakarta.
Tapi karena diantara 10 orang tim gw itu nggak ada orang yang asli Jakarta, alhasil kami tidak tahu harus jalan kemana dan naik apa. Saat itu pun kami masih terlalu primitif untuk mengetahui tempat jalan asik dengan aplikasi gawai pintar. Akhirnya kami hanya mengandalkan pengetahuan di masa lampau, yakni mengandalkan ingatan seorang teman yang pernah jalan ke Kota Tua.
Sebelumnya gw hanya kenal kota tua dari acara di tivi-tivi, dan kesan saat pertama kali bener-bener dating di Kota Tua adalah : daerah ini memang bener-bener tua! Terbukti dengan bangunan berarsitektur eropa yang masih berdiri kokoh dan sengaja dijaga untuk dijadikan objek wisata dan sarana untuk mengabadikan sejarah.
Sayangnya hari ketika kami datang ke Kota Tua itu adalah musim liburan sekolah. Museum Fatahillah yang sebenarnya jadi tujuan kami datang ke Kota Tua itu penuh sesak oleh turis. Untuk masuk saja harus mengantri panjang. Alhasil kami hanya menikmati kota tua di Taman Fatahillah yang luas dan ramai itu.
Apa yang kami lakukan di Taman Fatahillah?
Berdiri dan terkagum-kagum pada manusia-manusia yang mengecat dirinya dan berpose layaknya patung.
Gw lagi mengamati seorang patung ketika seseorang yang tidak gw kenal mendekat tanpa gw sadari, dan tanpa permisi, berbisik ke telinga kanan gw,
“Mas mau beli iPhone 5?” bisiknya pelan, tapi nadanya serius. Jaman itu memang iPhone 5 masih baru-barunya dan banyak anak muda yang pengen beli, tapi kesandung harga yang mahal.
Penampakan orang itu sama sekali tidak mencurigakan, berkaos hitam dengan topi, celana jeans, dan bertangan kosong. Hampir tidak ada bedanya dengan pengunjung-pengunjung lain.
Mata kami saling tatap dalam diam untuk beberapa detik. Dalam menghadapi kasus seperti ini, gw punya prinsip untuk selalu menghindari hal-hal yang nggak pasti, meragukan, dan mencurigakan.
“Murah, mas,” lanjutnya dengan menaikkan tingkat meyakinkan pada raut wajahnya.
“ngg.. nggak mas, makasih,” tolak gw secara halus. Dan belum sempat gw merekam detail wajah orang tersebut, dia sudah hilang di tengah keramaian.
Saat kembali bergabung dengan teman-teman yang lain, gw menceritakan apa yang barusan gw alami, dan ternyata bukan Cuma gw yang menerima bisikan dari orang tidak dikenal tersebut. Dua tiga orang lain juga dapat bisikan penawaran iPhone tersebut. Bukan hanya iPhone, tapi juga Blackberry yang juga masih booming saat itu.
Dari opini temen gw yang kelihatan sok tahu, langkah kami untuk menolak tawaran tersebut memang sangat tepat sekali. Karena biasanya barang yang mereka jual itu adalah HASIL COPETAN! Maka bahaya untuk memilikinya walaupun murah. Apalagi iPhone yang jika hilang bisa di track lokasinya dengan iCloud!
Mendengar pernyataan bahwa barang-barang tersebut adalah hasil copetan justru membuat gw sedikit merasa menyesal sudah terlalu buru-buru untuk menolak tawaran tersebut. Seharusnya gw bilang iya dulu, lihat barangnya dulu, Tanya harganya dulu, telusuri dulu, baru tolak. Insting wartawan yang memang lagi kami latih di Jakarta itu main. Tapi terlambat. Gw berharap untuk didatengin lagi sama abang-abang yang menawarkan barang elektronik tersebut dengan berpisah dari grup, dan diam seolah sedang memperhatikan sesuatu. tapi kesempatan tidak datang dua kali.
Setelah Kota tua itu, di daerah lain yang gw lewati, baik itu ketika sedang dalam perjalanan dalam kendaraan umum, atau sedang menunggu metro mini, gw mulai suka memperhatikan barang-barang yang dijual tidak di tempat selayaknya berjualan. Contoh : orang berjualan handphone seperti jualan minuman ringan, yaitu di trotoar, dengan papan kayu dan handphone yang dijual ditempat pada papan tersebut dengan karet. Handphonenya dijual batangan. Entahlah darimana asal handphone-handphone tersebut.
Postingan ini akan menjadi pembuka cerita kecopetan gw di Jakarta.

Satu Jurusan Bisa Jadi Beda Jalurnya : Kisah Sedih Salah Naik Bus

Ibarat pepatah sekali mendayung dua pulau terlampaui, dalam satu perjalanan pulang itu, saya mendapat dua pelajaran penting tentang dunia bus.
Kejadiannya pada akhir tahun 2015, waktu itu saya masih kelas 5 KMI, yang sedang menghabiskan liburan pertengahan tahun dengan durasi 10 hari. Karena itu adalah liburan terakhir sebelum saya harus bermukim di pondok sampai lulus, saya memutuskan untuk membuat liburan itu lain. Dari 10 hari itu, saya menghabiskan lima hari pertama di Pulau Lombok, dan lima hari sisanya di Boyolali.
Berdasarkan pertimbangan harga tiket yang lebih murah, saya pulang dengan pesawat yang mendarat di Bandara Juanda Surabaya, yang harga tiketnya Rp 400 ribu lebih murah dibandingkan dengan pesawat yang mendarat di Jogjakarta.
Konsekuensinya, saya harus melakukan perjalanan darat dari Surabaya menuju Boyolali untuk sampai ke rumah. Seharusnya perjalanan Surabaya ke Boyolali itu menjadi perjalanan yang mudah dibawah arahan dan petunjuk ayah saya. Pasalnya, beliau selalu melakukan perjalanan dengan rute yang sama dua kali dalam sepekan. Tapi semua itu berubah menjadi runyam karena kesoktahuan saya yang mendatangkan bencana.
Pesawat saya mengalami penundaan penerbangan hingga dua jam karena cuaca buruk. Seharusnya saya mendarat di Surabaya pukul tiga sore, namun karena penundaan tersebut, saya baru sampai di Juanda pukul lima sore. Berhubung belum sempat makan siang, saya menyempatkan diri untuk mampir di restoran cepat saji di dalam komplek bandara tersebut.

Sesuai arahan, saya harus melanjutkan perjalanan menuju terminal bungur asih dengan bus Damri dengan tiket seharga Rp 25 ribu. Suasana terminal ibukota Jawa Timur tersebut benar-benar seperti apa yang digambarkan oleh ayah saya. Begitu turun dari bus Damri, ada banyak orang—yang entah mereka itu kondektur atau siapa—menyambut kami yang datang dari bandara menanyakan kemana tujuan perjalanan kami.
 Sempat dibujuk dan dipaksa-paksa, saya akhirnya bisa bertahan sampai peron bus tujuan luar kota. Jika saya mengikuti arahan, seharusnya saya menumpang bus Eka dengan tujuan semarang. Karena tergesa-gesa dan ingin segera naik bus agar cepat sampai rumah, yang terngiang-ngiang di kepala saya waktu itu hanyalah semarang, semarang, dan semarang.
Ada seorang kondektur menghampiri saya, “Semarang Mas!” katanya dengan tatap mata penuh keyakinan. Saya sempat diam beberapa detik, berusaha mencerna baik-baik gelombang suara yang dikirimkan oleh mulut kondektur tersebut ke telinga saya. Ya, semarang, kata saya dalam hati. Saya pun mengangguk-angguk setuju, dan orang itu mengarahkan saya untuk menuju sebuah bus berwarna merah yang siap untuk berangkat. Nama bus itu adalah “Indonesia”, saya tidak pernah tahu ada bus dengan nama tersebut.
Saya bersyukur sekali mendapatkan bus dengan seat yang nyaman dan ber-AC dingin, saya segera duduk dan melaksanakan shalat maghrib di atas bus.
Saya baru menyadari bahwa saya berada dalam sebuah kesalahan besar ketika kondektur mulai menariki ongkos perjalanan. Saya mendengar para penumpang menyebut kota-kota yang terasa asing dalam perjalanan yang seharusnya saya lakukan.
Gresik..
Lamongan..
Rembang..
Kudus..

Hingga sang kondektur sampai di seat saya dan bertanya,
“Turun di mas?”
“Boyolali,” jawab saya ragu.
Raut sang kondektur seketika berubah, seakan dia mendengar suatu hal yang tidak wajar. Dan ternyata Boyolali memang sebuah hal yang tidak wajar dalam bus arah semarang via pantura ini.
“Mas, nggak lewat Boyolali, ini lewat jalur utara.”
Saya terdiam untuk beberapa saat, berusaha memikirkan apa yang harus saya lakukan. Turun di sini tidak mungkin, karena posisi bus sedang berada di jalan tol. Dan jika bisa turun pun, saya harus memikirkan lagi bagaimana caranya untuk bisa kembali ke terminal.
Akhirnya saya memutuskan untuk mengikuti bus sampai semarang, baru kemudian mencari bus arah Surakarta. Toh perjalanan dari Semarang menuju Surakarta tidak begitu lama, ‘hanya’ 2 jam. Dengan kata lain, jika mengikuti rute yang benar, seharusnya saya bisa menghemat durasi perjalanan 4-5 jam.
Akibat kesalahan tersebut, walaupun sudah membesarkan hati dan menenangkan diri, saya tetap merasa mood saya berantakan. Akibatnya, perut saya tidak enak. Dalam kupon makan yang merupakan bagian dari ongkos perjalanan, saya hanya bisa memasukkan beberapa sendok kuah soto yang tawar itu ke mulut, dan menyeruput segelas teh kurang manis yang justru semakin memperburuk keadaan perut saya. Karena sudah tidak bisa ditahan dan bus dalam keadaan mengebut di jalan tol, akhirnya saya harus bisa beradu ketangkasan untuk buang hajat di toilet bus.
Tragedi dalam perjalanan pulang itu belum selesai.
Bus saya akhirnya sampai di Semarang pukul satu dinihari. Karena kondisi minim cahaya dan dalam keadaan mengantuk sehabis tidur, saya tidak tahu dimana bus tersebut berhenti. Apakah di terminal, atau di tempat yang lain. Satu-satunya hal yang saya sadari saat itu adalah, bahwa di seberang jalan, ada sebuah bus yang sudah siap berangkat. Seseorang mengatakan bahwa bus tersebut adalah bus kea rah Surabaya via Surakarta.
Saya senang karena tidak harus menunggu lama untuk bisa mendapatkan bus pulang.
Ketika hendak naik dari pintu depan bus, seseorang memanggil saya agar naik dari pintu belakang saja. Saya tidak bisa melihat dengan jelas wajah orang itu karena kondisi minim cahaya. Yang jelas, orang itu meminta saya untuk membayar ongkos perjalanan sebelum saya naik ke atas bus.
“Empat puluh delapan ribu mas,” katanya tanpa saya bertanya. Seharusnya saya cukup pintar mengetahui bahwa harga tiket bus Solo-Semarang saja hanya Rp 30 ribu, mana mungkin tiket sampai Boyolali yang hanya setengah perjalanannya bisa lebih mahal.
Namun insting curiga saya ketika itu telah tertutupi oleh rasa bahagia karena akhirnya bisa mendapatkan bus yang akan membawa saya pulang.
Saya mengaduk-aduk tas kecil dan dompet untuk tidak menemukan uang pecahan kecil sama sekali. Terpaksa saya membayar ‘tagihan’ tersebut dengan pecahan seratus ribuan. Ketika selembar uang dengan wajah proklamator itu saya serahkan, entah bagaimana bisa namun seperti dibalik, wajah bung karno dan bung hatta berubah menjadi pangeran antasari.
“Mas ini Cuma 2000 perak,” katanya membodohi saya, dan saya memang bodoh sekali saat itu.
Kenapa harus 2000 yang ia jadikan kambing hitam? Mungkin karena seharusnya skenario penipuan tersebut adalah saya membayar dengan pecahan 50 ribu, kemudian ia memberikan kembalian 2000 rupiah sebelum kabur. Tapi karena saya membayar dengan pecahan 100 ribu, insting menipunya pun bermain, sekalian saja dibohongi.
Saya pun mengulangi hal yang sama: membayar dengan pecahan Rp 100 ribu,
Dan kondektur jadi-jadian itu juga mengulangi hal yang sama: merubah wajah bung karno dan hatta menjadi Pangen Antasari, seraya mengatakan bahwa saya telah membayar dengan uang yang salah.
Saya memberikan kepadanya 3 lembar uang seratus ribu sebelum mempersilakan saya naik ke atas bus. Saya telah mengeluarkan Rp 300 ribu untuk perjalanan seharga Rp 20 ribu.
Ketika duduk di atas bus, saya baru saja menyadari bahwa saya telah menjadi korban penipuan, sementara penipu tersebut telah jauh pergi ditelan kegelapan malam semarang. Saya menyumpah-seraphai kebodohan saya tersebut ketika itu.
Akhirnya saya sampai di Boyolali pukul 3 dini hari, orang yang membukakan pintu rumah saat itu adalah ibu saya, melihat saya yang datang, ibu reflek memeluk saya, seakan kejadian salah jurusan bus tersebut adalah suatu hal yang sangat berbahaya, tanpa ibu tahu bahwa ada hal yang lebih harus dikasihani daripada salah jurusan: kena tipu!

Pesan Moral :  Pertama, ketika hendak naik bus, perhatikan baik-baik jalur mana yang akan dilewati bus tersebut, karena bisa jadi beberapa bus memiliki tujuan akhir yang sama, namun melewati jalur yang berbeda-beda. Kedua, jika tidak membeli tiket di agen resmi, maka bayarlah tiket bus kepada kondektur ketika anda sudah berada di atas bus.

Hidup yang Mie Instant

Saya adalah salah satu penggemar mie instant. Memang tidak mengonsumsinya secara berlebihan. Tapi saya pernah menjadikan mie instan sebagai solusi alternatif mengisi perut ketika tidak ada makanan lain saat sarapan, sahur, dan makan malam.
Ada juga kalanya ketika saya menganggapnya sebagai camilan untuk mengganjal perut kosong tetapi jam makan belum datang.
Suasana yang paling bisa membuat saya menikmati mie instant adalah ketika hujan turun deras. Yakni dengan menambahkan beberapa potong cabe rawit pada mie kuah. Semakin kecil dan semakin muda warna hijau cabainya, maka semakin nikmat pula sensasi pedas dan puas yang saya rasakan.
Ketika saya bersekolah di Gontor, ternyata saya menemukan fenomena fanatisme terhadap mie instant yang lebih gila. Setelah nasi ayam yang dijual di kantin-kantin, mie instant dan olahannya menjadi menu paling favorit yang disukai oleh mayoritas murid. Apalagi ketika ujian. Mie instant seolah menjadi teman yang selalu ada untuk menenangkan perut kosong yang terkadang menjadi sebuah masalah tersendiri dan bisa mengganggu konsentrasi belajar di malam hari.
Di Gontor, kemudian saya belajar bahwa ternyata mie instant juga menjadi sebuah alat yang sangat ampuh untuk mempererat ukhuwah dan silaturahim suatu kelompok. Ada suatu masa, ketika klub-klub olahraga berlomba menunjukkan kekompakannya dengan sahur bersama setiap Ahad dan Rabu malam. Di acara sabur bersama itu, menunya tidak lain adalah mie instant yang dimasak dalam porsi jumbo dengan ember. Karena kecuali murah, membuatnya pun juga mudah.
Selain rasa dan harga, kemudahan dalam proses pengolahannya itu tentu menjadi alasan paling kuat mengapa banyak orang menjadikannya alternatif ketika tidak ada makanan lain.
Saya sempat terkejut ketika membaca sebuah artikel yang membahas 20 bahanya memakan mie instant. Dalam artikel tersebut, hampir semua macam penyakit berbahaya dan mematikan disebutkan. Mulai dari kerusakan hati, gagal ginjal, darah tinggi, kencing manis, bahkan kanker pun disebut-sebut sebagai salah satu penyakit yang ditimbulkan oleh mie instant yang dikonsumsi secara berlebihan.
Jika artikel itu benar, maka betapa jahatnya mie instant bagi hidup kita. Ia bagai sosok musuh dalam selimut. Dincintai dan disayangi tapi memiliki maksud untuk menghabisi di belakang. Di balik kemudahannya, ternyata mie instant sangatlah berbahaya.
Sebenarnya logis saya untuk mempercayai fakta-fakta mengerikan tentang mie instant. Karena suatu makanan yang diproses dalam waktu 5 menit tentu tidak akan memberikan kualitas dan gizi yang sebanding dengan makanan yang diproses dengan waktu yang cukup lama. Di balik makanan yang lezat dan bergizi, tentu ada proses memasak yang panjang.
Ambillah nasi goreng sea food sebagai contoh yang paling sederhana dan disukai oleh banyak orang. Kita perlu mengiris bawang, menghaluskan ebi, menyiapkan wajan dan memanaskan minyak, mengorak-arik telur, mencampurkan berbagai bumbu, menumis nasi dengan seafood dan telur. Yang jelas, ada urutan proses yang harus dilalui demi hasil yang paling nikmat.
Bandingkan dengan mie instant yang bisa jadi tidak memerlukan kompor sama sekali. Rendam saja dengan air panas, tunggu lima menit, campurkan bumbu yang sudah siap sedia, dan mie instant pun siap santap.
Hampir segala hal yang bersifat instant berbahaya.
Dalam hidup, kemudian saya belajar bahwa ternyata kasus mudah tapi berbahaya itu bukan hanya terjadi pada mie instant saja. Bahkan dalam semua sudut pandang kehidupan, kita hampir selalu bisa menemukannya.
Di zaman yang dikatakan maju ini, manusia semakin suka pada hal-hal yang enteng melakukannya, tapi gede hasilnya atau gede duitnya. Kenyataan itulah yang lantas membuat banyak orang tidak berpikir panjang dan lebih memilih mengambil jalan pintas yang terkadang tidak mengantarkannya pada tujuan, tapi justru menyesatkannya jauh sekali.
Marilah kita melihat pada fenomena yang paling sering kita jumpai pada kehidupan sehari-hari.
Ketika saya masih duduk di kelas sebelas, dengan usia rata-rata 16 tahun ternyata sudah banyak teman saya yang memiliki surat izin mengemudi yang diterbitkan oleh kepolisian lalu lintas. Ada yang telah memilikinya sejak kelas sepuluh. Ada juga yang tidak hanya memiliki SIM C, tapi juga A dan B.
Bagaimana bisa remaja yang belum memenuhi syarat kecukupan umur mendapatkan izin mengemudi yang seharusnya baru bisa diperoleh setelah mereka berusia 17 tahun?
Ternyata mereka mendapatkannya dengan bantuan pihak-pihak tertentu. Ada yang harus tetap mengikuti prosedur, tapi tidak mempedulikan hasil ujian teori dan prakteknya, ada pula yang tinggal terima jadi. Asalkan nominalnya disepakati, hasil akhirnya bisa dipilih sendiri.
Hal itu tampak sederhana, tapi hal kecil itulah yang membuat ada banyak orang yang seharusnya belum layak berkendara berkeliaran di jalan-jalan. Dan akibat keterampilan yang keabsahannya direkayasa itu, terjadi kecelakaan yang sebenarnya bisa tidak perlu terjadi jika pengendaranya terampil dan tahu aturan berkendara.
Fenomena yang sama terjadi pada kasus jual beli ijazah dan fenomena joki pengerjaan tugas akhir.
Dalam suatu keadaan, ijazah diperlukan sebagai syarat untuk mendapatkan suatu posisi. Itu memang perlu untuk membuktikan bahwa seseorang memang telah memenuhi syarat kualifikasi. Tapi tidak berguna lagi ketika ijazah yang diajukan adalah ijazah palsu. Suatu posisi yang seharusnya diisi oleh seseorang dengan kemampuan akademis tertentu dan memiliki pengalaman cukup serta berakhlak mulia, justru diisi oleh orang yang mentalnya saja sudah rusak dengan melakukan tindak kebohongan. Gambarannya adalah ketika pesawat dikendarai oleh orang yang tidak memiliki pengetahuan dalam dunia penerbangan. Pesawatnya tentu tidak akan terbang. Jika terbangpun pasti membahayakan penumpangnya.
Kini juga marak kasus penggandaan harta. Dimana dengan menyerahkan sejumlah uang, seseorang dijanjikan akan mendapatkan uangnya kembali dalam jumlah berkali-kali lipat. Hasrat untuk mendapatkan hasil melimpah dengan usaha yang minimal telah membutakan akal sehat banyak orang. Padahal jika dipikir secara logis, hal itu tentu sangat tidak masuk akal.

Manusia terkadang memang lupa, bahwa tidak ada pencapaian yang didapatkan tanpa usaha. Proses adalah suatu ketentuan Tuhan yang harus dilalui untuk sampai ke suatu tujuan. Seringnya, nilai yang kita keluarkan dalam proses akan selalu berbanding lurus dengan hasil yang kita dapatkan. Semakin lelah kita mengusahakan suatu hal, maka semakin besar juga nilai yang kita dapatkan dari hasilnya. Hasil memang tidak selalu harus diukur dengan angka dan nominal uang, kita justru harus mengorientasikan hasil yang kita kejar dalam bentuk ridho dari Sang Maha Agung.
Dan ketika kita memberikan nilai nol pada suatu proses, sekalipun nol itu dihargai dengan milyaran rupiah, maka ketika menerima hasil, kita juga hanya akan mendapatkan sesuatu yang nilainya tidak lebih dari nol, bahkan bisa jadi minus.
Selamat berjuang dan tinggalkan yang instant-instant!

DESCLAIMER : Tulisan di atas bukanlah suatu artikel kesehatan yang membahas manfaat ataupun bahaya mengonsumsi mie instant. Sebagai penulis, saya menggunakan kacamata konsumen yang memiliki lidah, tangan, dan telinga. Saya mengonsumsi mie instant, saya merasakan kemudahan dalam pengolahannya, dan saya mendengar dari berbagai mulut bahwa mengonsumsi mie instant secara berlebihan dapat membahayakan kesehatan. Over all, saya percaya bahwa sebenarnya tidak ada makanan yang benar-benar instant. Di balik mie instant pun saya percaya bahwa ada proses memasak yang panjang di pabrik.

Antara Fasl Fauq dan Fasl Taht,

Secara formal, ada sebuah sistem yang mengatur pembagian kelas untuk siswa Gontor yang baru naik kelas. Yaitu dengan mengurutkan nama-nama mereka berdasarkan nilai ujian. Dengan kata lain, orang dengan nilai paling tinggi, seharusnya ditempatkan di kelas B yang merupakan abjad kelas tertinggi dengan nomor urut saru. Selanjutnya, akan diikuti oleh siswa-siswa lain berdasarkan nilai mereka dari yang paling tinggi ke yang paling rendah.
Sistem pembagian kelas itu, di kemudian hari, menciptakan dua golongan akademis yang dipercaya memiliki kemampuan intelektual yang berbeda. Dua golongan itu adalah: fasl fauq, yang secara Bahasa berarti kelas tinggi, dengan rentangan B sampai F. mereka dianggap sebagai golongan dengan kepandaian tinggi. Yang kedua adalah fasl taht, secara etimologi berarti kelas rendah, dengan rentangan G sampai kelas terakhir. Berbanding terbalik dengan fasl fauq, fasl taht dianggap sedikit kurang dalam hal akademis.
Anggapan yang berbeda terhadap fasl fauq dan fasl taht itu, menimbulkan perlakuan yang berbeda pula terhadap masing-masing golongan. Umumnya, orang-orang yang duduk di kelas tinggi akan sedikit mendapat kebebasan dalam belajar. Mereka dipercaya memiliki kemampuan yang cukup untuk memahami pelajaran melalui buku dengan membacanya secara otodidak. Sementara golongan yang lain, disebabkan oleh anggapan yang lebih cenderung meragukan kemampuan mereka, umumnya akan mendapat tambahan disiplin belajar dari wali kelas ataupun pengajar di kelasnya masing-masing.
Yang bagus sekaligus membahayakan adalah, anggapan yang kemudian dijadikan dasar dalam memperlakukan mereka itu, akan membentuk kepribadian mereka. Seorang murid yang sebenarnya memang memiliki kekurangan dalam hal akademis, ketika berada dalam lingkungan belajar yang tercipta dari perlakuan orang terhadap kelas tinggi, biasanya akan tertuntut untuk menjadi sebanding dengan teman-temannya. Di sisi lain, seorang murid yang sebelumnya memiliki potensi untuk menjadi berprestasi, namun tertekan dengan anggapan bahwa dirinya adalah bagian dari murid yang sedikit kurang di bidang akademis, bisa jadi justru akan kehilangan rasa percaya diri, dan kemudian benar-benar menjadi kehilangan potensi pandainya jika dibiarkan saja.
Setelah saya hidup sekian tahun di Gontor, menjadi bagian dari salah satu golongan tersebut, dan kemudian mendapatkan kesempatan untuk menyelami kehidupan kelas fasl fauq dan fasl taht sebagai pengajar, saya justru beranggapan bahwa dibalik sistem penempatan kelas berdasarkan nilai akademis, fasl fauq dan fasl tahtbukanlah dua golongan antara B sampai F dan G hingga kelas terakhir. Saya lebih percaya bahwa sebenarnya fasl fauq dan fasl taht adalah dua simbol mental berbeda yang dimiliki oleh seorang murid. Hal itu karena faktanya, seorang murid duduk di kelas tinggi bukan hanya karena ia memiliki kemampuan akademis yang baik. Melainkan ada banyak sebab. Sebaliknya, seorang murid duduk di kelas  bawah bukan hanya karena kemampuan akademisnya buruk. Melainkan juga ada banyak sebab.
                Ada orang yang kemampuan akademisnya luar biasa, tapi karena memiliki catatan pelanggaran, atau dipandang kurang berakhlak, diturunkan kelasnya ke abjad pertengahan, atau bahkan abjad paling rendah sekalipun. Karena itu, mereka membuat beberapa bangku di kelas atas kosong, dan kemudian harus diisi oleh siswa lain yang diambil dari kelas yang lebih rendah abjadnya. Hal itu membuat orang yang pada dasarnya hanya memiliki kemampuan akademis sebatas rata-rata, mendapatkan kesempatan untuk duduk di kelas atas.
                Bagi saya, fasl fauq adalah simbol untuk menamai murid dengan perangai yang baik dan mental yang positif, sekalipun ia duduk di rentangan kelas yang dianggap kelas bawah.

                Meskipun duduk di kelas bawah, bisa jadi seorang murid mentalnya fasl fauq karena rajin belajar, pantang menyerah, suka mendiskusikan hal-hal penting termasuk pelajaran, mau bertanya ketika menghadapi kesulitan, mau membantu teman, dan yang paling penting, bisa menghormati pengajarnya.

                Sementara fasl taht adalah simbol untuk menamai murid dengan perangi buruk dan mental negatif. Walaupun ia dianggap pintar dan duduk di kelas atas, bisa jadi ia bermental fasl taht jika ia sombong, malas, tidak mau belajar karena merasa pintar, sering terlelap di kelas, dan tidak bisa menghormati guru.
                Dalam hal ini, orang yang paling baik tentu adalah mereka yang duduk di kelas atas, dan juga memiliki sifat-sifat dan kebiasaan positif yang terimplenentasi dalam kegiatan dan akhlaknya dalam kehidupan sehari-hari. sebaliknya, orang yang paling buruk adalah orang yang belum cukup duduk di kelas bawah, malas dan tidak mau belajar pula.

                Menghadapi itu, saya selalu berpesan kepada murid-murid saya di akhir sesi mengajar bahwa perbedaan kelas bukanlah sekat untuk berprestasi, bukan tidak mungkin seseorang yang duduk di kelas bawah bisa mengalahkan teman-teman lain yang duduk di kelas atas. Semuanya bergantung pada bagaimana cara mereka mengelola potensi diri masing-masing.

                Tapi yang lebih penting, apabila mereka tidak bisa menjadi fasl fauq dalam hal akademis, setidaknya mereka harus fasl fauq dalam akhlak dan adab.

Hari yang Berat Untuk Para Orang Tua

Hari Ahad, 9 Juli 2017, hari ketika hasil ujian masuk KMI diumumkan. Untuk pertama kalinya, anak-anak kecil yang merasa, atau dianggap dirinya cukup jagoan untuk belajar di Gontor, harus belajar banyak tentang kenyataan yang sering kali harus jauh dari apa yang untuk kurun waktu panjang, telah diharap-harapkan.
Kebetulan, di hari Ahad saya hanya memiliki satu jadwal mengajar materi matematika kelas 1 yang belum memiliki murid, sehingga otomatis menjadi kosong, dan jadwal untuk mengecek keadaan asrama anak baru, yang otomatis juga belum dihuni karena penghuninya sedang mendengarkan nasib mereka dibacalan satu-persatu.
Sungguh, saya tidak kasihan sama sekali dengan para calon pelajar itu. Fokus saya ketika keluar kamar pagi ini bukan tertuju pada 2800-an calon murid yang sedang duduk di bawah terop, yang dengan seksama, serius mendengarkan satu-persatu nomor ujian yang lulus dibacakan. Sekalipun mereka harus berkipas-kipas dengan buku tulis untuk menciptakan angin buatan agar tidak kepanasan. Meskipun mereka harus melipat lengan baju dan membuka kopiah agar keringat tidak membasahi keduanya, dan sekalipun mereka harus duduk diatas bangku kayu berdesak-desakan karena jumlah calon pelajar tahun ini banyak sekali. Sungguh tidak. Mereka memang pantas mendapatkan itu sebagai gambaran betapa susahnya kehidupan yang akan mereka hadapi ketika sudah diterima menjadi santri Gontor nanti.

Tapi mata saya tidak betah berlama-lama menyaksikan bagaimana para sosok yang cemas luar biasa pagi itu. Ketika saya menyempatkan diri berkeliling di antara mereka, dari raut-raut wajah yang saya lihat, saya bisa merasakan energi cinta yang luar biasa. Khusus pagi itu, cinta mereka disajikan dalam bentuk rasa khawatir setengah mati. Apakah para anak yang selama ini telah mereka usahakan kelayakan hidupnya berhasil lulus menjadi santri gontor, atau tidak.
Saya paham betul bahwa pikiran mereka pagi itu sesak sekali. Jika anaknya lulus, bahagia memang, senang memang, tapi kemudian mereka harus kembali berpikir keras bagaimana caranya agar anak mereka dapat menyelesaikan studi di Gontor dengan lancar. Secara finansial ataupun dukungan moral. Apalagi jika tidak lulus, tentu mereka harus kembali mencarikan sekolah yang tepat demi masa depan anak-anak mereka.
Mereka adalah para wali murid, alias para orang tua yang menunggui anaknya. Mengantarkan dan mendukung buah hatinya untuk mendapatkan pendidikan terbaik dari tempat terbaik pula. Merekalah yang selama beberapa pekan terakhir, membuat pondok terasa lebih ramai, dan lebih mengharukan. Sekali lagi sungguh, yang saya maksud dengan mengharukan bukanlah karena mobil para orang tua itu, membuat para santri harus kehilangan lapangan untuk bermain bola selama beberapa hari. Bukan juga karena saya harus ekstra hati-hati ketika bersepeda ria karena jalanan di kawasan pondok menjadi lebih sempit. Tapi karena saya tidak tahan menyaksikan drama pahit kehidupan yang harus mereka mainkan, secara suka rela.
Hingga hari pengumuman kelulusan ujian masuk KMI itu, mereka dalam keadaan yang berbeda-beda. Ada yang sengaja datang untuk menyaksikan yudisium kelulusan itu, ada yang belum pulang sejak libur hari raya, bahkan tidak sedikit pula yang telah tinggal di Gontor bersama anaknya sejak bulan puasa.
Mereka yang harus menunggui anaknya, tapi kehabisan ruang untuk beristirahat, bahkan setelah ruang kuliah di Gedung Rabitah dialihfungsikan menjadi ruang penerimaan tamu. Jangankan Wisma Darussalam, hotel Amaris yang ada di Ponorogo saja penuh ketika momen ujian tulis calon pelajar bersamaan dengan pembukaan tahun ajaran baru. Mencari tempat kosong yang lebih jauh, sungguh tidak mungkin. Hanya akan merepotkan diri sendiri. Alhasil, para orang tua itu harus rela bermalam di teras-teras gedung pondok, menggelar tikar, dan melindungi diri dari tusukan udara dingin malam hari.
Namun itu belum seberapa, yang lebih menyakitkan—namun tidak pernah diungkapkan—sebenarnya adalah ketika para anak itu merajuk. Memberontak dan meminta agar niatan menyekolahkan dirinya di pondok itu dibatalkan saja. Anak-anak yang masih polos itu mengangis di hadapan orang tuanya, menyampaikan keluh kesah yang sebenarnya tidak penting. Menyuarakan bahwa mereka tidak ingin jauh dari orang tua. Sementara di balik itu, mereka tidak tahu bahwa sebenarnya para orang tua itulah yang lebih sedih, mereka jugalah yang sebenarnya lebih tidak ingin berpisah dengan anak-anaknya. Tapi menyekolahkan anak di Gontor itu adalah salah satu pilihan yang tepat untuk menyiapkan mereka menghadapi masa depan.
Pemandangan seperti itu, yang saya saksikan dengan mata kepala dan mata hati secara langsung selama bertahun-tahun, membuat saya selalu tidak sampai hati, jika harus merepotkan orang tua. Dan memaksa saya untuk segera bisa mandiri. Secara ekonomi maupun kepribadian.
Kepada para wali murid yang niatnya tulus untuk memberikan semua hal terbaik untuk anak-anaknya, saya berharap semoga Allah sajalah memberikan balasan terbaik untuk semua usaha yang telah dilakukan. Karena sungguh, jika hanya mengharap prestasi anak-anak, anda akan kecewa. Tapi jika mengharap ridho dari Allah Swt, sesungguhnya dialah yang Maha Adil lagi Bijaksana.
Sebagai Penghibur, baik untuk yang tidak lulus ataupun lulus di kampus yang tidak diharapkan, saya sampaikan bahwa ketika sesuatu tidak berjalan sebagaimana yang kita rencanakan, sesungguhnya Allah sedang mempersiapkan kita untuk suatu hal yang lebih besar dan penting.

Hilang



Hilang /hi-lang/  1 tidak ada lagi; lenyap; tidak kelihatan 2 tidak ada lagi perasaan 3 tidak dikenang lagi; tidak diingat lagi, lenyap
Hilang, sebuah kata sederhana dalam bahasa Indonesia dengan dua suku kata dan 6 aksara. Sangat sederhana. Sesederhana bagaimana Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikan maknanya. Tapi sering kali, sebuah kata yang seharusnya juga hanya memberikan konsekuensi sederhana itu justru membuat kita, atau minimal saya, kacau.
Apa perasaanmu ketika sesuatu hilang? Bagaimana jika suatu hal itu amat sangat penting? Bagaimana jika suatu hal tersebut pernah menjadi pemompa semangatmu yang menghilangkan bosan? Bagaimana jika suatu hal tersebut telah membuatmu menatap masa depan lebih terang dan berarti?
Bagaimana Perasaanmu?
Atau kita balik.
Bagaimana perasaanmu jika kamu menghilang? Bagaimana jika kamu adalah suatu hal yang amat sangat penting bagi suatu hal yang lain? Bagaimana jika ternyata, selain penting, kamu juga merupakan suatu hal yang telah membuat suatu hal yang lain menatap masa depannya lebih terang dan berarti?
Pasti menimbulkan sensasi kesepian di tengah keramaian, membuatmu kehilangan motivasi yang sedianya menggerakkan tubuhmu beraktifitas. Selama berhari-hari.  Membuat seakan-akan ada suatu benda tak kasat mata di relung dada yang sedianya luas menjadi sempit, sesak, dan tidak muat disambangi teman bernama senang. Selama berpekan-pekan.Singkat kata,
kita merasa sedih.
Lantas apakah ketika menghilang, kita merasakan hal yang sama?
Di anak tangga yang ketujuh belas ini, ada banyak momen kehilangan yang pernah bersambang. Sungguh berbagai macam benda-benda yang jadi subyeknya. Nilainya juga beragam. Seberapa penting bendanya juga tak sama.
Menyaksikan mamak berpulang adalah kehilangan. Berpisah dengan teman-teman di bangku sekolah dasar adalah sebuah kehilangan. Memulai sekolah di luar kota adalah kehilangan. Dinonaktifkan dari organisasi adalah kehilangan. Diwisuda dari alma mater adalah kehilangan. Kecopetan Handphone di Busway adalah kehilangan. Kehabisan sandal setelah perkumpulan wajib kelas 6 adalah kehilangan.
Dari hilangnya begitu banyak benda, baik abstrak maupun kongkrit, bersama rasa dan bekas yang tertinggal setelahnya, ternyata kita, atau minimal saya, ternyata bisa mempelajari hal penting yang ternyata sama.
Bahwa setiap kehilangan, mendalamkan pemahaman kita tentang kefanaan, tentang tiadanya keabadian pada benda-benda yang diciptakan. Tapi yang lebih penting, dengan kehilangan, dan rasa sedih yang mengikutinya, kita belajar bahwa tiada penyakit tanpa obat.
Termasuk sakit hati.
Pasti ada cara untuk mengobatinya. Sesakit apapun rasanya. Seberharga apapun subyeknya. Seberapa cerahpun masa depan yang seolah-olah telah terjanjikan bersamanya.
Mengutip sebuah tulisan dari Raditya Dika, Sakit hati yang kita rasakan, memberikan sensasi bahwa kita adalah makhluk hidup yang punya hati dan merasa, bukan batu yang tak mampu berbuat apa-apa. Jadi nikmatilah kehilangan yang kau rasakan.
Selamat malam yang telah hilang. Pasti ada jalan yang lebih menyenangkan.

Untuk kita masing-masing


[Berharap]

Ketika kenyataan, tidak berjalan sesuai dengan apa yang kita inginkan, itu sudah terlalu biasa. Dan ketika seorang anak laki-laki remaja tidak berani menghadapi kenyataan yang tampaknya menyakitkan, itu terlalu cemen
“Kamu mau jadi bagian apa?” Tanya wali kelas kami—5B—kepada murid-muridnya pada sebuah kesempatan mengajar.
Jawaban pun beragam. Bermacam-macam sesuai dengan keinginan masing-masing.
Ketika itu, setelah Panitia Perganrian Pengurus Organisasi Pelajar Pondok Modern & Koordinator (P3O & P3K) telah diangkat dan mulai bekerja, suasana pondok menhadi panas sekali. Bukan karena musim kemarau yang semakin memuncak, melaninkan karena itu berarti, tidak lamalagi kepengurusan organisasi pelajar yang sebelumnya di[egang oleh siswa kelas 6, akan segera bepindah tangan ke siswa kelas 5.
Serah terima pengurus itu berarti banyak. Berarti tidak ada lagi kumpul kamis malam di depan kantor keamanan. Berarti tauqi’ subuh dan 4 waktu shalat lainnya ada di pengasuhan santri, berarti mulai menjadi pengajar pelajaran sore, berarti mulai menjadi motor penggerak dinamika kehidupan pondok.
­­­kembali ke pertanyaan tadi, aku perlu sedikit waktu untuk memutuskan jawaban apa yang akan kukeluarkan. Karena suara pencalonan wali kelas akan berbobot sangat berat.

Jawaban versi jujur, aku ingin merasakan semua bagian organisasi besar tersebut. Karen kau adalah salah satu orang yang paling percaya bahwa segala bentuk pendidikan di setiap jengkal tanah pondok ini. Adalah bekal masa depan.
Salah satu bagian yang paling aku inginkan adalah koperasi pelajar. Menurutku, pilihan ini muncul dari separuh hati yang menginginkanaku menjadi entrepreneus. Aku memang selalu berpikir begitu, membuat brand local yang hasil keuntungannya digunakan untuk mendukung fasilitas pendidikan anak-anak muda di Indonesia. Sayangnya, aku merasa tidak ada darah pengusaha yang mengalir dalam urat nadiku. Maka aku harus membuat gen pengusahaku sendiri.
Lantas kenapa koperasi pelajar? Karena bagian itulah yang menjadi pusat membeli segala macam kebutuhan siswa sekolah ini. Dengan terbagi menjadi 3 stand; pakaian, bukju, dan makanan, dalam satu tahun, jumlah sirkulasi di bagian tersebut bisa mencapai 6 hingga 7 miliar rupiah. Jumlah yang sangar fantastis untuk ukuran siswa kelas 2 SMA.
Kedua. Aku inin diangkat menjadi bagian penerangan. Selain karena ilmu sound system yang mahal, alas an lain yang menguatkan hatiku adalah, bagian penerangan merupakan sebuah tiket emas untuk menjadi penyiar Suara Gontor. Pikiran yang ini, muncul dari bagian hati lain yang bercita-cita menjadi penyiar radio penyiar radio, sebuah cita-cita ourba milikku. Bahkan sebelum aku berpikiran untuk menjadi penulis.
Dengan segala bentuk keyakinan, aku menjawab pertanyaan itu dengan…
“Bagian Penerangan, Ustadz..”
Yang kemudian dibalas dengan cie-cie oleh anak-anak
Dan memang selalu begitu. Jauh bara dari panggang, kenyataan, sekali lagi, terkadang sangat jauh dari apa aygn kita harapkan.
Ketika malam pengukuhan calon pengurus baru OPPM dating, jawaban yang aku berikan kepada wali kelas ternyata tidak dikabulkan. Karena ternyata, aku justru di tempatkan di Bagian Penggerak Bahasa Pusat. Bahkan parahnya, sebagai seorang ketua. Padahal bagian itu adalah bagian yang, terus terang saja, ingin kuhindari. Jikamelihat track recordku sebagai seorang penggerak bahasa rayon pun, itu sungguh tidak masuk akal. Aku malas. Aku jarang mengikuti perkumpulan wajib, aku tidak pernah menyelesaikan kewajiban. Ku piker, semua bentuk kebangsatan itu cukup untuk membuat mereka enggan mencalonkanku menjadi bagian penggerak bahasa.
Namun begitulah kenyataan. Mungkin ini adalah hukuman, mungkin juga ini adalah pembuktian dari sebuah kalimat yang sangat aku percayai bahwa, Tuhan tidak memberi apa yang kita mau, tetapi Ia selalu memberi apa yang kita inginkan.
Dan dalam posisiku sebagai seorang ketua, aku tidak boleh menyesal diangkat menjadi bagian ini. Justru akulah orang yang seharusnya pertama kali menguatkan anggota-anggotaku.
Setidaknya aku pernah berjanji, bahwa jadi bagian apapun aku nanti, aku akan membuatnya terasa seperti keluarga. Mungkin inilah waktu untuk membuktikan itu. Bismillah!.

SU! Buh.

Sebelum matahari terbit. Ketika malam sampai pada penghujungnya, dan saat cahaya putih redup pertama kali muncul di ufuk timur. Pada waktu bernama subuh itulah, kaum santri seperti kami punya banyak cerita dan perasaan.
Subuh di Gontor, dimulai oleh para alim saleh bersarung, dengan jas hijau kebanggan mereka, dan peci beludru hitam legam. Mereka adalah para Qori’ yang pertama kali bangun. Saat suasana pondok masih sunyi, bahkan ketuka para ayam jantan pun masih terlelap dalam mimpi.
Tugas mulia yang mereka embank adlah, mengumandangkan bacaan Al-Qur’an melalui toa-toa menara masjid. Dengan bacaan ayat suci Al-Qur’an itu, maka resmilah waktu subuh dimulai.
Setelah para Qori’, giliran tugas piket malam pengurus rayon untuk membangunkan kelas 5 yang lain. Bagian paling tidak menyenangkan pada waktu subuh bagi para kelas 5 adalah, ketika mereka harus berlarian ke kantor Bagian Keamanan Pusat untuk membubuhkan tanda tangan pada daftar hadir sebagai bukti ‘sudah bangun’.
Bukti ‘sudah bangun’ itu memiliki julukan tauqi’ Subuh. Berungunt bagi yang tinggal di sekitar kantor Bagian tersebut.  Lain cerita bagi yang asramanya berjauhan. Bagian menyakitkan lain adalah ketika sudah berlarian jauh dengan mengenakan pakaian shalat plus jas, berkeringat, dan begitu sampai di tempat, daftar hadirnya sudah diambil. Apalagi jika diambil di depan mata.
Setelah itu, para pengurus akan kembali ke rayon masing-masing untuk membangunkan anggota asramanya. Dan pondok pun akan segera ramai.
Para anggota akan segera berwudhu, kemudian membaca Al-Qur’an atau sekedar membaca buku pelajaran untuk menanti adzan. Betapa indahnya subuh di Gontor. Tapi itu hanyalah sekelumit cerita mainstream anggota. Untuk kami, siswa kelas 5, ada berbagai perasaan dan pengalaman yang terjadi ketika subuh.
Pertama adalah lelah, ketika harus tidur lebih dari pukul 12 malam—itupun jika beruntung— untuk menyelesaikan berbagai macam pekerjaan, tetapi harus bangun pada waktu yang sama, 03.00. untuk satu tujuan yang sama, Tauqi’ Subuh.
Kedua adalah bahagia. Karena ketika membimbing anggota membaca Al-Qur’an, itu adalah waktu yang seru untuk bermain air dengan mereka yang mengantuk.
Selanjutnya adalah marah. Perasaan special yang satu ini muncul setelah pulang dari kantor keamanan, kemudia sebagai konsekuensi dari rasa kantuk yang luar biasa, beberapa kelas 5 nakal—dengan segala usaha dan cara mereka— bisa saja melanjutkan tidur di kamar pengurus.
Tetap, biasanya bagian keamanan yang berkeliling ke asrama—termasuk ke kamar-kamar pengurus rayon— lebih pintar untuk menemukan tempat mereka bersembunyi. Adaadegan ketahuan tidur itulah, seember penuh air tiba-tiba jatuh dari langit-langit kamar. Tanpa sempat melihat siapa yang sengaja melemparkannya,
Dan terakhir, satu perasaan yang paling indah, sekaligus paling sering dilupakan adalah bersyuku. Betapa beruntungnya kita masih sempat membuka mata di pagi hari. Terbangun oleh bacaan Al-Qur’an. Untuk kemudian memulai hari dengan shalat subuh sebagai ungkapan rasa syukur tak terhingga kepada sang Maha Esa. Bagaimana kalau esok, kita tidak bisa membuka mata lagi, bagaimana kalau esok, kita justru terbagun oleh suara pertanyaan malaikat di dalam kibir. Betapa ngeri membayangkan itu.
Yang lebih spesial adalah, membuka mata, hari yang baru, berarti adalah kesempatan baru untuk memperbaiki hidup. Memperbaiki akhir dari perjalanan super panjang yang ekstra melelahkan ini.

‘Early To Bed, early To Rise, Makes me Health, Wealth, and Wise’